KEPADA JULIA, Antologi Sajak Vianey Lein

*) Vianey Lein

KEPADA JULIA

Julia,
Gita Natal „Malam Kudus“ telah kita nyanyikan
bersama dawai-dawai musim dingin yang hingga kini
belum meninggalkan jejak salju di rahim kota
Tirai Tahun Baru juga telah kita lucuti
di bawah kembang api yang meleleh bersama aliran darah kita
yang teramat dingin hingga ke telaga nurani

Tapi aku merasa, sepertinya tidak ada yang berubah di sungai waktu,
sebagaimana kata Pengkhotbah: „tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.“
Bukan maksud aku menegasi Filosofi panta rhei kai uden menei-nya Herkleitos
yang mendefiniskan perubahan-perubahan di alam semesta:
“semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap.
Dan seseorang tidak dapat turun dua kali ke sungai yang sama“.

Kamu tahu Julia,
Hingga detik ini koran-koran terus mengabarkan kematian
akibat perang dan teror
Gelombang Radio terus memberitakan berbagai krisis yang melanda bumi,
mulai dari krisis ekonomi hingga krisis kemanusiaan
Siaran televisi juga masih menyajikan peradilan sesat atas nama uang dan kuasa
Ratusan anak meregang nyawa karena wabah penyakit dan busung lapar
Di kampung dan dusun-dusun terpencil
Ribuan rakyat kecil berkumur debu dan limbah pabrik
karena kurangnya persediaan air minum bersih

Lalu apa arti „Perubahan“: „adanya sesuatu yang sebelumnya tidak ada – dan
tidak adanya sesuatu yang sebelumnya ada“,
yang kau definisikan di penghujung tahun kemarin?
Kutub kehidupan masih bergerak ke arah yang sama
Dan orang-orang terus melakoni peran lama sebuah drama
Yang bukan ditulis dengan tangan dan ide sendiri
Karena jemari-jemari kebebasan telah dipasung,
nalar berpikir terjebak dalam amnesia kronis dan rekayasa sejarah

Julia,
sisipkan sebentar butir-butir salju di kepalaku
membendung didih gurun – membenam kerontang menantang
dan bantu aku temukan perubahan
Mari kita mengubah dan diubah dalam Dia

ZIARAH

Permenungan panjang tentang jalan hidup yang terbentang
Antara rumah dan kapela
Merenungi halaman-halaman bertabur debu
Dan ubin beralas karpet
Aku di antara gempuran waktu
Dilindas masa silam dan masa depan
Dan seperti mentari mengarungi langit dari timur ke barat
Kau menantang jiwaku
Merengkuh petualangan baru
Ya, aku harus turun ke jalan-jalan itu memunguti nasib
Di atas gurun salju dan hamparan daun gugur
Di antara bongkahan debu kemarau dan bulir hujan
Di antara rumahku dan rumahMu: itu ziarahku!

DOA

Tuhan,
dengan tangan pucat dan keringat
kudesiskan doa yang telah lama kusut
tentang cemas dan ragu yang kini mengepung batinku

dengan bibir bergemetar
kuceritakan kisahku setahun silam
tentang perjumpaan dan perpisahan
tentang mencari dan menemukan kembali
tentang harap dan putus asa

Tuhan,
Kenapa diam … ???

Sankt Augustin Meindorf,
Awal Januari 2016


Vianey Lein
Kelahiran Mokantarak – Larantuka – Flores
Tinggal di Jerman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BACA JUGA