(Cerpen) Aku Merindukanmu, Tidak Lebih

OLEH: RIAN TAP 

Risau yang kerap datang. Kata-kata yang berlompatan, mencari tempat singgah dalam kalimat rindu.
Semua genang dalam bayang angan,
Bukankah rindu sudah tiba, aahhh..itu hanya rindu sekadar.

Ya, Kamu pasti sudah lupa . Dulu kita sering bersama layaknya pasangan kekasih. Kita romantis, lebih romantis dari pasangan kekasih mana pun, bahkan dari pasangan Romeo dan Juliet yang legendaris itu. Pokoknya hampir sama dengan kisah dan cerita dalam drama korea yang terpopuler bagi kaum millenialis sekarang. Kita sering bermengayun langkah menuju gereja untuk berdoa  bagi masa depan kita masing. Kerap kali kita melakukan diskusi , dari hal sepele hingga yang paling penting.

Tak jarang dalam diskusi itu terjadi perang urat nadi. Sesuatu yang lumrah dalam diskusi. “Tapi yang ini berbeda, sungguh memacu adrenalin,” katamu. “Aku ingin melihat ekspresimu ketika berdiskusi, melihat ranum bibirmu yang belum layak untuk melayat dunia.” Berulangkali kamu ucapkan itu. Tapi itu dulu, dulu sekali. Sebelum kamu menjadi orang penting, sebelum kamu mengenal banyak orang-orang hebat.

***

Dulu, kamu sering bilang, “Aku nyaman denganmu. Kamu itu berbeda dari yang lain. bersamamu hatiku damai, sedamai embun di bibir rerumputan. Bersamamu hatiku tenang, setenang karang di lautan.” Ini adalah gombalan klasik yang sering kau suguh disaat kita ada bersama. Aku cukup bahagia waktu itu, karena ada perempuan hebat dan cantik jelita namun sederhana, merasa nyaman denganku. Ah, sungguh hatiku terbang berasa ke awan.

Dulu, kita rajin berbalas pesan via SMS (karena masih belum ada WA, facebook pun masih jarang kita gunakan, sebab keterbatasan jaringan untuk sampai kekampungmu). Bahkan jika aku tak berkabar, kamu lebih dulu menanyai kabarku. Sungguh, aku merasa dekat denganmu, bahkan lebih dekat dari urat nadiku. Kamu pun begitu. “Kamu laki-laki yang paling dekat denganku,” katamu, dulu.

“Di antara kita sudah terbangun keintiman rasa, sehingga membicarakan apa pun denganmu selalu nyaman. Tidak seperti kepada yang lain.

“Teman-teman lelaki yang lain tidak sepertimu. Mereka suka cari-cari perhatian dan kedekatan, yang terjadi cenderung dibuat-buat. Iya, dibuat-buat, aku merasakan itu. Pokoknya kamu is the best.” Katamu.

Satu hal yang tak dapat aku hapus dari ingatan, dulu kamu suka memanggilku Master of ‘wonchar’. Meski sering kali aku kesal dipanggil dengan panggilan itu, tapi aku senang juga, karena ada keakraban yang terbangun di antara kita. Harus kuakui, aku sering merayumu, sering memujimu tapi tidak memujamu. Itu dulu, mungkin kamu tidak akan ingat itu.

Angin begitu lembut menyapaku, mengalirkan sejuk ke seluruh dada. Sedangkan kawanan burung pipit sudah mulai menari-nari di kuncup batang pohon padi, berdendang menyanyikan lagu-lagu kemenangan atas datangnya pagi. Ya, hari sudah pagi. Di ufuk timur, mentari mulai menyunggingkan bibirnya dengan senyum merekah.

***

Aku masih sibuk membuka lembaran-lembaran ingatan tentang dirimu. Lembaran yang dulu aku kubur bersama mimpi yang belum terselesaikan. Sesekali kupandangi hamparan padi yang sudah mulai menguning, sekuning ingatanmu padaku. Kini kamu tak lagi mengingatku. Kau tak sudi lagi menanyai kabarku seperti dahulu kala. Apalagi mau bicara panjang dan berdiskusi. Tidak lagi. Aku mengirimkan pesan pun, kamu menjawabnya singkat, sesingkat petir menghantam tiang listrik di ujung jalan setapak itu. Aku yang seperti tersengat aliran listrik, hanya berpikir, sepertinya kamu tak lagi nyaman denganku.

Dekat, nyaman dan  keintiman rasa, kosa kata itu sepertinya sudah kau hapus dalam kamusmu. Pantas kau abaikanku. Dulu kamu pernah merasa bahwa aku menduakanmu, meski aku tidak pernah menduakanmu dengan siapa pun, termasuk dengan dia. Kini aku yang merasa bahwa kau telah membunuhku atau aku sendiri yang merasa terbunuh di tengah-tengah teman barumu atau teman terdekatmu yang baru.

Tak terasa, matahari sudah mulai menyegat panas. Tapi tak sepanas ketika kau abaikanku. Ah, tak apalah kau abaikanku. Memang begitulah yang namanya hati, mudah berubah dan suka berbalik ke lain hati. Pagi bilang nyaman, sore bilang tidak. Siang bilang cinta, malam bilang benci dan subuh bilang aku rindu.

***

Baik, jika kamu memilih abaikanku, aku tidak bisa memaksamu untuk dekat denganku atau merasa dekat denganku, karena aku bukan Tuhan, yang dengan kuasanya mampu mengubah setiap hati yang diinginkan. Tidak ada yang bisa mengubah hati kecuali hati itu sendiri. Kubiarkan kau terus abaikanku, hingga kau tak lagi merasa bahwa pernah ada aku yang selalu dekat denganmu, bukan mendekatimu.

Jangankan abaikanku, membunuhku dari ingatanmu pun aku rela. Supaya kamu sadar bahwa aku tak seegois yang kamu pikirkan. Buktinya, aku tak pernah memaksa dan mengatur-ngatur hidupmu, sebagaimana kau sangkakan padaku. Hatiku perih bila disangka bahwa aku suka mengawasimu atau menguntit setiap gerak-gerikmu, seperih lidah bila tergores sembilu.

Dituduh menganggu orang terdekat itu lebih perih daripada dituduh makar kepada Pak Jokwi, lho. Iya, hati siapa yang tidak perih bila dituduh demikian. Tuhan pun akan menjerit pilu, bila kau tuduh dia mengawasimu dan mengatur segala urusanmu atau dituduh telah merebut kemerdekaanmu.

***

Berhentilah menuduhku, karena aku sudah menjauh darimu, sejauh yang kamu inginkan. Sejauh embun meninggalkan siang. Jika mendekatimu kau merasa terganggu, mungkin dengan cara menjauh aku bisa membahagiakanmu. Aku hanya akan mengingatkanmu, bahwa kita punya cerita yang panjang. Tidak lebih.

Aku  hanya membayangkan kebahagian atas cara liarmu. Aku mencoba merekayasa kenyataan dengan lukisan khayalanku yang menyenangkan. Aku membayangkan perpisahan sebagai sebuah seni  pembunuhan yang tak mematikan.

***

Penulis adalah pegiat sastra. Asal Lembor-Manggarai Barat. Tinggal di Ledalero-Maumere.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BACA JUGA