Gambar: Ilustrasi

OLEH: AGUST GUNADIN, Pengagum Sastra di Seminari Tinggi St. Kamilus-Maumere

Setiap orang pasti memiliki harapan untuk memiliki karakter yang baik. Berkat kesadaran yang sama, Presiden Jokowi tidak tanggung-tanggung mengeluarkan sekaligus mengesahkan peraturan presiden (perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter untuk dipergunakan dalam dunia pendidikan di Indonesia (CNN Indonesia,  06/09/2017). Adanya pengesahan peraturan tersebut karena wajah pendidikan di Indonesia seringkali menimbulkan persoalan. Dunia pendidikan yang seharusnya mampu memanusiakan manusia, justru menampilkan sosok kurangnya status berkarakter. Alih-alih ingin mendapatkan nilai tinggi, namun ternyata nilai tersebut diperoleh hasil nyontekan. Pendidikan yang seharusnya mendidik dimensi kognitif, psikomotorik dan afektif, kini statusnya dipertanyakan. Dipertanyakan karena, para pelajarnya seringkali melakukan aksi tawuran, melakukan tindakan aborsi serta tindakan bunuh diri. Belum lagi para pendidik dan peserta didik kehilangan nilai moralnya, yaitu melakukan kekerasan seksual, sehingga kehamilan di luar nikah pun terjadi. Jelas, baik pelaku dan korban sama-sama kehilangan arti dan makna pendidikan itu sendiri.

Persoalan yang terjadi dalam dunia pendidikan kita, tentunya memunculkan pertanyaan dasar, yaitu Apa yang kurang dalam perealisasian pendidikan kita? Jawaban singkat jika dikaitkan dengan adanya pengesahan Perpres 87 bahwa pendidikan di Indonesia kehilangan pembentukan karakter. Sebab, acapkali menekankan peningkatan daya kognitif namun ternyata tidak sejalan dengan peningkatan daya psikomotorik dan afektif.  Maka, yang terjadi ialah orang berjaya dalam kepintaran kognitifnya namun melemah dalam nilai afektif (moralitasnya). Padahal, tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara, selalu mengharapkan agar pendidikan mampu  memajukan pertumbuhan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), intelek (pikiran), serta tubuh sebagai jalan menuju kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunia (U. H. Saidah, 2016: 9). Albert Enstein membahasakan  “pengetahuan tanpa moral (agama) adalah buta, dan moral tanpa pengetahuan adalah pincang” (Kompasiana, 2 Mei 2016). Dari adigium ini, memberikan alaram bahwa pentingnya pendidikan untuk proses berpikir sekaligus mendidik kecerdasan afektif sehingga mampu menciptakan manusia yang berpendidikan dan berbudi luhur.

Nah, untuk menghadapi dan mengurangi masalah terkait, bagaimana caranya?. Tentu, perlu paradigma baru. Paradigma yang diambil ialah dengan mengoptimalkan peran sastra. Sebab, sastra bisa membentuk pendidikan kejiwaan seseorang. Dengan alasan kuat bahwa sastra tidak hanya sekedar menari di atas kata, melainkan bisa membentuk diri (psikologis), menjembatani relasi antara Tuhan dan manusia melalui kata (doa), serta memperjuangkan kemanusian manusia. Maka, tulisan ini bertujuan untuk merekonstruksi pemahaman tentang pentingnya sastra bagi kehidupan manusia, terlebih khusus membangun karakter manusia yang utuh.

Apa dan Bagaimana itu Sastra?

Secara etimologis, sastra berasal dari bahasa Latin, yaitu ‘littelatura’ yang diturunkan dari kata Yunani ‘Litteratura’. Kata littera berarti huruf. Maka, sastra adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan teks atau huruf. Namun, dalam bahasa Indonesia sastra berasal dari bahasa sansakerta, Sas yang berarti mengajar, memberi petunjuk atau instruksi, sedangkan Tra artinya alat atau sarana. Dapat disimpulkan bahwa sastra adalah kumpulan alat untuk mengajar, memberi petunjuk, menginstruksi dalam melakukan pengajaran yang baik. Sastra merupakan inspirasi kehidupan, di mana terbentuk dalam keindahan batin sehingga dapat dinikmati melalui pikiran maupun perasaan. Dengan kata lain, kegiatan sastra itu merupakan suatu kegiatan yang memiliki unsur-unsur keindahan dalam pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, semangat, dari seorang pengarang lalu diekspresikan dalam bentuk tulisan. Semua, tujuan dalam karya sastra selalu mengedepankan dan mengembangkan jiwa humanis, yaitu jiwa yang lembut dan berbudi.

