Ilustrasi

Histori Sunyi

Ada yang pernah berbisik dengan nada tanya padaku

Siapa gerangan yang mengertakmu sehingga sehelai rambutmu terkapar sendiri di atas kursi kusam kemarin?

Aku jawab itu cemas;

Dia menemukan dan mengajakku untuk bermain-main di dalam gema.

Aku tak sudi.

Itu sebabnya sehelai rambutku meriang di ujung ukir.

Aku masih menginginkan sunyi dengannya.

Dia.

Yang saat ini tengah memilih buih di pelipis tanya.

Waelengkas, 10 Agustus 2019

 

Menepi Itu Bijak

Sepenggal kalimat kritis keluar dari tatapan sendumu saat dengan renta-rentanya peluh berbaris rapi di ujung pelupuk.

Aku seperti algojo yang mengais sinis balada sinoptik dan khusyuknya jemari Yohanes.

Entah karna bingung atau gelisah.

Iya.

Seperti itu aku.

Menghapus bayangan yang teduh di ujung lenganmu.

Jauh hanya untuk belajar membaca citra diri ataupun menyematkan tanda titik di ujung janji.

Ledalero, 22 Agustus 2019

 

Pikir Dua Kali

Menempatkan sesungging senyum pada balada tidak semudah membalikan telapak tangan.

Menjadikan simpul tawa pada cumbuan tangis tidak segampang menghitung angka satu sampai sepuluh.

Ini bukan soal siapa yang pantas

tapi, perihal siapa yang mampu.

Ledalero, 04 September 2019

 

Habitus

1/

“Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah Engkau diantara wa…

Ugh…ugh…

Lagi-lagi karna cerutu tadi mematikan teduhku.

Keluar.

2/

“Waktu terasa semakin dalam, tinggalkan cer…

bangsat!”

Desingan pemuda menghapus segumpul ceria di ujung penat.

Lewat.

3/

“Egh! Kenyangnya… esok mesti kem…

Sakit!

Ocehan wanita bercadar kusam pada hangat yang hampir menjumpai terik.

Masuk.

Wanita, Cinta, Makan

Selubung

Cerutu, Balap, Malas

Kupang, 12 Juli 2019

Alex Sehatang, tinggal di Ledalero- Maumere

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here