SELIMUT, Antologi Sajak Aldoez Wae

*) Aldoez Wae

SELIMUT

Bisik manja menyapa malam
Merayu mata tuk berkedip
Menatap langit tak bertabur bintang
Mata tak lagi berdaya
Mengintip seribu gelisah
Akhirnya jatuh dalam pelukan selimut
Malam pun berlalu tanpa makna

ANGIN

Bercumbu mesra bersama mimpi
Mengukir angkasa nan membahana
Datang dan pergi tanpa tujuan
Berlalu bagai angin
Janjinya hanyalah bingkai
Penghibur kesejukan hati
Pengubur harapan rakyat
Serakah tak berbagi
Jeruji menanti
Angin, arahnya pasti

GELAS KACA

Tangkainya nampak indah
Menampung aneka cairan
Dahaga terpuaskan
Kacanya selalu berseri
Gelasnya tetap asri
Noda hitam jangan ditaburi
Sebab itu hanyalah gelas kaca
Malu aku menodainya
Biarkan keindahannya selalu terpancar
Karna itu milik kita bersama

JENDELA

Tirai hijau membentang
Kaca hitam menepis angin
Cahaya tak tertembus
Ruang sunyi serempak gelap
Jendelanya telah terkunci rapat
Matanya telah rabun
Hatinya sudah tumpul
Akalnya tak lagi sehat
Lautan uang telah mengepung
Agendanya sebatas privat
Publik terus bugkam
Jendelanya masih terkunci
Kuasanya tak tertandingi
Meja hijau tak tersentuh
Ketukan palu tak terdengar
Malunya sudah tiada
Jendela pun tak berani dibuka

SUBUH

Jam empat subuh toa berbunyi
Terjaga mengucap syukur
Nyanyian kudus berkumandang
Mengajak sejenak berpaling
Hidup milik Sang Kuasa
Ternyata hari sudah subuh
Tuhan, pagi Engkau adakan lagi
Nafas Engkau berikan lagi

SANG MANTAN

Merona pesona, tak lekang termakan zaman
Parasmu tampak menawan menghias kemuliaan dunia
Tetaplah sang mantan
Malam engkau kembali, terlarut dalam mimpi
Mengukir kisah lama
Lalu menghilang terbawa hawa malam
Tatapan sang mantan
Tersipu malu aku karenamu


Wilibaldus Wae, disapa Aldoez, Mahasiswa Fakultas Hukum UAJY. Asal Kisol, Kota Komba, Manggarai Timur.
Djogja, 5 Jan ‘16
Grinjing 18, 04.00
Aldoez Wae

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BACA JUGA