Ilustrasi Hujan. (Foto: http://eksepsionline.com/).

OLEH: RIKO RADEN

Seperti rindu, ia tak pernah tidur. Begitupun ibu Maria tak pernah berhenti berdoa untuk kedatangan hujan. Setiap malam ibu Maria tak pernah tidur setelah sebulan lalu ia menanam padi di kebunnya. Ia selalu berdoa agar Tuhan mengabulkan doanya. Setiap kali berdoa, ibu Maria tak pernah meminta permohonan yang lain kepada Tuhan. Ia hanya berdoa untuk kedatangan hujan. Memang sudah satu bulan, hujan tidak pernah turun dan tanaman ibu Maria sudah mulai kering. Ibu Maria sangat cemas apabila tanamannya kering dan ia sendiri tidak mendapat makanan lagi. Ia sendiri bisa hidup karena hasil dari apa yang ia tanam di kebunya bukan hanya padi. Walau hujan tak pernah turun, tapi sikap batin ibu Maria tetap tenang dan memberikan senyum kepada orang yang datang menemuinya. Ibu Maria tak pernah mengeluh apa yang sedang melanda dalam hidupnya. Ia tidak sama seperti tetangganya yang seringkali banyak mengeluh tentang hidup mereka. Ibu Maria selalu membawa dalam doa apa yang ia sedang terjadi dalam hidupnya. Antara doa dan bekerja, tidak pernah lepas dari keseharian hidup ibu Maria.

Seperti rindu, ia tak pernah tidur. Begitupun ibu Maria tak pernah berhenti berdoa untuk kedatangan hujan. Ibu Maria duduk termenung di bawah pondok di kebunnya. Ia merenung menanti kedatangan hujan. Pandangannya selalu mengarah kepada padi yang sebulan lalu telah ia tanam. Tatapannya agak sedih melihat padinya sudah mulai kering. Sesekali ia berdoa dalam hatinya agar Tuhan rela menurunkan hujan supaya padinya tidak kering. Ia menoleh ke kiri dan kanan semua tanaman pada kering. Kemudian ia tunduk dan pelan-pelan air matanya mulai mengalir dari pipi yang sudah tidak awet lagi. Tidak lama kemudian, ia berdiri dan berjalan menuju petak sawah dan meraba padi yang sudah mulai kering. Ia sempat melontar kata-kata dari mulut manisnya “Maafkan aku yang membuat kalian seperti ini. Tetapi biarkan kalian tetap bertahan, barangkali dua atau tiga hari lagi hujan akan turun. Dan kalian pasti tumbuh segar dan hijau.” Demikian ia mengatakan kepada padinya agar padinya itu tidak boleh mati. Ia sangat mencintai padinya karena ia bisa hidup dari hasil panen padi. Apabila padinya mati, berarti kematian juga datang menghampirinya. Ibu Maria menanti hujan seperti pelaut menantikan akan daratan. Di tengah persawahan ini, ibu Maria terus berjalan dari satu petak ke petak yang lain. ia melihat padinya pada kering semua. Kemudian, ibu Maria kembali ke pondok dan duduk termenung di sana.

