Gambar: Ilustrasi

Oleh: MARSELINUS KOKA, pemuda asal Minsi, Riung Barat, Flores dan sekarang tinggal di Filipina                      

Aku diberi nama Samsum saat diriku diciptakan beberapa tahun silam. Hape Samsum, sebuah merk yang paling diingini orang zaman ini. Keluaran terbaru dan belum tersaingi. Bertubuh ramping, sexi, ringan, dan mudah dibawah ke mana saja. Lengkap dengan berbagai aplikasi. Pokoknya cakep dan eksotik. Saat ini, aku dan kaumku menjadi satu dari sekian jenis hape yang paling dicari banyak kalangan. Kami seperti gadis cantik nan sexi. Menjadi idaman banyak pria. Aku dan kaumku menjadi magnet, dicari dan diingini. Dulu, saat pertama kali aku dan sahabat-sahabatku muncul di pasaran banyak orang yang tak cagung-cangung menghabiskan uang mereka untuk mendapatkan dikiku dan kaumku. Mereka tak peduli dengan ongkos yang terbilang sangat melambung untuk mendapatkan diriku. Yang terpenting diriku ini ada di saku celana mereka. Memiliki diriku menjadi semacam kehebatan tersendiri. Bahkan mereka akan merasa menjadi penting jika diriku ada di tangan mereka. Harga diri mereka itu diukur dari ada dan tidaknya diriku serta kaumku.

Sampai saat ini kami sadar bahwa ternyata aku dan kaumku semakin merajalela di dunia. Kami masuk dan menjalar ke seluruh pelosok negeri. Menembusi batas dan jarak, lautan dan samudra. Membuat dunia menjadi kampung sebuah kecil saja. Tanpa sekat tanpa hambatan. Ah, luarbiasa. Aku bangga dengan segala pencapaian serta kehebatan diriku dan kaumku.

Sejak awal aku dan sahabatku memang diciptakan untuk diam. Kami hanya mulai bersuara ketika salah satu aplikasi dalam tubuh diaktifkan. Misalnya saat musik diputar, saat youtube diaktifkan dan lain sebagainya. Secara esensial kami, aku dan kaumku hanyalah benda mati yang baru berfungsi jika diutak-atik oleh tangan manusia. Tugas dan misi kami hanya satu yakni melayani kebutuhan mereka. Memperlancar dan mempererat komunikasi diantara mereka. Mendekatkan yang jauh dan menjauh yang dekat. Itu tugas yang mau tidak mau harus kami patuhi dengan sabar tanpa banyak pertimbangan.

Setelah sekian tahun kami eksis di dunia, pelan-pelan kami mulai mengerti bahwa aku dan kaumku diciptakan bukan saja untuk memudahkan komunikasi tetapi kami diciptakan untuk melayani segala macam keinginan manusia termasuk hal-hal yang buruk sekalipun. Akhir-akhir ini banyak dari kaumku yang mengeluh karena tubuh mereka disalahfungsikan untuk hal-hal yang tidak wajar. Ketika manusia dilanda galau, sedih, kecewa, marah, sepih dan ataupun sedang bahagia. Kami selalu jadi sasaran pelampiasan perasaan mereka. Itu konsekwensi yang tidak bisa ditolak. Akan ada dan tetap selalu ada. Meski begitu kami memilih untuk bersabar dan menyimpan semua perkara itu pada memori tubuh kami.

Semakin jauh kami eksis. Semakin banyak kemudahan yang kami berikan pada manusia. Pada saat yang sama semakin rumit pula problem yang bermunculan. Aku dan kaumku mulai menangkap bahwa kehadiran kami memang menciptakan ancaman serius bagi manusia. Gara-gara salah memfungsikan diriku dan kaumku, baik tua maupun muda, kecil maupun besar, laki-laki maupun perempuan, semua dibuat candu. Hidup tanpa diriku dan kaumku ibarat sebuah hidup yang tak layak dihidupi.  Lihat saja. Setiap hari di saku baju dan celana mereka pasti ada diriku dan kaumku. Kemana saja mereka pergi yang dibawah pasti diriku. Entah itu ke pasar, ke kantor, ke kebun, ke mall, ke toilet, ke Gereja, dan ke Masjid yang mereka bawah pasti diriku dan kaumku. Tenaga dan perhatian mereka tertujuh dan beralih sepenuhnya ke diriku. Melihat diriku adalah keharusan. Tidak kenal waktu tidak kenal tempat. Di mana dan kapan saja. Di meja makan lihat diriku, di kapela lihat diriku, di kantor lihat diriku, saat pertemuan lihat diriku, saat tidur lihat diriku, bangun tengah malam lihat diriku. Dalam mimpipun lihat diriku. Mereka menjadi candu dan terasing dengan diri sendiri dan sesama di luar mereka.

