Sarjana: Berani untuk Pulang Kampung

OLEH: AGUST GUNADIN, Ketua Kelompok Sastra di San Camillo. Mahasiswa STFK Ledalero Semester VIII

Dalam sebuah kesempatan mengikuti wisuda, saya bertanya dengan seorang wisudawati. Bagaimana perasaanmu, ketika diwisudakan hari ini? Tanyaku dengan sapaaan akrab. Wisudawati itu menjawab, ”Di satu sisi, saya merasa bahagia. Sebab, apa yang saya dambakan selama ini, bisa tercapai. Namun, kebahagian itu masih bercampur dengan rasa takut. Bahwasannya, saya diwisudakan hari ini tetapi belum tentu di hari esok saya mendapatkan pekerjaan yang layak. Sehingga, kebahagianku tercapai apabila pekerjaan sudah saya dapatkan. Sebab, dari pekerjaan itulah saya bisa membahagiakan diri dan keluarga.” Singkat cerita, wisudawati itu belum mendapatkan kebahagian penuh.

Kasus seperti ini, sangat rentan terjadi pada calon sarjana muda. Di mana, pendidikan sarjana telah didapatkan. Namun, pekerjaan masih sangat sulit didapatkan. Padahal, semua orang mengimpikan, selesai sarjana pekerjaan langsung didapatkannya.  Tetapi, pertanyaannya ialah sampai kapan para sarjana, mendapatkan pekerjaan? Bukankah predikat sarjana membantu seseorang untuk mendapatkan atau menciptakan pekerjaan?

Di tengah menumpuknya pemegang ijazah sarjana, hanya sedikit orang yang mampu menciptakan lapangan pekerjaannya sendiri. Orang-orang tersebut, memanfaatkan pengetahuan mereka untuk mencetuskan lapangan pekerjaan. Bukan menunggu pekerjaan itu datang sendiri. Mereka berani keluar dari zona kenyamanan. Bagi mereka, ijazah sarjana hanyalah alat untuk membuka peluang  untuk menciptakan lapangan pekerjaan di tengah masyarakat. Karena, kurangnya kemampuan menciptakan lapangan pekerjaan di tengah masyarakat, banyak para sarjana enggan untuk pulang kampung. Padahal, harapan masyarakat untuk para sarjana ialah pulang untuk membangun perekonomian yang ada. Masyarakat mengharapkan adanya perubahan, ketika banyak para sarjana pulang kampung.

Dalam makna filosofis pulang kampung bagi masyarakat Manggarai-Flores, sebetulnya memiliki artian yang mendalam. Pulang kampung bagi seseorang yang barusan menyelesaikan sarjana, sangat penting dilaksanakan. Sebab, dengan pulang kampung terbersit harapan dan rasa syukur atas keberhasilan. Dengan keberhasilan sarjana yang didapatkan, baik orangtua maupun anak mendapatkan kebahagian yang tiada tara. Makanya, dalam bahasa filosofis orang Manggarai, lalong bakok du gu lakom, lalong robeng du gu kolem, ayam jantan saat bepergian, sedangkan saat pulang cukup dengan kata sukses. Maka, pulang setelah menyelesaikan sarjana penting untuk dilaksanakan, bagi masyarakat Manggarai.

Apakah Sebatas Pulang Kampung?

Idealnya, pulang kampung selesai sarjana penting untuk dilaksanakan. Dengan pulang, kita diberi jeda untuk mensyukuri rahmat kebaikan yang telah diperoleh selama masa perkuliahan. Dari sana juga, orangtua mendapatkan kebahagian bahwa ternyata perjuangan untuk membiayai gelar sarjana anaknya tidak sia-sia. Di sini, ada dua pihak yang merasa bahagia, yakni orangtua dan anaknya. Orangtua merasakan betapa pengorbanannya tidak disia-siakan oleh anaknya. Begitu juga sang anak, merasa bangga dengan orangtuanya, yakni dengan membawa pulang gelar sarjana.

Di balik semua kebahagian itu, orangtua memiliki orientasi bahwa setelah anaknya selesai sarjana, dia bisa membangun kampung. Artinya, anaknya mengenyam pendidikan dilatih untuk mendapatkan dan membuat lowongan pekerjaan. Sebab, secara harafiah arti pendidikan bertujuan untuk ke luar dari. Bila mengikuti kata keluar dari ini, sesungguhnya pendidikan mengantar orang pada suatu pembebasan cara berpikir dan bertindak. Bahwasanya, pendidikan mengantar orang dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan menjadi bisa mendapatkan pekerjaan. Sebab, esensi dari pendidikam yakni untuk menciptakan peluang, sehingga bisa survival di waktu mendatang. Kata pendidikan diartikan sebagai kata kerja, yang terus-menerus diusahakan agar mendekati pemahaman yang baik tentang kemanusian sendiri. Kemanusian perlu dilatih melalui pendidikan. Dengan pendidikan, manusia bisa mencapai tujuan hidupnya yakni kebahagian. Dalam bahasa Aristoteles “Education is means of making human beings in perfection and in their persuit of happiness” (U. H. Saidah, 2016:4). Di mana, pendidikan menjadi alat untuk membantu manusia mencapai kesempurnaan dan kebahagian dalam hidup.

Karena para sarjana adalah orang-orang yang mampu menciptakan peluang atau seseorang yang mampu membebaskan diri dari kesengsaraan hidup. Maka, seharusnya para sarjana tidak lagi merasa diri sebagai orang yang belum memiliki pekerjaan. Sebab, pekerjaan itu sendiri dibuat oleh para sarjana. Sebagaimana, harapan akan pentingnya pendidikan, yakni menciptakan peluang. Para sarjana harus memiliki pekerjaan. Seseorang yang bersarjana bukan justru memperpanjang barisan sebagai orang-orang yang mencari kerja. Di mana, pekerjaan itu diatur oleh atasan sehingga melenyapkan kreativitas seseorang. Oleh karena itu, untuk tidak melenyapkan pengetahuan yang didapatkan selama masa perkuliahan. Seharusnya, para sarjana, dituntut untuk menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif dengan melihat kesempatan dan memanfaatkan ruang yang ada.

Selain itu, menjadi kekeliruan besar, ketika para sarjana hanya mengharapkan lulusan tes CPNS sebagai tonggak untuk menghidupi kehidupan. Padahal, menjadi peluang besar ketika para sarjana menciptakan peluang dunia kerjanya sendiri. Tanpa mengharapkan teki-teki lulusan CPNS yang semakin hari-semakin diminati oleh orang banyak. Sehingga, peluang untuk lulus menjadi minim harapan.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BACA JUGA