Seperti rindu, ia tak pernah tidur. Begitupun ibu maria tak pernah berhenti berdoa untuk kedatangan hujan. Setelah lima belas tahun yang lalu, ibu Maria tinggal seorang diri. Suaminya pergi meninggalkan dia. Mereka tidak dikarunia seorang anak. Suaminya meninggal dunia karena mengalami sakit jantung. Ia sendiri juga tidak bisa menolong suaminya karena pada waktu itu ia sedang berada di kebun menanam padi mereka. Ketika ibu Maria pulang dari kebun, ia melihat suaminya terlentang di tanah. Ia kaget dan memeluk tubuh suaminya. Ia memanggil nama suaminya, tetapi sama saja, suaminya tidak mendengarkan dan pergi meninggalkan dirinya. Betapa sedih dan susah hati ibu Maria karena suaminya meninggalkan dia seorang diri. Ia lebih sedih lagi karena dambaannya tidak tercapai yaitu seorang anak yang bisa meneruskan warisan mereka. Barangkali sudah menjadi takdir dalam keluarganya. Ia sendiri tidak mengeluh mengapa keluarganya tidak karunia seorang anak. Ia sadar mungkin Tuhan sendiri yang merencanakan semuanya ini. Segala yang terjadi dalam hidup, ia serahkan semuanya kepada Tuhan lewat doanya. Setelah suaminya pergi meninggalkan dia selama-lamanya, ia mulai merangkai hidup hanya seorang diri. Ia pergi ke kebun tanpa ditemani seorang suami. Hari-hari hidupnya tanpa ada yang menemani untuk sekadar mendengarkan keluh kesah hidupnya. Ia menyimpan segala perkara itu dalam hatinya. Ia sendiri belajar dari Maria ibu Yesus untuk menyimpan segala perkara yang terjadi dalam hidupnya. Setiap hari, ia hanya habiskan waktu di kebun. Ia pulang ke rumah ketika senja menghampiri pondoknya.  Ia lakukan ini karena menghindari dari rasa sedih setelah suaminya meninggalkan dia seorang diri. Tidak seperti sebelumnya, ia pergi ke kebun hanya melihat sepintas saja tanaman mereka lalu pulang ke rumah karena suaminya masih menunggu kedatangannya. Betapa sedih hati ibu Maria karena orang yang sangat ia cintai telah meninggalkan dia selama-lamanya. Tetapi ia bersyukur karena telah mendapatkan suami yang terbaik dalam hidupnya. Orang yang selalu menerima kekurangannya. Setelah suaminya meninggal dunia, ia sendiri tidak lagi membuka hati untuk orang yang kedua yang menjadi tulang rusuk hidupnya. Ia trauma dengan kejadian yang barusan ia alami. Ia takut apabila orang yang ia cinta itu juga pergi meninggalkan dia lagi. Pintu hatinya sudah tertutup. Ia rela hidup seorang diri daripada penderitaan itu selalu datang menghampiri hidupnya.

Seperti rindu, ia tak pernah tidur. Begitupun ibu maria tak pernah berhenti berdoa untuk kedatangan hujan.  Hampir dua bulan, ibu Maria selalu berdoa untuk kedatangan hujan. Di pondok ini, ibu Maria setia menanti hujan. Ia tak tahu kapan hujan itu akan turun membasahi tanamannya. Ia juga tidak tahu apakah hujan atau badai yang datang melanda hidupnya. Tetapi ia tetap tenang dan selalu menunggu datangnya hujan. Ibu Maria menanti hujan seperti hujan di bulan Desember membasahi lahan yang mulai kekeringan menyirami tanaman yang mulai layu mengisi sungai yang mulai tak berair, menentramkan jiwa dengan kesejukannya menyegarkan udara menguarkan bau tanah yang sangat dirindukan. Namun ibu Maria sadar kalau sekarang masih bulan Oktober, hujan belum pas untuk datang ke kebunnya, membasahi tanamannya.

Seperti rindu, ia tak pernah tidur. Begitupun ibu Maria tak pernah berhenti berdoa untuk kedatangan hujan.  Setiap malam, ibu Maria tidak pernah tidur tenang karena selalu memikirkan tanamannya. Ia cemas apabila hujan belum juga turun, berarti tanamannya pasti akan mati. Untuk pertama kalinya, malam itu ia sangat mengeluh. Dalam doa, ia mengeluh kepada Tuhan mengapa Tuhan belum menurunkan hujan. Ia mengeluh kepada Tuhan karena ia tahu bahwa  satu-satunya yang bisa mencurahkan isi hatinya hanya kepada Tuhan. Tidak ada orang lain lagi yang mendengarkan keluh kesah hatinya. “Tuhan, mengapa Engkau tidak menurunkan hujan kepada tanamanku. Aku bisa mati apabila tanaman itu mati.” Kali ini ia berdoa sambil menangis. “Seharusnya Kau turunkan hujan Tuhan, berkahilah hujan, aku sudah lama menunggu. Doa yang bagaimana lagi kupinta kepada-Mu.” Lanjutnya. Suasana malam semakin sunyi. Ibu Maria seharusnya diberkahi hujan setiap hari, sebab menunggu adalah hal yang begitu runyam dalam benaknya. Setiap hari ibu Maria selalu berdoa dan selalu memasang wajah kusut, murung dan terkadang wajahnya penuh amarah karena sudah tidak sabar, terkadang ia pun ingin menguggat Tuhan tentang hujan. Seharusnya Tuhan tahu, seharusnya hujan pun mengerti betapa ibu Maria sedang menunggunya. Tetapi ibu Maria sendiri tetap tenang barangkali doanya belum dikabulkan. Ia percaya Tuhan selalu memberikan berkat bagi orang yang percaya kepadanya.

Riko Raden tinggal di unit St. Rafael Ledalero, Maumere 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here