OLEH: ALEX SEHATANG, Mahasiswa STFK Ledalero

Apakah kita tahu ideologi negara kita?
Atau kita sedang berpura-pura untuk tidak tahu ideologi negara sendiri dan lumpuh dalam realisasinya?

I. Ideologi?

Berbicara tentang ideologi pasti pikiran kita langsung terarah pada paham yang berbau politik. Tapi, di sini saya tidak mempertontonkan paham politik secara gamblang mengenai ideologi melainkan membahas ideologi sebagai cara bernalar seseorang untuk tidak lumpuh dalam arah dan tujuan kelangsungan hidupnya.

Ideologi yang diartikan Karl Marx adalah alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat. Ideologi memiliki korelasi yang intim dengan apa yang kita sebut pendewasaan diri yang berakhlak.

Seseorang yang berideologi pantas disebut sedang berideologi ketika ideologinya mengarah pada ketentraman semua golongan bukan golongan-golongan tertentu. Konsep yang mengarah pada kebaikan bersama. Falsafah yang lahir dari ideologi yang tidak partikular. Sebab ideologi itu memiliki sifat keentitasan bukan transendental. Falsafah dan ideologi hidup dalam seorang yang humanis yang tidak menghadirkan spekulasi-spekulasi belaka.

Negara Kesatuan Republik Indonesia tentu saja memiliki ideologi. Ideologi yang mengarahkan rakyatnya menuju falsafah yang berakhlak.

Apakah kita tahu ideologi itu, ideologi negara kita? Atau kita sementara berpura-pura untuk tidak tahu dan lumpuh dalam realisasinya?

Ideologi itu adalah Ideologi Pancasila. Ideologi yang dijunjung tinggi oleh seluruh rakyat indonesia yang bernaung di dalam tubuh Bhineka Tunggal Ika.

Ideologi Pancasila yang berusaha untuk mengkorelasikan antara iman, akalbudi dan kenyataan. Karna secara subtansional Ideologi Pancasila dapat menghancurkan isme-isme yang menyimpang dalam konsep tatanan hidup masyarakat Indonesia.

Hidup dan Bernaung di Negara Kesatuan Republik Indonesia berarti hidup berlandaskan ideologi negara tersebut. Ideologi Pancasila.

Perlu atau tidak perlu, wajib atau tidak wajib, dan harus atau tidak harus saat tengah berjalan di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia berarti sementara merealisasikan Ideologi Pancasila. Itu perlu, wajib, harus.

Secara esensi ideologi yang dicetuskan negara tidak pernah dan akan merusakan bagian-bagian tubuhnya kecuali itu keluar dari paham yang salah dari bagian-bagian tubuhnya sendiri.

“Apa yang dari luar tidak menajiskan, tetapi apa ke luar itulah yang menajiskan” ( bdk Kitab Suci ajaran agama Katolik Markus 7:15 )

II. Diperbudak: Zaman Menghapus Ideologi

Secara sadar atau tidak sadar masyarakat pada umumnya ( dilihat dari realitas sekarang ) seperti memandang ideologi negara hanya sebagai patokan situasi formalitas. Artinya di sini kita menjadikan falsafah dari ideologi negara saat kita dihadapkan pada forum-forum resmi yang membahas hanya teori dan teori resmi saja. Ketika di belakang panggung kita seperti pembunuh berdarah dingin. Hanya menghadirkan ideologi di atas teori-teori belaka tetapi tidak mengimplementasikan itu. Tidak menunjukan integritas sebagai warga negara yang berlandaskan Bhineka Tunggal Ika.

Ideologi negara adalah falsafah suatu negara tetapi tendensi-tendensi berbagai macam ideologi manusia ( padahal tidak sesuai substansi dari arti ideologi itu sendiri ) membuat ideologi negara seperti disudutkan dari peran substansinya.

Realitas yang terjadi saat ini sangat riskan. Masyarakat kita seperti diperbudak kata yang dilahirkan dari rahim orang-orang berwajah mulus bernalar modus. Eksistensi ideologi negara seperti ditenggelamkan secara perlahan-lahan dalam sunyi oleh sutradara dengan paradigma yang rasional tetapi mengandung benih-benih skeptisisme bagi masyarakat yang telah dilenakan mereka.

