*) Joan Udu

 

SURAT UNTUK LENA

Lena, meski hadir bayangmu
Hanya kurasakan dalam aroma kopi
Tak letih kuseduh dongeng dalam irama kata,
“Masihkah kau ingat, Lena
Bahwa Tuhan adalah penyair
Pencinta sastra, dan kitab-kitab suci
Adalah karya-karya agungnya”

Masihkah Lena?

(Scotus, 11/11/2014)

 

MEMORABILIA

Hujan menumbuk sekujur pagi
Angin apalagi. Menebas ilalang sesukanya
Hari itu bola api raksasa menunggu
di balik tetes embun yang berguguran
Tak lama ibu berjibaku, menderit sangat lirih
ia melahirkan bayi kembar:
aku dan gemuruh ketakutanku

(Scotus, 22/12/2014)

 

DOA

Di bunga luka-Mu yang lepuh
Kucuci bekas-bekas bilah tombak mereka
Lalu aku rebah. Mencium setiap bilurnya
Begitu lama, sampai malam mendirikan sepi
Secangkir kopi tak lupa aku reguk
Untuk meremuk kalut dan kantuk
Aku mereguknya dalam mimpi

(Scotus, 4/5/2015)

 

EPIKLESE

Di atas mezbah purba itu
kita hidangkan menu pagi:
segelas anggur putih, sebakul roti mungil
Tak lupa sajak-sajak tua kita takhtakan
di depan barisan piala dan mangkuk-mangkuk patena
Aku teringat dengung suara lelaki tua itu:
“Jadikan putih anggur dan bakul roti ini
sebagai darah dan tubuhmu sendiri”

Sejurus tembang menggelegar pecah:
“Bersabdalah saja, kami akan sembuh”.

(Scotus, 12/10/2015)

 

Joan Udu (Pada tahun 2011-2012 menjadi ketua Komunitas Sastra Ampas di Seminari St. Yohanes Paulus II, Labuan Bajo. Antologi puisi yang pernah diterbitkan, Rindu di Ujung Senja (2012). Aktif menulis puisi dan cerpen di Jawa Pos, Pos Kupang, Flores Pos, Floresa.co, dan majalah Gita Sang Surya. Saat ini menjadi wakil pemimpin redaksi Jurnal Filsafat Driyarkara dan berkesenian di Komunitas Sastra F-Minor, Jakarta).

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here