Begini Ceritanya “Bukit Teletubbies” Jadi Ramai

Dari fenomena bukit Teletubbies—kendati namanya bisa diperdebatkan, kita bisa mengamati bagaimana masyarakat Labuan Bajo dan sekitarnya kian menjelma menjadi insan pariwisata dan kini sedang lelah luar biasa karena covid-19.

Bukit Teletubbies tiba-tiba saja menjadi ramai dibicarakan pada hari Minggu, 7 Juni 2020. Pasalnya, bukit yang terletak ke arah selatan sejauh belasan kilometer dari kota Labuan Bajo itu menjadi ramai dikunjungi warga Labuan Bajo dan sekitarnya. Mereka duduk bergroup dan bersama keluarga di atas rumput yang hijau sembari memandangi lanskape di ujung Barat Pulau Flores tersebut.

Barangkali bentuk bukit di Kampung Lemes, Desa Macang Tanggar, kecamatan komodo ini menyerupai bukit-bukit kecil yang indah  di film teletubbies yang membuatnya diberi nama tersebut. Teletubbies adalah film anak-anak yang ditayangkan pada 1997 hingga 2001 dan kemudian ditayangkan lagi pada tahun 2014-2015. Kemungkinan yang memberikan nama berasal dari generasi ini.

Persoalannya karena kita tengah menghadapi covid-19. Apalagi kabupaten Manggarai Barat, dengan Labuan Bajo sebagai ibukotanya, adalah salah satu zona merah penyebaran covid-19. Seperti yang dikhawatirkan banyak orang, kerumunan pengunjung pada hari minggu itu, jangan sampai menjadi malapetaka, yakni adanya klaster Teletubbies.

Tapi sebelum kekhawatiran itu berlebihan atau sebaliknya menjadi nyata, mari kita pahami warga Labuan Bajo dan sekitarnya atau Manggarai Barat pada umumnya.

Warga Labuan Bajo dan sekitarnya telah menjelma menjadi turis.  Namun kita adalah turis yang nomaden. Kita berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Setelah sekian tahun ramai dikunjungi wisatawan, kita juga beradaptasi dengan apa yang dinikmati wisatawan di atas alam kita. Kita berhak menikmati keindahan alam kita sendiri. Kendati sehari-hari kita dekat dengan alam kita, namun sesekali kita melihatnya dari sudut pandang seorang yang sedang berlibur dan menikmati keindahan alam.  Kita mengambil jarak sejenak.

Namun, itulah persoalannya. Tempat kita berlibur bersama keluarga yang relatif murah dan terjangkau, selalu terganggu dan diincar oleh orang yang punya modal. Dulunya pantai Pede menjadi tempat liburan massal. Namun, sejak privatisasi dan pagar seng, akses warga dibatasi untuk menikmati pantai.

Kita akhirnya menjadi turis yang terus berpindah-pindah.  Pesisir utara yang belum diprivatisasi menjadi incaran banyak keluarga dan orang-orang muda menghabiskan waktu pada hari minggu atau hari Libur. Pantai Klumpang adalah contohnya. Tempat tersebut menjadi tempat baru merayakan liburan. Namun, kita tahu semuanya menunggu waktu untuk dibatasi.

Apalagi, kita bukan turis yang tak punya selera.  Ketika suatu tempat semakin ramai, kita mencari yang lebih unik dan eksklusif. Kita ingin merasakan suatu keistimewaan.

Keistimewaan itu tidak melulu bergantung pada uang. Bagi kita orang lokal, keistimewaan itu diperoleh karena kita yang lebih mengetahui tempat-tempat indah di sekitar kita dan berbagi informasi kepada satu sama lain.

Tak heran, Bukit Teletubbies yang letaknya lumayan jauh dari kota Labuan Bajo dalam sekejab sudah diketahui banyak orang. Tempat yang sebelumnya sepi dan terisolasi tersebut menjadi mudah dijangkau berkat jalan yang sudah dibuka ke arah selatan Labuan Bajo.

Sayangnya, pada hari minggu itu, kita berpikiran sama di waktu yang sama. Covid-19 yang saban hari telah melelahkan kita semua. Di satu sisi, jiwa turis kita memberontak sejak Maret lalu dimana lockdown terjadi dimana-mana. Di sisi lain, kita mencari tempat yang kita kira sepi dan tak ada orang.

“Yuk, kita ke bukit telletubbies, kayaknya sepi di sana. Di sana lebih aman.” Jika seribu orang yang berpikiran demikian di waktu bersamaan, tentu tempat itu tidak lagi menjadi tempat sepi.

Karena itu, sebelum terlampau dinilai negatif, alangkah baiknya pemerintah melihat fenomena ini sebagai bentuk pencapaian. Indikator pembangunan di bidang pariwisata bukan hanya meningkatnya jumlah wisatawan, tetapi juga seberapa jauh masyarakat kita mencintai dan menghidupi pariwisata.

Sebab, tanpa kita sadari kita bukan saja tuan rumah bagi wisatawan, melainkan juga telah menjelma menjadi turis di tanah kita sendiri. Kita butuh tempat liburan yang disediakan dan dikelolah baik untuk kita.  Kita tidak ingin juga menjadi turis yang nomaden terus dari waktu ke waktu.

Apalagi, turis yang kita harapkan dari negara-negara Barat yang membawa dollar, kini bukan hanya berurusan dengan covid-19 tetapi juga masalah rasisme yang belum kelar-kelar dari abad lalu. Sementara kita adalah turis yang masih “pucuk”.

Kita barangkali belum ada uang untuk satu sama lain, tetapi memiliki cerita untuk berbagi satu sama lain di alam kita sendiri di tengah corona ini. (GA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BACA JUGA