Puisi-puisi Petrus Nandi

Memoar

Kita pernah berjumpa pada sebuah masa

saat hujan dan angin mencoba memahami

bahasa musim

dan rinai hujan begitu santai

menikam rindu dan damba yang bergejolak

kita berdua dan bersua seadanya

dan rahim kita melahirkan seribu satu dunia tanpa rupa

hingga lupa

pada detik mana semuanya bermula.

Kita pun berjalan bersama gulungan waktu

hingga tiba sebuah masa yang lain

saat takdir menjelma pengkhianat paling kejam

dan meracuni segenap kata dan puisi

yang kini berdesakan memasuki beranda buku

kenangan ini.

Puncak Scalabrini, Maret 2019.

 

Melipat Kenangan 

Bapa Pice Dali

Tanyakan padaku arti rindu

Adalah kenangan yang merintih pilu

Saat aku mengibas debu kaki

Di hadapan wajah yang dirajam bongkah-bongkah kecewa

 

Kudapati di sini malam-malam

Penuh igauan remeh temeh itu

Tentang catatan hari lalu yang pamit

Bahasa pintu hati yang masih terbuka

Bagi kenangan masa depan yang entah kapan

 

Tanyakan aku makna kata cinta

Itulah kita yang setia menyapa cerita

Rindu serupa doa yang kita lafal tanpa henti

 

Jawaban bagi takdir yang mengasingkan aku

Dari tanah engkau menyepuhku sedia kala

Kiat paling ampuh yang kutempuh hanyalah

Melipat segala kenangan di gubuk sukma.

Puncak Scalabrini, Januari 2020.

 

Suatu pagi di Pelabuhan Bolok  

Kita telah menghabiskan ribuan detik

Memandang kapal berlayar ke laut dalam

Ada yang tak hendak kau relakan

Sementara anak-anak nelayan di samping kita

Dengan enteng memandang duka ini sebatas lelucon kecil

Yang mengantar mereka menaiki perahunya

 

Sejak subuh engkau melepas genangan air mata

Dan aku sibuk menyeka wajahmu

Meski kutahu itu sia-sia

Sebab bahkan kata-kata hiburan ini

Kau anggap seperti basa-basi saja

 

Kau rupanya telah sungguh mengerti arti kehilangan

Saat kau tak sanggup mengucapkan ‘selamat jalan’

Bagi orang yang kau cinta

Dan aku mengerti candu cinta yang merenggut kebebasanmu

Hingga kau sembunyikan tawa dan ria

Hanya agar aku paham

Kau benar-benar dimabuk cintanya

 

Dan aku paham juga

Tak ada tempat bagi orang yang hanya mengagumi

Tanpa sepatah bicara

 

Kapal kian tak tampak lagi

Dan aku mulai sibuk memungut siasatku

Bila kelak aku terlanjur dianggap ‘pecundang cinta’

Karena sesungguhnya aku sedang diam-diam

Mengagumimu.

Kupang, Desember 2015.

 

The End of The Day 

Malam kembali memungut

Segumpal jejak yang lelah

Ditiduri mentari sebelum ia pamit

 

Dengan tenang kusaksikan sendiri

Raga terpental pada butir-butir waktu

Temui nikmat di sudut-sudut hening dan gaduh

 

Dan aku tersipu malu

Lalu kuajak ia menutup kisahnya

Lembah Karmel, Januari 2020.

 

Sajak Penghabisan

Tuhan

Jikalau mungkin mentari esok pagi

Tak hendak menyapa

Saat kubuka mata ini

Jangan relakan dunia menjemputku dini

Katup lagi mataku

Bawa saja daku kembali

Ke keheningan yang abadi.

Lembah Karmel, Januari 2020.

 

Petrus Nandi lahir di Pantar-Manggarai Timur 30 Juli 1997. Saat ini sedang menyelesaikan studi filsafat pada STFK Ledalero-Maumere, tinggal di Biara Scalabrinian Maumere.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BACA JUGA