*********

Oh ya, aku mau ceritakan sedikit saat aku dan kaumku di pamer di sebuah toko delapan tahuan yang lalu. Saat itu pas hari mulai siang, di sebuah tokoh, diriku dan kaumku dipajang dengan sangat indah. Rapih dan menawan. Belum beberapa jam berlalu, aku tiba-tiba ditawari oleh seorang laki-laki paruh baya. Umurnya kurang lebih lima puluhan tahun. Dari segi penampilan, dia seorang pejabat. Kayaknya level desa. Lebih tepatnyanya kepala desa. Saat itu dia menawari diriku dengan sangat elegan. Tanpa basa-basi dia membajak diriku seharga sepuluh juta lebih. Aku tahu itu harga yang cukup fantasis. Baginya itu terlalu mahal. Sangat murah bahkan. Saya, tidak tahu dari mana uang sebanyak itu ia dapat. Tapi tidak apa-apa. Barangkali itu gajinya. Tanpa menunggu terlalu lama dia langsung mengutak-atik tubuhku lalu pada bagian tertentu pada tubuh ditulis Josep. Ternyata itu namanya. Sejak saat itu aku mulai meladeni dirinya dengan penuh kepatuhan.

Di hari yang sama pula, sahabat disampingku ditawari oleh seorang laki-laki dewasa. Dia seumuran Joseph, mungkin hanya beda bulan lahir saja. Dari segi penampilan dia seorang bawahan. Mungkin mereka rekan kantor. Saya menduga dia sekretaris. Barangkali. Saat itu tanpa banyak berbasa-basi, dia dengan segerah membeli sabahabatku dengan harga yang serupa. Orang sering memanggil dirinya Markus. Sama seperti diriku, sahabatku pun mulai meladeni Markus dengan tekun sejak saat itu. Setelah seminggu berjalan, aku menjadi tahu bahwa ternyata mereka ini teman dekat. Sangat dekat bahkan. Dari waktu ke waktu mereka selalu mengunakan tubuh kami untuk keperluan mereka. Kirim SMS, Telepon, nonton filem, main game dan lain-lain. Nikmat benar dua orang ini.

Kini delapan tahun sudah aku berada di tangan Josep dan sahabatku berada ditangan Markus. Sejak awal, saya sudah berkomitmen untuk memberikan diriku seutuhnya pada Josep. Aku tak pernah lelah meladeni keinginannya. Apa saja yang dia mau saya layani dengan sungguh. Begitu juga sabahatku. Dia dengan sabar memberikan yang terbaik untuk memuaskan kebutuhan Markus. Siang-malam. Tak kenal waktu tak kenal lelah. Kalau saya tidak salah, sejak awal sekali aku diperlakukan dengan manja. Tidak semua orang bisa menyentuh diriku. Pokoknya hanya Josep. Sesekali isrtinya tapi tidak terlalu lama. Hanya sebentar. Selain itu, aku tidak boleh ditaruh di sembarangan tempat. Pokoknya disimpan di tempat aman. Dibungkus dan bersih mengkilat setiap waktu. Setelah sekian tahun berjalan bersama waktu aku harus jujur mengatakan bahwa akhir-akhir ini Josep memperlakukan diriku dengan sangat kasar dan bahkan sadis. Berkali-kali aku dibanting, dibuang, disepak dan dilempar. Sesukanya. Aku kadang ingin berteriak sekuat mungkin sambil berkata hei kau Josep pengecut! Tapi itu sangat tidak mungkin. Sebab aku dan kaumku hanya benda mati yang bisa menangis dalam bisu. Diam adalah takdir yang tidak bisa diubah.

