Ilustrasi

OLEH: EVARISTUS DWIPUTRA RODRIQUES ADU, Siswa Kelas XI social, SMA Seminari Pius XII Kisol

Alvin Tofler (1990) membagi rekaman peradaban manusia dalam tiga gelombang, yaitu era agraris, industri dan informasi. Saat ini dunia berada di era informasi. Hal ini dapat dibuktikan dengan berkeliaran bebasnya informasi melalui pelbagai platform media sosial yang dapat dengan mudah dijangkau oleh khalayak ramai. Keberadaan IPTEK yang semakin canggih turut memberikan ruang untuk berkembanganya informasi.

Namun, perkembangan dan kemajuan informasi juga tidak lepas dari pelbagai problem. Salah satu problem akut yang mencemari kemajuan dan perkembangan informasi adalah keberadaan informasi bohong atau yang lazim disebut hoaks. Untuk konteks nasional, hoaks bukan hal baru lagi. Berita-berita tertentu sering diracik dengan informasi-informasi bohong yang tidak sesuai dengan keadaan faktualnya.

Hal ini menjadi problem tatkala informasi bohong tersebut tersiar di masyarakat dan “ditelan bulat-bulat” oleh masyarakat sebagai informasi yang mengandung kebenaran empiris. Selanjutnya, hal itu menimbulkan kekeliruan informasi yang berujung pada penyesatan dan pembohongan secara sistematis.

Ironisnya, problem ini justru semakin mewabah dalam perkembangan informasi di tanah air. Masih segar dalam ingatan kita tentang kasus hoaks yang diembuskan Ratna Sarumpaet sebelum penyelenggaraan Pemilu kali lalu. Hal ini mengisyaratkan bahwa perkembangan informasi bohong sudah semakin masif. Subjeknya pun bukan saja kaum nonintelek tetapi justru pengembus informasi hoaks sudah sedemikian ulung diaktori oleh kaum berintelek yang notebene menyandang predikat pendidikan tinggi.

Lalu dari persepektif akademis, kira-kira bagaimana peran pelajar sebagai generasi berintelek serentak generasi penerus dalam meminimalisasi atau sebisa mungkin menghilangkan problem ini?

Menurut penelitian yang dilakukan PIRLS (Progress in International Reading Literacy study), pada tahun 2011 Indonesia meraih skor 428. Skor tersebut sangat jauh dari standar umum yakni 500. Hal ini membuat Indonesia menempati urutan ke 45 dari 48 negara yang diteliti. Data tersebut sebenarnya sedang membeberkan realitas rendahnya budaya literasi di Indonesia.

Penyebaran informasi bohong atau hoaks menjadi problem tatkala pelajar (masyarakat) tidak memiliki instrumen untuk membentengi diri dari hembusan informasi bohong. Akibatnya, embusan informasi bohong di khalayak ramai pun menjadi tak terelakan. Masyarakat dengan mudah menerima dan  “menelan“ begitu saja informasi tersebut sebagai sebuah kebenaran tanpa mengecek kredibilitas dari informasi tersebut.

Salah satu karakteristik umum informasi adalah ketika sebuah informasi sudah masuk ke ranah media sosial, informasi tersebut bukan saja menjadi konsumsi pribadi melainkan menjadi konsumsi publik. Maka ketika Informasi bohong  mulai berembus, informasi tersebut akan dengan mudah tersebar dan secara tidak langsung sedang terjadi penyesatan informasi. Dengan kata lain, sedang terjadi  pembodohan  masif akibat diseminasi informasi keliru dan sesat. Secara serentak problem ini turut menodai prinsip dasar jurnalistik yakni menemukan atau mencari kebenaran. Haus informasi pun menjadi ternodai akibat diseminasi informasi bohong.

Kira-kira dari persepektif akademis bagaimana langkah yang dapat diambil pelajar sebagai kaum berintelek untuk meminimalisasi atau bahkan sebisa mungkin mengatasi problem tersebut?

Pentingnya Budaya Literasi Kritis

Literasi adalah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi (membaca, berbicara, menyimak dan menulis) dengan cara berbeda sesuai dengan tujuannya (Elizabeth Sulzby: 1986). Dalam tulisan ini, penulis menitikberatkan literasi dalam hal membaca. Pada tataran literasi kritis, membaca tidak dipahami sebagai sebuah aktivitas membaca begitu saja atau sekadar membaca. Lebih dari itu, pembaca diandaikan mampu menyimak, memahami, dan mengelaborasikan apa yang dibacanya sesuai dengan fungsi dan tujuannya. Dengan kata lain, seorang pembaca mesti membaca sesuatu secara kritis.

Dalam kaitannya dengan intensi meminimalisasi dan mengatasi problem hoaks, literasi kritis atau  membaca dengan kritis  menawarkan banyak manfaat konstruktif bagi para pelajar. Secara sederhana literasi kritis memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk memahami makna suatu informasi.  Berbeda dengan literasi kritis yang membahasakan proses membaca dengan bernafaskan pola kritis, literasi dasar justru kurang efektif dan efisien karena hanya mengandalkan kemampuan (ability) membaca dan kurang menekankan pemaknaan atas informasi yang disampaikan. Sehingga terkadang makna dari informasi justru menjadi kabur dan kurang tersampaikan.

Selain itu, kemampuan analisis merupakan kapasitas yang dapat dimiliki para pelajar dari proses literasi kritis. Melalui proses membaca berupa menyimak, memahami dan mengelaborasikan informasi, kemampuan analisis dari para pelajar akan terus terasah, sehingga ketika sewaktu-waktu digunakan, dapat memberikan hasil yang maksimal, efektif, dan efisien.

Dengan membaca dalam bingkai proses literasi kritis, para pelajar semakin diperkaya dengan kemampuan multi-perspektif. Suatu informasi tidak hanya dipandang dari satu sudut pandang, tetapi ditinjau dari beberapa sudut pandang lain. Dengan kata lain, sebuah informasi perlu diverifikasi dari sudut pandang lain untuk meninjau kredibilitas dari suatu informasi.

Pada gilirannya, kebenaran berikut kredibilitas dari suatu informasi tidak dibiarkan mengambang atau juga hanya ditentukan oleh konsensus kebenaran publik, tetapi ditentukan oleh instrumen personal berupa kemampuan-kemampuan lebih sebagai hasil dari proses literasi kritis. Dengan itu, pengembusan dan penyebaran informasi bohong dapat diminimalisasi dan problem hoaks pun dapat direduksi produktivitasnya.

Akhirnya, para pelajar perlu membudayakan literasi kritis dalam kehidupan sehari-hari. Literasi kritis harus menjadi habitus dan harus diinventarisasi sebagai salah satu komponen penting pembelajaran. Melalui medium berupa literasi kritis, pelajar dapat menentukan benar-salah, hoaks-empirisnya suatu informasi. Haus informasi harus dibarengi dengan ketersediaan informasi yang kredibel, faktual, dan edukatif.

***

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here