Gambar: Ilustrasi

OLEH: BERRY UNGGAS

Suatu malam ada monolog tanya jawab seperti ini,

“merindukan wanita itu mahal!”

“berarti wanita itu matre”

“ah em ah entahlah..”

Saban hari di kamar, aroma rokok adalah yang paling abadi. Setiap ingin mengenang, ia harus menghabiskan batang-batang rokok. Puntung-puntung pada asbaknya sudah terberi nama wanita. Puntung-puntung itu dan mimpi basah seperti memiliki kenikmatan dengan porsi yang sama sebab alasannya adalah sama yakni seorang perawan!

Mengalami rindu sambil merokok adalah perpaduan yang amat nikmat. Di kepalanya, kerinduan tanpa doa dari dupa-dupa batang-batang rokok adalah yang paling fana. Tugas yang diberikannya kepadamu hanya percaya. Tidak boleh ada keraguan. Kalaupun ada, siapa yang paling peduli? Kira-kira begitu.

“Marilah menuaikan ibadah rindu dengan merokok. Kalau pun harus mati, itu adalah konsekuensi yang paling logis. Media akan beramai-ramai menulis berita tentang kematian seseorang karena merokok. Tanpa mereka tahu kalau yang membunuh aku adalah rerinduan! Aku suka dengan rokok yang dapat membunuhku secara perlahan, karena aku tidak suka dengan kepergian yang terburu-buru!”

Selain ada rokok, di kamarnya sedang berjejer buku-buku puisi. Semuanya tentang hati yang patah! Setelah wanitanya pergi, ia menjadi lebih suka membaca kata-kata roman, lebih suka dengan kata-kata yang identik dengan merelakan daripada mencintai atau pun membangun cinta (lagi). Ia menjadi lebih suka gelap tanpa tahu kalau gelap memaksanya harus mengalami kelam. Kalau ada yang lebih pahit dari kopi tanpa gula, itu adalah dirinya dengan usaha belajar tentang melupakan. Sia-sia! Siapa yang paling peduli? Kira-kira seperti itu.

“Malam ini aku ingin membuat sebuah puisi tentang merelakan, tapi sudah terlanjur tidak tahu apa definisi melupakan! Apakah kau adalah yang paling tahu? Ayolah datang ke sini, ajarkan aku membuat puisi dengan banyak metafora tentang rela. Tapi jangan berani melangkahkan kakimu kemari bila kita adalah insan yang sama, yang tidak tahu apa itu melupakan!”

Di meja belajarnya tidak hanya ada buku-buku filsafat tapi juga ada botol-botol parfum. Dalam banyak pikirannya, Heraklitos boleh saja pandai berbicara tentang ada dan tidak ada, Plato boleh saja pandai berbicara tentang dunia ide, tapi mereka tidak pernah tahu tentang satu ada yang tiada hilangnya, melupakan! Siapa yang paling peduli?

Botol-botol parfum banyak yang kosong sebab uap-uap dari segala jenis mengenang banyak yang habis. Ia penikmat parfum victorya, yang pernah hadir di leher jenjang gadisnya dulu saat mereka pulang dari sebuah kapela adorasi.

Heraklitos, di manakah  kapal rusak yang tak lagi kau semat kapal, yang pernah berlabuh di dermaga ini dengan membawa doa bahagia dari mimpi-mimpi kami yang kini adalah usang?”

Pukul 22.45 ia memilih untuk tidur, setelah lampu memadamkan sengketa antara ia yang ingin masih berpikir dan menulis dengan matanya sudah tidak kuat menahan kantuk. Di dalam bunga tidurnya ia menemukan dirinya sedang mengunjungi toko aksesoris dan toko buku. Dibelinya berbungkus-bungkus rokok, buku-buku puisi, dan berbotol-botol parfum. Ia kemudian menjadi bijak menghitung uang-uang yang dikeluarkannya hari itu.

“Ah, hanya untuk dirindukan, tanpa dimiliki, wanita itu sudah menjadi sangat matre!!! Lalu siapa yang paling peduli?”

“Ah em ah entahlah” 

Berry Unggas ialah mahasiswa STFK Ledalero – Maumere

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here