Guru: Ilustrasi

GURUKU: LILINKU 

Kosong……

Kita manusia-manusia hampa

Berpaut mesra bersama buta

Berbudi, namun belum mampu berdiri sendiri

 

Tak kuasa meraba merangkak saja kaki gentar

Bahkan selaras saja “TAK TAHU”

Lutut pun ia bawa pergi

 

Jika biduk mati,  kaku tanpa laut

Maka kitalah sampul yang  jadi remah-remah

Di pojok lembah tanah basah

Beristirahatlah dalam gelap, bebal hati

Biarku berayun pasti

Mencari sepercik api

Bagi kiblat ke arah tanya dan serunya logika

 

Mati…

Mencoba mengeja-eja ketidakpastian

Yang sama sekalian

Berkesempatan  terantuk pada batu itu

 

Kini beranjak kaki ini

Mengikuti benak yang selalu mengarak

Pada tapak mantap untuk dipijak

 

Memanggil aku , mengusik tumpul, bebal

Yang terus saja mencoba

Menelan seluruhku

 

Tenang ……

Jika bicara tenang dalm terang

Jangan kuberadu antara serumput rasa manis

Di ujung lidah sendiri dengan segores tanda

Dari ribuan tanya pada mereka

 

Kucoba masuk serta menyelami

Mengukir bebas di dalam sana

Mengajak mata menerawang jauh

Bersama matahari-matahari kecil ku

 

Sedu sedannya ketidakpahaman

Memaksanya padam padaku, yang terlalu egois

Bahkan pada saat budi sendiri

Ingin jadi abu sehabis bakar diri

 

Dengarlah …..

Harus kau tahu dan pahami

Menyerah dapat menyerang bagai influensa sehabis hujan

Tapi aku dan kamu terlalu bebal untuk ditinggal sendiri

 

Kini aku berhenti mencaci dangkal

Dan kini mentari di sini, tak lagi

Membibiri pesisir padang sendumu

 

Alangkah benar cahayanya merekah,  ya

Menuntun aku ke lagi-lagi cerahnya

Dan ke ufuk mana seharusnya ia tenggelam

 

Dimana anakan api itu?

Masih berdiri di persimpangan

Kini aku yang telanjang (dahulu)

Mengundang  kamu berjamu

Memberi jangan memuntah

 

Pada ayah,  ibu

Yang  jadi tanya-tanyamu

Dengan dunia yang tanpa sekat pada mata

Kembali diri terguncang

Memaksa tuk menentukan langkah berikut

Ya …sekali lagi

Alangkah benar cahaya itu merekah

Membopong aku ke peraduan ilmu

 

Biar waktu menutup mataku

Memanipulasi hati

Aku mohon

Tetaplah nyala lilin kecilku

Agar jatuh aku bangkit

 

Sekali-sekali mekarlah!

Sebab jiwa ada memuja piawaimu

Nafas pun tak henti menyulam kata

Terima kasih guru

 

Tak apa guruku

Terbakarlah

Bukan hillang setelahnya

Tapi meleleh panas melumuri

Terus saja cahayamu ke sini

Kepada raguku selama ini

 

Tak pernah  kau bagi hambar

Tergopoh pada sanubari sendiri, pintas

Ternyata benar, kau tuntun

Terarah bersama sayap patah milikku

 

Aku tahu…

Kau dididk aku, kebayang-bayang terang

Yang telah kau siap

Pada kitab cinta tanganmu

Ambang melebar bebas

 

Pelan-pelan seutuhnya

Kau rakit hati-hati ayatmu sendiri

Tak lupa tanganmu

Sedia menggapai tanganku di samping jurang

Dunia yang ternyata curang

 

Guru…

Kau mengukur benar, bebas

Pada senja yang tak indah rupahnya

Yang sombong, yang mencoba memamerkan

Sudut riak ribut sekali

Itu aku!

 

Buih-buih dari mulutmu

Semerbak menyebar teratur

Kepada tiap insan yang awam sepertinya

Kupanjangkan lagi baitnya untukmu

Kuizinkan mulut yang diajarkan mu

Melabung kata indah

Biar tak sakit lagi telingahmu

Mendengar teriak sembarang dari kami.

 

Biarlah tenang hatimu

Yang ku tahu sedikit retak di sana

Bersama racun yang tertimbun

Tebal sekali…

 

Rendahkan sedikit bahumu agar dapat

Kukecup keningmu, dan ku pijat sedikit bahumu

Agar sedikit letihmu

Pergi bersama berhasilku nanti.

Tak lain bukan pendiam

Biar lesu, tetap mengibar pada cakrawala

 

Guru , sepadan apakah engkau?

Masih adakah julukan diatass sempurna

Tuk memuja-muja mereka ini?

 

Terima kasih guru

Membawa aku ke peredaban

Kepada mimpi yang menunggu

Memacu ragu, tuk jangan berlabuh

Dan terus maju, menuntun ke situ

 

Simak aku, berbalik jika pada telinga dan matamu

Akulah anak yng diasuh dahulu

Yang jadi air sehabis api

Sederhana kuucap jika mati usahakan

Jadi mentari dengan ribun puja

 

Hingga sedari tadi

Tak sadar hati telah terbuai

Dibawah tangan yang tak kuat rupanya

Masih ada dada bagiku untuk bernaung di bawahnya

 

Tak mampu aku, guruku

Jasamu besar

Sempurna sekali irama yang tak henti menentum tempo

Tak lemah menyebut makna “terimaa kasih”

 

Pantas saja

Ketika kurogoh kata-katamu kemarin

Ada mati yang melahap tawa

Sebelum tamengku lepuh

Benar , tak ada yang mengrti di sini

 

Menuduh kepada apa saja

Termasuk palsu yang canggung sekarang

Dia biarkan begitu saja

Aku menetas,  lepas, bebas

 

Berkat engkau guruku

Tanah kering itupun,segar kurasa

Hingga ringan kaaki merangkak

Kemudian melangkah dan berayun sekarang

Baiklah…

Jika jemari tak cukup

Kubiarkan bintang itu saja

Sebagai engkau yang tak pernah redup

Dan sebagai engkau yang terang

 

Atau lilin

Sanubariku yang menikmatimu

Mataku,  kakiku, bahkan nadipun

Ikut campur menghitung baikmu

Biarlah terbakar lilin –lilin kecilku

Sebab lelehanmu adalah aku

 

Kau tau guruku?

Tentang padang gersang yang kemarin

Tentaang awan keriput mendung,dahulu

Seringainya tak lagi berbekas

Serta batu sandungan tak lagi kuat menahan

 

Aku bisa lari guruku!

Sebab sayap patahku kemarin

Menguatkan mata kaki

 

Terima kasih guruku

Biarlah tenang hatimu

Biarlah sejuk telingamu

Seluruhnya

Dikenang sanubari lugu miliku

 

Jangan seegois aku pada udara

Setakut aku pada api

Dan selemah aku pada tanah basah

***

Eduardus Julio Sabur (X Bahasa 2) dan Salvatoria Dominika Hardiman (X IPA 1) ialah siswa SMAK St. Familia Wae Nakeng – Lembor, Manggarai Barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here