Di Masa Covid-19, Tidur Adalah Usaha yang Tidak Mudah

Kendati tidur semakin bernilai di masa covid-19 ini, tidur menjadi usaha yang tidak mudah.

Untuk pertama kalinya, saya merasakan susah tidur.  Saya baru pergi tidur jam 2 pagi dan selalu bangun sekitar jam 5 pagi.

Kebanyakan saya terbangun juga karena mimpi buruk. Suatu kali, misalnya, saya bermimpi dicengkram oleh seorang pemuda. Saya tidak berdaya. Kontan saya bangun. Usaha tidur setelahnya ternyata tidak bisa. Saya berkeringat.

Setelahnya, mimpi buruk malahan semakin sering terjadi.

Padahal, saya  pada dasarnya suka tidur. Dulunya, tidur adalah hal yang paling mudah bagi saya. Dimana saja dan kapan saja.

Saya paling mudah ngantuk kalau lagi mendengarkan orang lain. Mungkin itulah yang membuat saya ‘benci” kuliah yang seringkali monoton dan penuh dengan ceramah.

Saya seringkali jatuh tertidur kendati sudah berupaya sekuat mungkin. “Yang penting jangan ngorok,” kata pengajar suatu ketika karena mulai bersimpati.

Tadinya, saya berpikir, pandemi covid-19 adalah kesempatan emas untuk saya.  Saya bisa menyalurkan hobby tidur sepuasnya. Seperti kata orang, tidur adalah perilaku kepahlawanan yang paling luar biasa di masa pandemi.

Sayangnya itu tidak terjadi. Malahan saya tidak bisa tidur.

Seorang teman coba mendiagnosis kenapa saya susah tidur.

“Mungkin karena kamu terlalu memikirkan corona?” katanya.

Saya sempat mengiyakan alasan itu.

Sejak corona merebak, saya menjadi overthinking. Saya takut berlebihan.  Saya mencurigai orang-orang yang saya jumpai. Saya memastikan apakah mereka telah mencuci tangan atau tidak. Apakah membawa hand sanitizer atau tidak. Apakah mereka menjalankan social distance dan karantina mandiri atau tidak.

Namun, setelah beberapa hari, saya tahu cara mengatasinya.  Saya mematikan dan meng-uninstall-semua akun media sosial saya. Saya menghapus facebook, instagram, dan twitter. Saya menghindar dari semua berita tentang covid-19.

Saya menyadari bahwa konsumsi berlebihan informasi membawa ketakutan yang tidak wajar.

Hasilnya sungguh dirasakan. Saya menjadi lebih tenang. meskipun saya tetap mawas saja. Saya melakukan olahraga secukupnya dan membaca buku.

Tapi, saya  tetap tidak bisa tidur.  Saya tetap tidur pada sekitar pukul 02.00 atau 03.00 dini hari.

Saya menjadi uring-uringan dan  gelisah ketika pada jam-jam itu tidak bisa tidur.

Padahal, beberapa kali saya sudah menempuh beberapa cara yang berbeda.  Saya tidur lebih awal, mencoba olahraga seberat mungkin pada sore hari, dan makan yang banyak.

Beberapa cara yang luar biasa pun saya ikuti dari petunjuk internet seperti meditasi.

Pada akhirnya, pada suatu malam, saya tetap tidak bisa tidur. Lalu, saya duduk. Saya memandang tempat tidur dalam-dalam. Saya membiarkan ketenangan melingkupi saya. Apa sebenarnya yang terjadi?

Saya bertanya pada diri sendiri,  mengapa saya tidak bisa tidur? Mengapa tidur yang begitu mudah menjadi begitu sulit?

Tiba-tiba, berkecamuk dalam pikiran saya, tentang pekerjaan, bayaran angsuran kredit, persediaan makan minum untuk esok harinya, dan apa yang mungkin saya masih bisa kerjakan setelah corona berakhir.

“tok…tok!” suara itu mengejutkan. Seseorang mengetuk pintu kamar.

Kamar tampak cerah.

“Kenapa tidur sementara duduk semalaman?”.

Saya tidak bisa menjawab. Itu kali pertama saya tidur nyenyak kembali. (Aleks)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BACA JUGA