Gambar: Ilustrasi

OLEH: ELISABETH B SOROMAKING

Aku ingat terakhir kali bertemu denganmu adalah saat malam Natal di Katedral kotamu.  Kamu tergagap menatapku.  Entah karena tak percaya atau gugup lantaran berdiri di sampingmu adalah wanita masa depanmu. Aku sendiri juga kaget. Tak menyangka dari ratusan manusia yang datang merayakan Misa malam kudus, kamu ada di sana berjarak lima orang dariku. Aku tidak datang untukmu atau sengaja mencari tahu tentangmu, aku hanya menunaikan janjiku sebelum pernikahan. Sebuah janji yang dulu kuikrarkan pada almahrum ayahmu ketika kita masih bersama.

Aku sempat merawatnya dan berbincang bersamanya tentang kotamu. Tentang kotamu yang punya banyak kapela, tentang kotamu yang penuh peziarah menjelang Paskah, tentang kotamu tempat kamu lahir. Dan aku? Aku juga bercerita tentang kotaku. Kota karang yang kering dan ramai, kota karang yang mengikrarkan diri sebagai kota kasih.

Aku hanya seorang mahasiswa perawat yang magang demi memenuhi syarat satu semester, mendapat kesempatan istimewa menjaga ayahmu. Ia selalu bersemangat ketika bercerita tentangmu. Aku penasaran lantas bertekad mencari tahu seperti apa dirimu yang begitu dibanggakan ayah. Aku jatuh cinta padamu bukan karena tatap, bukan karena sebuah foto apalagi karena perjumpaan. Tetapi karena kisah yang dibagikan ayahmu.

Kamu, lelaki penyayang idola adik-adik perempuanmu. Anak sulung harapan keluarga. Pekerja keras dan pantang menyerah.

Dua hari setelah mengenal ayahmu, aku mendengar suaramu. Ayahmu yang gagap teknologi memberikan nomor teleponmu. Aku dengan sorakan dalam hati menghubungimu.  Suara bariton yang meneduhkan terdengar indah di telinga. Aku membayangkan kamu yang sedang melepas rindu dan gelisah berbincang dengan ayahmu. Kamu bercerita tentang Batam dan keramaiannya. Kota yang sibuk dan acuh tak acuh. Tentang malam yang gemerlap, tentang waktu yang tak menunggu.

Di akhir cerita kamu bertanya, “Ayah, siapakah pemilik hape yang baik hati mau menelepon ku ini? ”

Aku tersipu, berdebar lantaran dijuluki pemilik hape yang baik hati padahal di lain sisi aku sedang mengkhawatirkan pulsaku.

“Seorang perawat yang manis. Bicaralah dengannya, bilang Terima kasih.” Ayahmu mengembalikan hapeku, aku gugup menerimanya.

“Halo, Kak.” Suaraku bergetar. “Saya Salsa, perawat magang yang bertugas merawat ayahmu. Salam kenal, Kak.”

“Hai, Salsa. Terima kasih sudah mengizinkan saya bicara dengan ayahku. Nanti kuganti pulsamu.” Aku ingin bilang, tidak, tetapi kamu berjanji akan menggantikan pulsaku. “Biar utang saya tidak menumpuk, Salsa.” Begitulah kita dan awal perkenalan itu. Sudah tiga tahun masa itu.

Ayahmu, di akhir tidak tertolong meski kamu telah berjuang memenuhi semua biaya pengobatan. Cuci darah rutin menambah beban penderitaannya. Ia tidak sanggup menyusahkanmu terlalu lama. Sebelum napas terakhir terembus, ia memintaku berjanji mengunjungi pusaranya di hari Natal suatu waktu nanti jika sempat ke kotamu.

“Sendiri tanpa ditemani suami atau calon suami,” tegasnya ketika aku mengangguk. Ia bahkan dalam sakitnya pernah bercanda, akan menjodohkan kita bila kita sempat bertemu sebelum ia pergi. Aku tertawa, merasa lucu juga senang.

Gayung bersambut, meski tak dijodohkan secara langsung oleh ayahmu, perasaanku terbalaskan juga. Berawal dengan membayar utang pulsa lalu menjadi komunikasi berlanjut. Kamu berjanji akan datang ke kotaku, ke rumah ayahku. Aku menunggu. Aku yakin kamu akan datang karena kamu adalah lelaki yang selalu membayar utangmu.

Kamu akhirnya datang dengan segala kekuaranganmu. Aku tak banyak meminta. Aku tetap cinta dan kamu juga begitu. Hingga di akhir aku meraih gelarku, kamu memilih pergi.

“Aku tidak pantas menjadi suamimu, Salsa. Sekarang tugasku sudah selesai, menemani kamu hingga hari baikmu. Aku permisi pergi dari hidupmu.”

Aku menangis, memohon agar kamu mau tinggal. Kamu tetap menolak. “Aku harus pergi, Salsa. Maafkan aku. Di suatu waktu yang baik nanti akan ada seorang lelaki bertitel yang datang dan meminangmu. Aku hanya lelaki biasa tanpa status pasti juga belum ada kepastian bagaimana membahagiakan kamu. Aku merasa tidak layak berdiri bersamamu. Aku malu apalagi…. ” Kamu menggantung kata terakhirmu sambil melirik ayah.

