Ilustrasi

Ketika Iman Butuh istirahat

Semua yang kau yakinkan butuh istirahat

Tak perlu resah, tuk secepat mungkin saling menyahut

Apalagi dalilmu itu, batas pada keyakinanmu saja

Akhirnya tak saling sepaham hingga perlu meregangkan jiwa

Imanmu menyelamatkanmu, kata-Ku di atas perahu Galilea

Jika memang kau kuat pada keyakinan itu, yakinlah ada keselamatan

Kau tak perlu berceloteh membela di depan umum

Sebab yang Ku-kehendaki bersujud di tempat sembunyi

Saudaramu tak perlu tahu, kau seringkali menyembah

Itu urusanmu!

Sebab dirimu hanyalah milikmu

Lagi-lagi tak perlu resah pada keyakinanmu, yakinlah!

Jika dalam dirimu ada keyakinan

Kau tak perlu menyanggah kebenaran yang lain

Sebab semua benar, hanya beda jalan, menuju

Kembalilah apa yang kau sebut iman yang memiliki harapan pada kasih

Hingga kau hidup damai, walaupun itu beda keyakinan

Kau hanya beda jalan tetapi saling menuju

Kepada sang Khalik

Pau, Kentol: GND 082019

 

Balada Anak Minta Air

Setelah bayi itu dilahirkan, dunia tersenyum dan menyapa

Lalu pagi pun merekah sehingga tahu ini kehangatan mentari

Bayi yang masih mungil menampakan ceria tanpa memikul beban

Sebab memang ibu masih memberi asuh dan asih

Membopongnya, ini ibumu anak!

Hingga bayi tertidur pulas

Ini memang hidup sejahtera dimiliki sang bayi

Tetapi, manusia punya fase untuk meningkat

Cerita saat masih bayi, kini berubah menjadi kanak-kanak

Maklum…

zaman kanak-kanak ingin tahu banyak hal

saat ibu, keluar rumah memikul tempat air

anak itu, mulai bertanya: aku ingin ikut bu!

Ibunya menyahut: tempatnya jauh, ibu ingin menimpa air

Bukan karena ibunya takut tetapi usaha mencari

Air di tanah kering, melahap lahan membuka sumur, memang sia-sia

Karena terpaksa ditolak, anak itu merenung diri

Bahwa hidupnya susah di zaman kekurangan air

Lantas, mau ke mana mencari air?

Tanyakan pada diri-mu dan mereka, kemanakah mencari air?

Saat kerongkongan mulai lelah akibat ketiadaan air

San Camillo, 240809

 

Ketika Nasib Membalut Luka

Di bawah pendar, indahnya pulau Nusa Bunga

Masih berdiri dalam sebuah potret

Yang nampaknya seperti ajal

Sebab, telah lama dimulai

Tentang Perdagangan Orang yang bertumbuh

Humus lagi indah dari kejauhan saja

Jika pemberian predikat wilayah toleransi

Patut diapresiasi

Lantas, menjadi kusam dan memperpucat

Bahwa orang kita sering diangkut dalam sebuah Koper

Yang tak bertuan! Dan mungkin bertanya: Kemanakah mereka?

Kita tak lagi bisa berlari

Ini memang nasib, kita yang tak punya berpijak

Soal hidup sejahtera

Katanya tak perlu belagu, sebab beranjak dari tanah ini!

Bias menikmati

Malaysia yang katanya “Ringgit Melangit” menjadikan hidup

Tak perlu kredit

Karena alasan nasib sekaligus ekonomi yang meradang

Gadis belia nan manis dan lugu, pergi…

Dengan hati yang tak karuan, dipicut gaji yang tinggi

Namun, apa? Tak disangka-sangka

Pulang hanya bawah dengan tangan hampa

Sebab segala gajian menjadi ratapan dan kreasi imajinatif para penyelundup

San Camillo, GND: Dohut, 060809

 

Kerinduan Menyoal Stunting

Memang kehidupan menjadi sebuah perdebatan

Sebab di dalamnya ada gelap dan cahaya

Cahaya selalu diimpikan

Namun, bagi orang yang Gennya bercahaya

Itu bukan impian tetapi sebagai akibat “kita ini keterunan sejahtera”

Bagaimana dengan kami?

Katanya “tubuh pendek” ini karena Gen orangtua

Lalu kini dilabeli kata metafora “Stunting”

Lalu cahaya mataku hanya menatap tembok

Sebab ini soal peradaban

Alih-alih pemerintah ingin menyentuh! Ini masalah kelam

Mengapa kita sering menyukai terlambat pencegahan

Daripada mengatasi

Riwayat stunting jarak mulai membentang, meluas dan menjangkit

Namun perlu kesadaran pilu selama waktu di punggungmu

Menanggung rindu dalam kata “sama-sama mengatasi”

Menjadi soal

Pemerintah jangan larut dalam APBD untuk keperluan beli ASPAL

Sebab garis ibu-ibu memiliki jejak

Mendapat asupan gizi, saat janin mulai bertumbuh

Lembah Pau: Kentol 082019

 

Sajak Berkarakter Menggaris Jejak

Apa yang bisa disentuh, ketika sekolah menjadi cacat!

Jika sekolah hanya menyentuh Kognotif

Lantas Psikologis yang memuat karakter

Belum ditempa secara matang

Kita sudah larut dalam mengacungkan kuantitatif lalu melupakan kualitatif

Untuk apa sekolah, jika pulang membawa

Busungkan dada, meninggi diri karena label Sarjana

Sedang masalah Korupsi, Pemerkosaan dan Pencurian

Masih saja termuat dalam kasus

Anak Sekolah Belum Berkarakter

Masihkah kita meninggi diri, saat kakek bertanya

Sebutkan empat pilar kebangsaan lalu

Kita dengan enteng menjawab, saya sudah lupa!

Kata lupa saja, berarti kita belum sepenuhnya menjadi terdidik

Memang dipinta tak bisa usai

Sekolah menjadi dipuja ketika embun-embun jiwa menjelma menjadi bijak

Dalam bertingkah dan berkata.

 

Agust Gunadin: Pecinta Kata di San Camillo, Ketua Kelompok Sastra “Salib Merah”. Beberapa puisi pernah diterbitkan Pos Kupang, Warta Flobamora, Majalah GSS OFM, Galeri Buku Jakarta, Flores Muda dan media onlinenya.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here