Gabriela Fernandez. (Foto: Page FB Gabriela Fernandez).

FloresMuda.comGabriela Fernandez menyanyikan sejumlah lagu ciptaannya di Rumah Kreasi Baku-Peduli, Labuan Bajo pada Rabu, malam 12 Juni 2019. Lirik-lirik yang dilantunkan gadis berdarah Larantuka-Flores Timur itu nampak lekat dengan kehidupan sehari-hari, yang menurutnya tentang cerita dan pengalamannya sendiri.

Ia membawakan empat lagu, diantaranya, “Sepeda Tua”, “Insomnia”, “Tumbuh Dewasa” serta “Aku, Kamu dan Dua Cangkir Kopi” sekaligus membuka kelas berbagi bersama sekitar puluhan kawan-kawan muda Labuan Bajo.

Pada kesempatan itu, banyak hal yang ia bagikan, terutama proses-proses kreatif dalam mencitpakan lagu.

Menurut Geby, demikian ia biasa disapa, judul serta lirik dalam lagu-lagu itu menjelaskan tentang banyak hal. Selain melukiskan kenangannya, juga tentang aliran musik yang dipilihnya.

Namun, lagu-lagu tersebut tidak jadi begitu saja. Ada dinamika dan tentunya cerita di baliknya. Dan, hal  yang paling penting menurutnya ialah proses berharga yang harus ia lewati hingga lagu-lagu tersebut dirilis.

Salah satunya, katanya ialah kebiasaan untuk mencatat setiap ide atau merekam nada-nada yang tiba-tiba saja melintas di pikiran. Pasalnya, jika tidak menggunakan cara demikian, ide-ide bisa saja hilang.

“Rasa atau ide kalau tidak kita tangkap akan menguap dan bisa lupa,” tuturnya.

Hingga saat ini, ia memiliki begitu banyak catatan bahkan diarynya ia jadikan sebagai buku penulisan lagu. Di telepon selulernya juga demikian, ia mengoleksi banyak sekali rekaman nada-nada yang tiba-tiba saja muncul kapan dan di mana pun.

“Ketika kita hendak menulis lagu, kita bisa buka itu. Kalau aku, caranya seperti itu,” ujarnya.

Ada begitu banyak pertanyaan dari kawan-kawan muda yang hadir. Salah satu peserta menanyakan cara untuk mencintai lagu ciptaan sendiri. Pasalnya, ada rasa ketidakpercayaan diri ketika mendengarkan lagu-lagu sendiri. Bahkan, menganggapnya jelek sehingga malu untuk diperdengarkan kepada orang lain.

Namun, menurut Geby, semua itu adalah proses. Ia juga pernah melewati masa seperti itu.

“Sering banget terjadi, dengarin sendiri, aku ga (tidak) suka. Tapi, ga apa-apa. Justru hal-hal yang sudah pernah terpikir. Coba simpan saja dan suatu hari nanti bisa kita lanjutkan atau menjadi ide untuk menciptakan lagu-lagu lain,” tuturnya.

Saat awal-awal kuliah di Universitas Sanata Darma Yogyakarta, ia juga pernah melewati masa di mana membentuk band dan menyanyikan lagu-lagu orang lain atau yang sering disebut cover. Namun, suatu waktu, ia memutuskan untuk menulis dan menyanyikan lagu-lagu karyanya sendiri.

Ia beralasan, lagu-lagu ciptaannya sendiri mewakili cerita sendiri. Sementara, lagu-lagu orang itu ialah cerita orang lain. Ia mengibaratkan lagu ciptaan sendiri sebagai anak kandung. Saat dinyanyikan di hadapan orang, sama halnya tengah memperkenalkan anak itu kepada orang lain juga.

‘Rasanya beda membawakan lagu karyaku sendiri,” ujarnya.

“Aku merasa beda banget ketika membawakan lagu orang dan saat membawa lagu sendiri. Saat menyanyikan lagu sendiri, aku merasa lagi curhat, aku lagi dongeng, aku lagi ngomong,” ungkapnya.

Selain itu, tuturnya, untuk menjadi seperti saat ini, ia tidak pernah berhenti belajar. Di Yogyakarta, tempat di mana ia sekarang menetap, ia sudah berinteraksi dengan musisi dari berbagai gendre. Misalnya, untuk memahami musik etnik, harus berinteraksi dengan kelompok-kelompok pemusik etnik dari berbagai tempat dari seluruh Indonesia.

Tak berhenti pada penciptaan lagu, ia juga harus memperkenalkan lagu-lagunya kepada publik. Perkembangan dunia teknologi dan informasi, katanya cukup mendukung hal itu. Ia memanfaatkan saluran-saluran yang ada seperti Youbube, Spotify, Joox dan sebagainya.

Labuan Bajo merupakan kota terakhir di daerah Flores yang ia kunjungi dalam tour bertajuk “Trip Menuju Timur”. Sebelumnya, ia juga berbagi dengan kawan-kawan di Kupang, Maumere, Bajawa, Ruteng dan beberapa lainnya.

Setelah Labuan Bajo, ia juga akan melanjutkan tripnya ke Lombok serta Bali.

Kepada kawula muda yang hadir pada malam kelas berbagi itu, ia berpesan agar berani menentukan pilihan akan masa depan. Jika ingin menggeluti dunia musik, katanya harus bisa menentukan kekhasan sehingga bisa dengan mudah dikenal.

“Tetap semangat, terus berkarya dan temukan kekhasan kalian,” tutupnya.

Kepada kawula muda yang hadir pada malam kelas berbagi itu, ia berpesan agar berani menentukan pilihan akan masa depan. Jika ingin menggeluti dunia musik, katanya harus bisa menentukan kekhasan sehingga bisa dengan mudah dikenal.

“Tetap semangat, terus berkarya dan temukan kekhasan kalian,” tutupnya.

FLORESMUDA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here