Seni Sebagai Medan Tempur Simbolik

*) Mart Sakeus
Pengampuh Lontart Gallery Labuan Bajo

Seni dapat dikatakan sebagai bentuk spesifik dari komunikasi dengan karakternya seperti nilai estetis, lebih padat serta konteks komunikasi artistik seringkali mengindikasikan bahwa satu hal tertentu tengah berlangsung.

Bahasa seni merepresentasikan situasi alam, masyarakat serta budayanya. Oleh karena itu, seni dapat dikatakan sebagai gudang penyimpanan makna. Tentu seniman sebagai produksi kebudayaan menjadi penting dalam konteks ini, karena ia mampu membahasakan situasi di sekitarnya dengan cara yang berbeda.

Seniman tidak saja bekerja untuk mendokumentasikan realitas tetapi ia harus mampu melakukakan tinjauan kritis terhadap realitas tersebut. Produksi dan peristiwa artistik akan menjadi penting ketika seniman mampu mendobrak berbagai tatanan sosial serta persoalan-persoalan krusial yang penting untuk diperjuangkan.

Dalam konteks ini jelas, bahwa fungsi seni tidak saja sebagai hiburan, pendidikan, tentu juga sebagai medan tempur simbolik. Dengan tanda-tanda yang diproduksi oleh seniman mampu memperjuangkan situasi-situasi yang ditindas oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap kepentingan alam, masyarakat dan budaya. Pada wilayah ini tentu kita sadar bahwa peran seniman sangat mutlak untuk memperjuangkan nilai-nilai tersebut.

Aspek lain yang tidak kalah penting untuk dikritisi adalah budaya yang setiap saat mengalami transformasi. Kesadaran seniman untuk melihat fenomena ini penting untuk diperjuangkan. Bagaimana tidak, kesadaran masyarakat mulai menurun terhadap apresiasi budaya lokal. Perlunya kampanye untuk menumbuhkan kembali rasa kecintaannya terhadap budaya lokal, sebab karya seni merupakan aspek dari kebudayaan yang perlu diwariskan ke generasi selanjutnya. Dengan demikian nilai-nilai kebudayaan itu dapat dipertahankan dan dinikmatin oleh anak cucu kita.

“Dengan tanda-tanda yang diproduksi oleh seniman mampu memperjuangkan situasi-situasi yang ditindas oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap kepentingan alam, masyarakat dan budaya. Pada wilayah ini tentu kita sadar bahwa peran seniman sangat mutlak untuk memperjuangkan nilai-nilai tersebut”

Lalu, bagaimana dengan alam yang setiap saat mengalami deforestasi, pencemaran air laut, hilangnya areal hijau dengan pembangunan dan menjadikan lahan bisnis, pencaplokan terhadap ruang publik, jalan umum sebagai tempat pembuangan sampah, satwa-satwa liar dibantai keji, rebutan air, pertikaian atas sumber air.

Apakah kita hanya berdiam dan menikmatin semua itu? Alam tidak akan berbicara, tetapi bencana alam akan menghantam manusia. Perlu dicatat bahwa masalah lingkungan adalah bagian dari keprihatinan pelaku seni. Peran seniman tidak saja mengkritisi realitas ini tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan ini.

Gagasan dasar inilah yang menjadi dasar kurasi sekaligus basis epistemic pameran seni visual yang dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober – 10 November 2015 di Tree Top Labuan Bajo di bawah tema A Walk to Remember.

Kehadiran tema ini sebagai bentuk representasi terkait pergolakan-pergolakan situasi sosial, budaya, dan alam yang terjadi di Manggarai Barat. Dalam pameran ini, seniman melakukan 3 aspek penting yaitu mendokumentasi realitas, mengkritisi realitas, dan menjadi bagian dari perjuangan. Dalam konteks ini seni sebagai media hiburan, pendidikan, dan sebagai medan tempur simbolik.

Karya-karya yang dipamerkan dalam pameran ini berupa lukisan, instalasi, mural, Video Art, Eco Art, Performing art, dan fotografi. Pameran ini diikutsertakan seniman-seniman lokal, nasional dan beberapa seniman luar negeri. Setidaknya pameran ini sebagai ukuran kemajuan seni visual Manggarai Barat baik dalam skala nasional ataupun internasional. Selamat berapresiasi. Salam budaya.

Untuk mengetahui dan mendapat informasi lebih tentang
Mart Sakeus dan Gallery yang di ampunya,
kita bisa mengunjunginya di sini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BACA JUGA