Gambar: Ilustrasi

Kopi Yang Lupa Diteguk

Berhentilah menawarkan janji

Menjadi wanita yang selau tersenyum

Ketika duka dijadikan mesbah tempat segala rahasi diungkapkan

Entah. Ingin sekali aku mengutuki kepergianmu

Dan tak ingin mengingatmu sebagai luka

Atau sesuatu semacamnya

Sebab kopi tidak lagi menjadi tegukan dari setiap cerita yang dibicarakan

Atau sesuatu semacamnya yang sering menemanimu

Telah kulihat meski di sudut jendela senyummu yang menyerupai surat undangan

Yang berisikan masa depan yang tertunda

Biarlah sajak tentang kopi berakhir di sini

Tempat di mana kau kan mengerti bahwa kopi juga ingin disapa

Seperti dirimu yang selalu bertanya perihal kabar yang selalu kau rindu

Ledalero, 2019

 

Menunggumu Pulang

Aroma tubuhmu masih tergenang di sini

Tempat di mana aku melihat tubuhmu hilang di tikungan rumah ini

Setiap detik pada tebingnya yang curam

Ada keyakinan selalu hadir sebagai teman baik dalam percaya

“Dia kan pulang untukmu”

Bunyi tik tok jam dinding menjadi akrab denganku

Sebab tidak ada yang mampu di benah sebagai hadirmu yang ditunggu

Bayangkan jika berkali-kali aku menunggu adalah harapan

Kau tak pernah melihat air mata jatuh dari mataku yang pedih

Karena itu kau tidak pernah bosan-bosan membuatku menunggu

Aku akhirnya mengerti

Menunggu seperti belati sebuah janji jika harus aku pilih

(Barangkali menunggu seperti menyisahkan jejak yang dalam

Semacam luka yang tak kunjung kering)

Ledalero, 2019

Sekarang, Penulis Tinggal di Unit Gabriel Ledalero

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here