Hal yang paling riskan ialah ketika kita dihadapkan problematik mengenai ketidakadilan. Kita terkadang bahkan seringkali melakukan ketidakadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peran Nepotisme turut menghiasi ketidakadilan bagi masyarakat. Berbicara tentang ketidakadilan sedikit lebihnya kita berbicara juga tentang Nepotisme. Akan ada banyak problem yang muncul ketika kita berbicara tentang ketidakadilan sebab Nepotisme. Pertentangan akan lahir di sana. Proses memecahkan masalah kemungkinan juga bisa menjadi konsep untuk melahirkan masalah yang baru.

Terkadang sesuatu yang sebenarnya tidak terlahir dari paham Nepotisme bagi kemunculan ketidakadilan di tengah masyarakat seperti diatur sekian apiknya oleh orang-orang yang pintar yang lihai dalam berteori ( realisasinya kosong).

Seperti apa yang diungkapkan Filsuf Yunani yakni Plato berdasarkan prinsip dasar Kaum Sofis ” kalau engkau sanggup meyakinkan oranglain di depan hakim di pengadilan, di depan seluruh rakyat dan musyawarah rakyat maka engkau pasti berhasil… karena engkau telah memiliki semuanya dalam tanganmu… ( bdk, buku pelajaran Sejarah Filsafat Barat Kuno Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Yosef Keladu, penerbit ledalero, 2016, halaman 52-53 ).

Mungkin sitem berpikir dari kaum sofis inilah yg dipakai mereka untuk membawa masyarakat indonesia terlena syahdunya kata-kata. Diperbudak kata.

III. Melawan Kata: Nalar, Batin dan Realisasi

Akan sangat memilukan jika kita melihat realitas di atas. Kata yang mempunyai sifat destruktif menjadi remot tersendiri dari sekelompok di atas singgasana. Mereka yang lihai dalam merangkai setiap kata. Jika diperhatikan kata-kata mereka sungguh rasional. Kata yang terlahir dari bibir manis tetapi sayangnya antara nalar, batin dan realisasi tidak sepadan. Orientasi-orientasi yang dibangun seperti mengkambinghitamkan masyarakat dan ideologinya. Merasa diri sebagai allah yang mengatur kehidupan selaksa insan.

Jika diberikan pertanyaan menyangkut ideologi-ideologi ( menurut mereka tpi bukan substansi dari arti ideologi ) yang menghipnotis masayarakat sekarang ini ; saya mau bertanya, apakah mereka manusia yang berakalbudi atau akalbudi yg membuat mereka menjadi manusia menjadikan mereka seperti hewan yang tidak berakalbudi sama sekali?
Jikalau pertanyaan dari insan yang protes terhadap ketidakadilan ini sedikit keras mohon dimaafkan sebab apa yang dilihat itulah yang diformulasikan dalam pertanyaan.

Ideologi negara menjadi esensi dari falsafah kehidupan masyarakat harus selalu dijaga dan dipertahankan. Problem-problem yang terjadi sekarang tentu menyiksa tubuh dari ideologi itu sendiri bahkan penyiksaan sampai pada ingin menghapus perlahan-lahan orientasi dari esensi sebuah ideologi negara.

Setiap masyarakat tentunya mendambakan kehidupan yang sejahtera, adil dan beradab. Semangat dan harapan seperti ini didapatkan tidak lain dan tidak bukan dari realisasi ideologi negara. Ideologi negara telah ada. Peran nalar, batin dan realisasi harus melingkup pada setiap sudut tubuh ideologi negara tersebut. Ketiga hal ini harus selalu dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setiap masyarakat harus memberikan emanasi dari falsafah ideologi negara. Emanasi yang berbau persatuan dan kesatuan menurut orientasi ideologi negara tersebut.
Akan menjadi hal yang sangat riskan jika pancaran yang kita lahirkan dengan semangat ideologi justru direalisasikan dengan cara yang biadab bukan beradab. Nalar, batin dan realisasi harus sepadan. Kehadiran kita di tengah masyarakat harus menjadi representasi dari ideologi negara.

Kecenderungan dari sekelompok orang yang melahirkan paham-paham yang salah menjadi pelajaran kita untuk mendewasakan pemahaman akan ideologi negara dan semakin menguatkan ideologi negara dengan cara berjuang dan bertahan. Respek secara positif kepada mereka yang angkuh akan paham-paham padahal sesat. Respek yang menolak dan membuat kesadaran pada mereka.

Namun, kita harus berhati-hati dan sigap, jangan sampai kita terlena pada bujukan dan rayuan mereka. Mereka yang adalah para pemikir pecandu kata dalam ruang yang berlaksa-laksa kekayaan akan ilusi dan intrik.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here