Tanpa menyahuti perkataanmu, kamu menjabat tangan ayah, mencium punggung tangan lelaki pekerja sawah itu lalu menghilang di malam yang ramai. Suara musik pengiring dansa mengiringi kepergianmu dari tenda syukur wisudaku. Aku menatap punggungmu, lelaki idola keluarga yang menghilang di keramaian malam.

Hari-hariku setelah itu hanyalah kesibukan tanpa kenal lelah. Tak ada kata istirahat selama mata belum memberi kode ngantuk. Aku memaksa tubuhku bekerja lebih dari tugas seharusnya hingga lelah dan lupa akan apa pun. Aku berhasil. Aku sukses. Cita-cita tergapai.

Masih muda, punya uang, menikmati hasil keringat sendiri. Begitulah nikmatnya hidup.

Namun di suatu hari yang menyenangkan, sebuah pesan masuk lewat media sosialku.

“Kak Salsa, abang Tomy akan menikah awal Januari. Mama minta Kak Salsa datang berkunjung ke makam Ayah.” Adik perempuanmu yang sedang menyusun skripsi mengabariku. Aku terpukul. Sial sekali. Harusnya aku menikah lebih dulu bukan kamu. Tetapi bagaimana pun, aku memutuskan mengunjungi makam ayahmu sebelum ada lelaki yang datang kepada ayahku agar tuntas janjiku.

Aku datang, aku berani, aku menatapmu.

###

Pusara ayahmu sangat bersih juga pusara yang lainnya. Momen Natal menjadi momen kunjungan atas orang-orang yang telah beralih ke dunia bawah tanah. Aku di sini, di samping pusara yang dialamatkan oleh adikmu. Berbicara padanya seperti dulu.

“Aku datang, Ayah. Selamat Natal untukmu.”

“Ayah pasti senang dikunjungi perawat kesayangannya.” Suara baritonmu menghipnotisku. “Aku pikir kamu lupa janjimu.”

“Aku selalu ingat setiap kali merayakan Natal, Tom.”

“Dan aku juga selalu menunggumu di sini setiap Natal, Salsa. Meski akan menjadi terakhir kalinya melihat kamu.” Aku mendengus jengkel.

“Aku dengar kamu akan menikah?” Ia terbelalak seolah tak percaya aku dapat mengetahuinya. “Adikmu yang mengabari.”

“Iya. Rencananya setelah tahun baru.”

“Selamat.” Aku mengalaminya. Ada keengganan saat jabatan tangan kami terlepas di udara. “Aku ikut senang.” Ia mengangguk tidak pasti.

“Kamu kerja di mana sekarang?”

“Kebun kopi Ayah.”

“Dan dia?”

“Guru di sebuah SMA swasta.”

“Sarjana? ” Ia mengangguk. “Perempuan bertitel.” Kamu gelagapan menghindari tatapanku.

“Dia sekampung denganku.”

“Kamu tidak malu bersanding dengannya?”

“Sedikit.” Kamu menggumam malu-malu. “Ia tetanggaku apalagi… ”

“Apalagi? ” Aku memotong perkataannya.  Aku ingat kata apalagi itu. Itulah kata terakhir yang diucapkan sebelum pergi dari hadapanku. “Apalagi apa, Tomy?” Kamu menggeleng. “Kamu tahu apalagi itulah kata terakhir dari penjelasan kamu sebelum benar-benar pergi dari hidupku. Kata itu, aku muak mendengarnya.”

“Apalagi orangtuanya menyetujui aku menjadi menantu, Salsa. Beda dengan Ayahmu yang  menginginkan seorang sarjana sebagai menantunya.”

Aku geram mendapati kenyataan ini tetapi bukan pada Ayah tentunya. “Dan kamu berhenti berjuang hanya karena itu? Kamu pengecut ataukah karena kamu tidak pernah mencintaiku?”

“Maaf, Salsa. Aku mencintaimu waktu itu tetapi aku juga memikirkan Ayahmu. Ini bukan alasan yang dibuat-buat. Aku memikirkan banyak hal. Tentang suku, tentang adat istiadat, tentang Ibu dan Adik-adikku. Aku punya tanggung jawab dan kamu tidak ada dalam daftarku waktu itu.  Maafkan aku, Salsa.”

Dunia seperti berhenti berputar. Kamu yang begitu kuhindari untuk ada di pikiranku, penuh usaha melupakan ternyata tak pernah memasukkan aku dalam daftarmu sejak dahulu. Tak mengapa. Aku juga sudah memilih lupa. Aku datang hanya untuk memenuhi janjiku. Cintaku sekarang pun sudah bukan untuk kamu lagi, entah nanti untuk siapa.

Aku melangkah pergi kali ini lebih ringan dari langkah pertama menjejaki kotamu. Aku pergi dahulu agar kamu melihat punggungku menghilang di balik pagar tempat pemakaman umum.

Tunai sudah janjiku, habis sudah cinta lamaku.  Selamat tinggal, Kamu.

Elisabeth lahir di Lembata. Pernah menerbitkan sebuah Antologi bersama teman-teman komunitas menulis yang berjudul “Happiness in the Difference” dan sebuah cerpen pernah lolos event dan dibukukan. Aktif menulis di wattpad. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here