Ujian Skripsi Online, Begini Campur Aduk Perasaan Saya

0
380

ADOLF FREDERIK

Kendati sedang cemas dan khawatir, namun sebagian dari dalam diri saya seperti mengatakan saya sedang mengerjakan hal konyol. Saya bangun pagi-pagi, membersihkan kos dan mandi. Saya membereskan meja. Lalu mengecas hp dan tablet. Mengenakan kemeja, namun bercelana pendek, saya sudah siap-siap di depan tablet. Saya menantikan jam mulai ujian.

Hari itu adalah hari ujian skripsi saya.  Setelah empat tahun belajar dan bolak-balik kampus di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, saya malahan mengakhirinya di kos sendiri, tempat saya tidur dan belajar setiap hari. Ujian dilaksanakan secara online. Kos saya lumayan berantakan pada hari-hari sebelumnya, namun hari itu saya buat jauh lebih rapi.

Saya tidak pernah membayangkan akhir masa kuliah saya berlangsung secara online. Selama ini, yang online dan video call hanyalah dengan pacar, calon pacar, gebetan, dan orang tua. Beberapa bulan lalu, saya masih berpikir bahwa ujian saya akan dihadiri teman-teman. Ada yang membawa bunga. Bersalaman dan mengucapkan selamat. Ada yang datang terlambat, membawa sebungkus rokok dan sebotol anggur.  Saya juga merindukan suasana wisuda yang meriah yang dihadiri oleh keluarga dan orang tua.

Namun, semua impian dan hayalan itu sirna seketika. Covid-19 merebak di Indonesia sejak Maret lalu. Virus yang mematikan itu lantas mengubah seluruh dan serentak tatanan dan “keadaan normal” setiap harinya. Kampus tiba-tiba menghentikan semua kegiatan perkuliahan tatap muka, diganti dengan interaksi online.

Saya sendiri awalnya tidak percaya. Saya berpikir virus ini hanya terjadi di negara-negara lain dan tidak mengubah Indonesia secara dramatis. Namun, yang terjadi di Indonesia justru mengisyarakatkan suasana genting. Teman-teman terpaksa mengikuti perkuliahan hanya dengan mendownload aplikasi kelas online, kuliah dengan segelas kopi dan sebatang rokok, setiap hari mengerjakan tugas, ada yang melewati kelas begitu saja dan masuk di akhir sesi untuk absen online.

Sementara itu, saya sendiri lebih banyak mempersiapkan skrispsi secara online.  Bukan karena covid, tetapi karena kesibukan dosen sehingga kami melakukan bimbingan secara online. Keuntungannya, secara tidak langsung, saya dipersiapkan untuk ujian online. Sebaliknya, saya sendiri merasa tidak puas dan khawatir jika skripsi saya tidak memiliki hasil maksimal.  Lalu, setelah semuanya selesai dan disetujui dosen, saya memasukkan skripsi saya secara online pada bulan Februari.

Waktu itu, saya masih berpikir ujiannya berlangsung secara tatap muka. Kampus merespons dengan mengeluarkan jadwal ujian skripsi pada tanggal 20 Maret 2019.Kira-kira sebulan sejak saya mendaftarkan skripsi untuk disidangkan.  Selama waktu itu, saya membaca dan mengoreksi kekurangan tulisan tersebut. Untuk mengisi waktu yang banyak kosong, saya juga bekerja di kafe kenalan saya, sembari belajar bagaimana mengelola sebuah usaha dan menjadi seorang barista.

Sebulan itu rasanya lama sekali. Namun, tiba-tiba suatu hari saya mendapatkan kabar yang mencengangkan. Departemen mengirimkan pesan permohonan maaf karena departemen menunda jadwal sidang sampai waktu yang tidak ditentukan. Saya menjadi bingung, apakah saya akan selesai atau tidak.  Semua itu dikarenakan covid-19 sehingga kebijakan pemerintah mengharuskan para dosen dan civitas akademik untuk bekerja dari rumah. Hal itu berdampak pada seluruh proses pembelajaran kampus, termasuk urusan ujian skripsi.

Saya akhirnya menunggu lebih lama lagi. Waktu rasanya berjalan begitu lambat tiap harinya apalagi dalam ketidakpastian. Setiap pagi, ketika bangun tidur saya selalu membayangkan pihak departemen menjadi seorang kekasih dan membangunkan saya dengan mengucapkan selamat pagi dan menyampaikan kabar gembira. Sepulang kerja pun, saya mengharapkan ada pesan singkat dari departemen terkait jadwal ujian skripsi. Namun, selama bulan Maret, tidak ada sama sekali.

Namun suatu kali, saya akhirnya mendapat jawaban. Departemen mengirimkan pesan bahwa ujian skripsi diselenggarakan 16 april 2020. Ujian dilaksanakan berbasis online, artinya saya mempresentasikan hasil penelitian melalui aplikasi kelas online. Seketika saya membayangkan segala sesuatunya berbeda. Saya tidak hanya cemas dengan pertanyaan dosen dan isi skripsi saya, tetapi juga tetek bengek seperti sinyal, wifi, listrik, dan lain sebagainya. Siapa tahu, ujian saya gagal hanya karena hal-hal teknis tersebut.

Lucunya pula, saya sudah membaca banyak literature dan cerita di internet tentang bagaimana orang menghadapi dan menaklukan rasa takut selama ujian skripsi. Umumnya, cerita mereka adalah ujian skripsi yang disaksikan teman-teman dan terjadi debat seru antara mahasiswa dan dosen. Lalu apa yang terjadi dengan ujian online nanti? Apa yang saya harus lakukan? Apakah dosen akan menguji dan menantang isi skripsi saya?

Pada 16 April, saya sudah siap siaga di depan tablet. Saya meminjamnya dari seorang teman. Kami memakai aplikasi zoom. Waktunya hanya 40 menit. Ada tiga dosen penguji. Satunya, pembimbing skripsi, dan dua yang lain dari departemen yang sama. Ketiga penguji menanyai aktivitas saya selama covid-19 sebagai pembuka. Dan itu menenangkan perasaan saya.

Selanjutnya, ujiannya berlangsung datar. Saya melakukan presentasi selama 20 menit. Selanjutnya, ketiga penguji banyak mempersoalkan hal-hal teknis penulisan. Diskusi dan debat serius tidak terjadi. Dalam ujian tersebut, semua penguji bersepakat dan menyatakan saya lulus. Yang mengejutkan, ujian tiba-tiba berakhir karena zoom menghentikan seketika sesuai durasi yang ditetapkan.

Setelah selesai, saya merenggangkan otot. Ada perasaan tidak percaya, saya sudah selesai kuliah. Saya melihat sekeliling kamar kos. Ada perasaan haru, bagaimana kos itu tempat saya tinggal pertama kali di Jogja dan ikut juga dalam mengakhiri masa kuliah.

Lantas, saya keluar kamar dan duduk di depan kos. Tidak ada teman-teman yang datang.  Tidak ada bunga. Tidak ada teman yang membawa rokok atau anggur. Semuanya karena aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Saya bermenung. “Mungkinkah ini pertanda tidak ada juga pekerjaan yang siap menanti setelah kuliah?

Adolf Frederik adalah mahasiswa ilmu politik dan pemerintahan di Universitas Gajah Mada, Jogjakarta 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here