Tujuan lainnya ialah untuk memampukan pengarang maupun pembaca agar memilki sikap responsive terhadap realitas hidup. Karena pada hakikatnya manusia selalu mencari nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Maka, karya sastra yang baik adalah karya yang mengangkat masalah kemanusian manusia. Sesuatu yang mempunyai nilai moral, yaitu nilai yang berpangkal dari nilai-nilai kemanusian, serta nilai-nilai baik dan buruk yang universal (A. Teeuw: 2015,  20).  

Dari pengertian sastra di atas, dapat memberikan gambaran bahwa sastra hadir sebagai ruang untuk mempelajari satu sisi kehidupan manusia, yaitu penekanan terhadap nilai-nilai kemanusian.

Sastra Berpihak dan Berpijak!       

Orang pasti sependapat bahwa ada banyak cara yang dapat digunakan dalam proses mendidik, memupuk serta mengembangkan pendidikan karakter. Di antara banyak cara, sastra punya andil. Jika melihat kembali sejarah kehadiran sastra, pasti ditemukan kesimpulan bahwa kelahiran sastra selalu berkaitan dengan sejarah kelahiran manusia. Artinya, sastra itu ada karena adanya manusia. Sebab, keberadaan sastra diciptakan oleh manusia sendiri. Manusia menciptakan sastra karena memiliki tujuan yaitu membela kemanusian universal. Aristoteles (384-322) dalam karyanya “Poetica” yang melahirkan sejarah pertama kehadiran sastra, mengedepankan manusia sebagai subjek sekaligus objek. Baginya, kemunculan sastra berawal dari persoalan kemanusian. Lebih lanjut, Jakob Sumardjo dalam “Apresiasi Kesusasteraan” mengatakan bahwa karya sastra adalah sebuah usaha merekam jiwa. Artinya, segala bentuk hasil karya sastra tidak terlepas dari pengalaman hidup seseorang. Dari pengalaman itulah, memunculkan karya imajinasi konstruktif yang membawa manusia sebagai ciptaan yang utuh. Maka, sebagai ciptaan utuh, manusia seharusnya tidak bisa dieksploitasi antar-sesamanya. Sebaliknya, hanya kesadaran etis yang dibangun dalam diri manusia sehingga sesama tidak lagi dilihat sebagai objek. Karena itu, tujuan dasar sastra dalam karyanya ialah selalu mengangkat manusia sebagai ciptaan yang paling agung.

Nah, pertanyaannya ialah bahwa di mana letak pembelaan sastra terhadap manusia? Tentu, sastra hadir untuk membela kemanusian manusia bukan hanya mengarang di atas kertas melainkan berangkat dari realitas. Menurut filsuf bernama, Plato (428-347), sastra bukan terlahir di atas karya imajinatif biasa tetapi lebih daripada itu, sastra mengangkat sebuah realitas lalu digubahnya dalam bahasa (mimesis). Sehingga bahasa metaforis yang digunakan sastra bukan sekedar menari-nari tanpa dasar sebaliknya sebagai jembatan untuk mengentaskan sebuah realitas yang dialami oleh pengarang. Maka, dengan sendirinya pengarang menulis bukan murni fantasi, melainkan fantasi yang sudah berubah kerena tekanan-tekanan realita kehidupan. Karenanya, bahasa sastra mengandung emosi, perasaan, pikiran, dan pengalaman moral yang bisa dijadikan acuan untuk mendidik karakter seseorang menjadi lebih manusiawi.

Benar, apa yang diungkapkan Horatius bahwa sastra memiliki peran ganda yaitu dulce, sweet dan utile, usefull ‘nikmat dan bermanfaat. Kenikmatan yang diberikan sastra terletak pada rasa, pada saat pembaca membaca sastra, dia akan terhibur atau terseduh. Dengan, mengalami hal seperti ini, maka sesungguhnya sastra telah, sedang, dan akan memberikan rasa kepada pembacanya. Sebagai contoh, kisah tentang Sitti Nurbaya: Kasih Tak Tersampai (Marah Rusli) dan Malin Kundang sampai saat ini masih dikagumi oleh banyak orang. Sebab, di dalam cerita tersebut mengandung suatu ajaran moral yang sangat tinggi.

Nikmat (menghibur) dan bermanfaat yang ditawarkan Horatius, menunjukkan bahwa sastra memiliki fungsi pragmatis bagi kehidupan masyarakat. Terlebih bagi para pelajar yang kehilangan karakter. Sastra menawarkan suatu alternatif yang bisa memproduksi cara hidup yang baik bagi manusia agar selalu menimbang cara berpikir, bersikap, berasa, berperilaku sesuai ajaran moral universal. Namun, ajaran yang ditawarkan dalam sastra tidak secara langsung diberikan kepada pembaca, tetapi pembaca sendiri yang memahami proses berpikir dalam sebuah bacaan. Sehingga baik pengarang dan pembaca sastra, sama-sama sebagai subjek yang penelaah karya sastra. Karenanya, pesan yang disampaikan dalam karya sastra terkadang memiliki perbedaan kesan antara pengarang dan pembaca.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here