Sejak awal aku mengetahui semua isi percakapan Josep dan kawan-kawannya. Terutama dengan Markus rekan kantornya ini. Kebanyakan isi percakapan mereka adalah tipu muslihat. Baik terhadap rakyat maupun istri dan anak mereka masing-masing. Sejak kedua terpilih sebagai pejabat penting di desa ini, tingkah mereka mulai sembarangan. Mereka sering menghilang sampai berhari-hari. Pergi entah ke mana. Sesuka mereka. Kalau ditanya, pasti mereka bilang ada urusan penting di kota tapi faktanya mereka ditempat lain. Dulu, saat hari mulai malam, saya kaget ketika keduanya saling balas pesan dan setelah beberapa saat mereka tiba-tiba masuk diskotik. Lalu saat ditanya oleh istrinya, kedua sepakat bilang ada rapat penting di kantor desa. Sebuah jawaban yang tidak asing lagi. Selalu dan selalu begitu ketika di tanya. Banyak kali mereka main judi dari pagi sampai pagi. Saya tidak tahu dari mana sejumlah uang itu mereka dapat.

Saat-saat seperti itu aku selalu punya keingin untuk berteriak. Berteriak sekeras mungkin. Tapi sayanganya aku dan kaumku tidak punya suara. Kami ditakdirkan untuk menjadi benda mati. Hape samsum.

Lebih dari apa yang saya ceritakan di atas saya kira ada satu percakapan penting mengenai satu kejahatan yang telah mereka buat. Sudah cukup lama saya berencana untuk membongkar semua kebobrokan itu, tetapi saya tidak tahu kepada siapa dan bagimana caranya. Keinginan itu selalu saya tunda dari waktu ke waktu. Sehingga, menyimpan pada memori tubuhku adalah pilihan terbaik. Tapi saya kira ini adalah waktu yang tepat membongkar semuanya. Percakapan ini belum diketahui oleh publik, tapi barangkali ini adalah kunci untuk mengetahui apa yang telah mereka buat selama ini. Percakapan mereka berbunyi begini. Joseph, aku takut kalau semua kebobrokan kita ini akan terbongkar suatu waktu nanti. Pesan Markus pada Josep. Ah Markus, kamu ini ada-ada saja, buang pikiran itu jauh-jauh, tidak ada satupun yang tahu tentang semua ini, pokoknya tenang, semua akan baik-baik saja. Balas Josep dengan nada meyakinkan. Eh, kau baca tidak itu berita di koran kemarin? Markus semakin mendesak. Berita apa? Tanya Joseph keheranan. Joseph, beberapa hari ini sudah banyak Kepala Desa masuk bui gara-gara ambil uangMereka ditangkap karena korupsi dana desa. Lanjut Markus ketakutan. Markus, kita punya kuasa. Saya ini pemimpin di desa ini. Lagian di desa ini banyak orang bodoh ko. Kawan, mereka tak akan berani lapor kita. Pokoknya aman dan semua akan baik-baik saja. Kawan ingat! kesempatan datang hanya satu kali. Tidak lebih. Kalau kau mau kaya ikut aku! Joseph kembali meyakinkan Markus dengan nada penuh kesombongan.

Isi percakapan seperti ini terus dikirim Markus dan Josep beberapa bulan belakangan ini. Pesan yang bernada takut bercampur gelisah di satu sisi dan bernada cukup optimis di sisi yang lain. Jalan pikiran Markus mulai tak menentu sejak mendengar kabar di koran itu. Padahal seingat saya dulu dia yang berinisiatif mengawali semua transaksi itu. Dia bahkan pernah bilang ke Joseph kalau dia tidak akan pernah ragu dengan siapapun jika semua kebobrokan ini akan terekspose ke publik.

Semua isi percakapan itu masih tersimpan rapi dalam diriku ini, hape Samsum yang kini ada di saku Joseph dan saku celana Markus. Saya sudah gerah dan muak dengan semua ini. Mereka keterlalauan sudah melumuri diriku dengan hal-hal busuk dan memalukan. Aku hanya ingin semua pesan ini disebarluarkan kemana-mana biar publik tahu apa yang sebenarnya telah mereka lakukan dengan dana desa beberapa bulan belakangan ini. Mereka amat berbahaya jika dibiarkan terus menjabat menjadi kepala desa dan aparat desa. Oleh karena itu, secepatnya kedua orang ini ditangkap dan masuk bui. Sebab kalau tidak, di tahun-tahun yang akan datang akan ada banyak ratusan dana desa yang mereka jarah. Dan keadaan desa akan terpuruk dari waktu ke waktu. Ya, mereka harus segerah ditangkap. Itu pesanku. Hape samsum yang kini ada di saku bajunya.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here