Beberapa siswi SMAN 7 Borong saat menari pada Pergelaran Seni Rakyat di Mbeling, Desa Gurung Liwut, Matim. (Foto: Floresa).

FloresMuda.comCara unik ditempuh oleh Siswa-siswi SMAN 7 Borong untuk mengisi hari ulang tahun RI ke-74, tahun ini.

Para pelajar SMA yang terletak di Desa Gurung Liwut, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur ini mementaskan kolaborasi seni: teatrikal perjuangan melawan penjajah, musik persekusi barang bekas, tari khas Manggarai dan permainan rakyat di lapangan di Desa itu.

Adegan demi adegan teatrikal, alunan musik persekusi barang bekas dan lenggang lenggok gerakan tari khas manggarai yang dikolabasi dalam pergelaran seni  yang diselenggarakan pada Jumat malam, 16 Agustus 2019 ini, berhasil menyedot perhatian ratusan warga Gurung Liwut.

Sandi, salah seorang warga  Gurung Liwut mengaku sangat terhibur dengan pameran seni ini.

“Pada saat mereka membawakan teatrikal, saya seperti tengah membaca sejarah perjuangan kemerdekaan dulu. Betul-betul terhipnotis,” ujarnya.

Ia berharap, talenta-talenta seni pada siswa-siswi di sekolah itu terus dibina dan dikembangkan.

Sementara itu, Imam Mozart, guru seni sekaligus penanggunjawab kegiatan itu mengatakan, “pergelaran seni rakyat” itu  merupakan kado HUT RI ke-74 dari SMAN 7 Borong untuk warga Gurung Liwut

“Kita sama-sama isi HUT RI ini dengan kegiatan yang memupuk solidaritas dan persaudaraan,” kata guru seni asal Bima, NTB itu.

Menurutnya, seni merupakan salah satu media perekat persaudaraan di masyarakat.

“Mari kita bersatu padu membangun bangsa, salah satunya melalui karya seni seperti ini,” ujarnya.

Ia mengatakan, dalam kolaborasi teatrikal, musik persekusi, dan tari khas Manggarai, para pemeran dan penonton diajak untuk tidak melupakan sejarah dan budaya yang merupakan identitas bangsa.

“Kiranya, ke depannya kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan melibatkan semua pihak, baik Pemerintah maupun masyarakat,” katanya.

Pantauan Floresa.co, ornamen-ornamen yang dipakai pada kegiatan ini, berasal dari bahan-bahan alami dan barang-barang bekas yang diberi warna merah-putih, warna bendera Indonesia.

Selain itu, busana yang dikenakan para penari dan pemeran teatrikal didominasi oleh pakaian motif Manggarai.

Dalam teatrikal perjuangan melawan penjajah, beberapa kali dibacakan puisi yang menggambarkan rasa cinta tanah air.

Selain itu, pada salah satu sesi pembacaan puisi dalam teatrikal itu, seorang pelajar juga mengkritik  kondisi Negara Indonesia yang belum menunjukan kemerdekaan yang sesungguhnya.

“Inikah yang namanya kemerdekaan?” Demikian pertanyaan retoris dalam puisi yang dibacakan oleh pelajar itu.

ADR/Floresa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here