Ilustrasi

OLEH: Dominicus Fratris Burhanu, Siswa XI Sosial, SMA Seminari Pius XII Kisol

Indonesia berada pada posisi dilema dalam usahanya membangun  dan memajukan karakter bangsa. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk membangun Indonesia mendapat tantangan serius dari masyarakat terutama kaum muda. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah benar bahwa kaum muda adalah agen perubahan yang barangkali lebih dikenal dengan sebutan agen of change atau justru kaum muda menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik (challange of change).

Jika ditelisik dari perspektif kebudayaan, masalah yang terjadi di Indonesia bulan-bulan terakhir berhubungan erat dengan wacana kehilangan kebudayaan lokal yang semakin santer didiskursuskan. Apalagi terkait dengan pengajuan RUU KUHP terkait kumpul kebo yang isinya adalah mengkriminalisasi tindakan serumah di luar nikah (kumpul kebo) dengan hukuman bagi pelaku adalah penjara paling lama 6 bulan (https://detik.com diakses pada 9 Oktober 2019).

Indonesia mewariskan sebuah tradisi yang mengharuskan adanya pernikahan dalam hidup kekeluargaan. Ironis, jika berkaca pada kenyataan sekarang dimana banyak orang muda sebagai agen of change yang justru menghilangkan tradisi tersebut ketika diberi ruang gerak yang salah diterjemahkan sebagai kebebasan. Hal ini memberi kebimbangan bagi siapa pun untuk memberi status atau predikat kepada kaum muda Indonesia, apakah sebagai agen perubahan ke arah yang lebih baik ataukah ke arah yang salah sehingga disebut sebagai suatu tantangan dalam mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik. Semua ini tentunya terdengar janggal.

Setiap orang diberikan ruang gerak agar haknya sebagai warga negara terpenuhi serta agar setiap orang memiliki ruang gerak untuk memenuhi kewajibannya. Pertanyaannya, apakah ruang gerak itu dapat diterjemahkan sebagai kebebasan untuk melakukan apa saja? Jawabannya salah. Pendidikan di Indonesia tidak pernah mendidik kaum mudanya untuk berpikir dalam perspektif yang sebebas-bebasnya. Iklim kebebasan dalam dunia akademik, yaitu kebebasan untuk berpikir dan menyampaikan gagasan atau pendapat memang selalu diberi perhatian dalam dunia pendidikan kita.

Namun, kebebasan dalam dunia akademik itu tidak boleh lantas diartikan sebagai bebas untuk berbuat apa saja. Pendidikan selalu mengajarakan konsentrasi atau fokus dalam berpikir dan bertingkah (Harijadi S. Hartowardojo, 1973:387). Pendidikan di Indonesia terjadi di berbagai tempat, mulai dari keluarga sampai lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal. Dengan demikian dalam proses pendidikan, terdapat bagian-bagian penting yang menjadi sumber dan terdapat pula bagian-bagian tertentu yang menjadi sasaran.

Proses pendidikan yang ada di Indonesia memberi ruang  gerak kepada orang muda untuk bersaing secara sehat dan mencapai apa yang dicita-citakan. Sebagai contoh, untuk mendapat kesempatan bersekolah di sekolah pilihan, seseorang akan mencoba keluar dari tempat asalnya untuk mencari sekolah yang menjanjikan kualitas pendidikan bermutu. Sehingga ia keluar dari pengawasan orang tuanya.

Kaum Muda Sebagai Agen of Change

Kecenderungan yang tertanam dalam diri setiap orang sejak kecil adalah memberi reaksi negatif kepada hal-hal yang tidak disenangi dan mendukung hal-hal yang menjadi kesukaan. Seseorang akan melakukan perlawanan, melancarkan pemberontakan, menimbulkan kekisruhan dalam lingkungannya. Itulah yang dilakukan kaum muda Indonesia dalam menanggapi rancangan undang-undang yang diajukan oleh DPR  untuk disahkan oleh Presiden. Salah satunya adalah undang-undang terkait kumpul kebo.

Banyak bukti yang menunjukkan kekurangan kaum muda Indonesia. Mulai dari tindakan provokatif sampai keluarnya spanduk-spanduk yang merendahkan harga diri kaum muda Indonesia sebagai kaum terpelajar. Itulah kalau kebebasan berpendapat  disalahartikan sebagai keleluasaan untuk berbuat sesuka hati. Bukan berarti, kebebasan adalah situasi pasrah, karena biasanya pasrah adalah suatu sikap yang berakibat fatal. Sebagai agen perubahan, kaum muda diberi ruang gerak yang harus dimaksimalkan dengan tanggung jawab.

Kembali kepada kebudayaan, bentuk penolakan mahasiswa terhadap pengajuan undang-undang kumpul kebo ini seakan memberi kesan bahwa tradisi yang diwariskan nenek moyang bangsa Indonesia telah luntur dalam lingkaran interaksi kaum muda Indonesia. Sejalan dengan itu, apakah kaum muda Indonesia menjadi agen of change yang merubah bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik, ataukah kaum muda Indonesia menjadi agen of change yang merubah Indonesia ke arah yang salah sehingga kaum muda Indonesia menjadi challange of change?

Menurut saya, kondisi di atas menunjukkan bahwa kaum muda Indonesia layak disebut sebagai challange of change, dengan bukti bahwa di kalangan kaum muda Indonesia, tradisi yang diwariskan nenek moyang bangsa Indonesia yang mengharuskan adanya pernikahan dalam hidup berkeluarga menjadi luntur. Oleh karena itu, kaum muda sebaiknya menerjemahkan ruang gerak yang diberikan kepada kaum muda tersebut sebagai sebuah kebebasan yang mempunyai batasan tertentu, bukan kebebasan sebagai keleluasaan untuk berbuat sesuka hati. Selain itu, kaum muda seharusnya memerhatikan tradisi yang diwariskan nenek moyang bangsa Indonesia sebagai suatu hal yang harus dijaga kelestariannya.

***

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here