Cerita Taman Eden

Ibu

Di langit jingga itu

Belum ada yang sempat

Mengenali sepasang payudaramu

Mendengarkan nyanyian merdumu

Dan diceritakan seperti bidadari

Serabut petir yang menyala melindungi Eden

Tak lebih mengerikan

Ketimbang dosa pertama singgah di tubuhmu

Maka setangkai melati yang kau tinggalkan

Di jendela kematianmu tempat dosa menyapa

Kami tanamkan dalam setangkup harapan

Sebab di sorga

Tempat di mana cinta dan nama-nama

Akan senantiasa di kenang tanpa mengibarkan bendera kemerdekaan

Ledalero, 2019

 

Beranda

Adakah sekali lagi alasan meneguk dibibirmu

Rahasia paling suci setelah hitam segelas kopi?

Pahit yang menawarkan kecurigaan

Dan hitam yang menawarkan kebencian

Dan pertengkaran yang belum selesai

Dari kemarin dan entah terjadi besok

Tak ada ketakutan

Tentang siapa yang gentar jadi curiga

Melukai mata dan hati setelah di beranda kau akhiri cerita

Hanya ada kesanggupan yang tersisa

Tentu kau bertanya mengapa masih sanggup

Dengan ketiadaan?

Kelak kau mengerti bahwa

Kesanggupan adalah hanya menghitung yang tersisa

Dengan umpama pada beranda itu

Ledalero, 2019

 

Surat

-Untuk Sarry

Kita menepi dari jarak terjauh setiap kesempatan

Dari tengah hari yang sepi hujan

Sampai kemarau yang ranum pada jendela

Sepanjang itu kau tinggalkanku

Tidak ada yang menghitung setiap kesempatan

Bersama secangkir kopi yang dingin memeluk sunyi

Atau sebuah puisi yang belum terselesai

Entahlah.

Terlalu dini bila aku harus melupakanmu

Sebab bekas bibirmu masih tergambar pada cangkir itu

Aku pun tidak ingin mengingatmu sebagai dusta

Atau sesuatu semacamnya

Tetapi sebagai kenangan

Terlekas waktu semuanya berakhir di sini

Ledalero, 2019

Sonny Kelen Sekarang Tinggal di Unit Gabriel Ledalero

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here