Ratna Hadir. (Foto: Istimewa).

Oleh: RATNA HADIR, Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bali dan Alumnus SMAK Santo Ignatius Loyola – Labuan Bajo

“Perbedaan adalah keniscayaan. Menolaknya merupakan kesia-siaan”

Saya adalah salah satu pendatang baru di Pulau Seribu Pura – Bali. Saya ialah salah satu dari sekian banyakknya perantau dari Indonesia Timur, khususnya Flores dan lebih khsusu dari Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Setelah sekitar setahun saya hidup di Bali, saya menemukan banyak hal baru. Dan, tentunya jika dibandingkan dengan Labuan Bajo di mana saya dibesarkan dan menempuh pendidikan dasar hingga sekolah menengah.

Jika di ibu kota Kabupaten Manggarai Barat itu saya menjadi salah satu bagian dari kelompok mayoritas kepercayaan Katolik, beda halnya dengan di Bali. Di sini, saya menjadi satu satu dari sekelompok kecil yang menganut kepercayaan itu. Di luar itu, ada komunitas kepercayaan mayoritas. Artinya, dalam hal kepercayaan, di sini (Bali) saya memiliki pekerjaan dan bahan pembelajaran tersendiri di sini.

Kata orang, menjadi minoritas di salah satu tempat bukanlah hal yang  menyenangkan. Dan, saya, seorang bocah bocah belasan tahun yang baru menyelesaikan masa putih abu-abu juga diajak untuk berpikir demikian di tanah rantau. Apalagi, saya juga tidak pernah memiliki pengalaman dan tentu gambran yang utuh tentang hal tersebut. Saya jadi bertanya, bagaimana rasanya menjadi minoritas? Entahlah.

Walaupun cerita-cerita itu acap kali saya dengar, pada saat yang sama, saya sendiri terpacu untuk belajar bagaimana menjadi perantau yang berani untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru.

Saya sendiri meninggalkan Labuan Bajo menuju Pulau Dewata pada Juni 2018 lalu. Saya berangkat sendiri. Tak banyak hal yang saya pedulikan.  Bisa dibilang, hanya bermodalkan tekad dan rasa ingin tahu yang besar.

Ratna bersama dua kawannya, Kadek dan Lukita.

Hari begitu cepat berlalu, perkuliahan pun dimulai. Seperti biasa, kurang lebih dua minggu pertama, perkuliahan lebih banyak dihabiskan untuk perkenalan dosen dengan teman-teman baru. Dan, dari sekian banyak mahasiswa yang ada, saya sendiri yang berasal dari Flores dan Labuan Bajo khususnya. Sisanya ialah dari tempat lain. Beragam.

Kenyataan itu sempat membuat saya tidak percaya diri. Ada rasa patah semangat hingga berpikiran bahwa saya akan susah mendapatkan teman yang bisa mengerti saya. Salah satunya ialah saat saya berbicara. Apalagi banyak yang menyebut jika dialeg orang Indonesia Timur sudah dimengerti. Terlepas dari apa yang akan terjadi setelahnya, saya pikir, apa yang saya cemaskan ini sangat manusiawi. Tentu, di luar sana, banyak juga yang berpikiran seperti saya.

Namun, perlahan, saya tenggelam dalam relasi dengan teman-teman saya. Saya mencoba mengamati dan menyandingkan cerita-cerita terdahulu dengan apa yang saya alami hari ini. Dan, ternyata apa yang saya cemaskan tidak terjadi. Kenyataannya, saya dengan mudah mendapatkan teman. Semuanya berjalan dengan baik. Bahkan, saya juga mendapatkan teman yang bukan cuma sekadar mengerjakan tugas secara bersama di kelas, tetapi juga bisa diajak jalan-jalan, belajar bersama di luar kampus, atau yang sering disebut pertner in crime.

Satunya bernama Kadek Windi. Dia berasal dari Bali. Dan, nama “Kadek” ialah sebutan untuk anak kedua bagi orang Bali. Dia sendiri beragama hindu. Lalu, yang kedua bernama Lukita. Berasal dari pulau tetangga yaitu Lombok, Nusa Tenggara Barat. Lukita sendiri seorang Muslim. Dan, saya sendiri seorang Katolik. Lebih dari teman, saya sendiri sudah megaanggap keduanya sebagai sahabat.

Sejenak saya berpikir akankah semua tetap berjalan sesuai yang diharapkan? Saya sempat menceritakan kepada kedua orang tua saya tentang persahanatan kami. Respon orang tua saya sangat luar biasa. Mereka tidak begitu peduli dengan perbedaan. Bagi mereka, hal paling penting ialah, saya dan juga kedua teman saya bisa menjadi orang baik bagi kami satu sama lain dan juga bagi orang lain.

Bagaimana kira-kira menggambarkan persahabatan di antara kami bertiga? Sedikit berbagi. Suatu hari kami bertiga tidak ada aktivitas perkuliahan. Kami pun memilih berkumpul di kosan Lukita. Selesai makan malam, kami semua sibuk dengan gadget masing-masing, sampai lupa bilang good night satu ke yang lain.

Pagi harinya, Kadek serentak membangunkan saya. Dia langsung bertanya: Hey kamu, ngapain masih tidur? Lukita juga ikut menyahut: Kamu ngga ingat hari ini hari apa?” Saya diam sejenak. Serentak saya bangun, mandi dan bergegas ke gereja.

Semenjak itu, kami tidak sungkan mengingatkan satu sama lain untuk berdoa menurut kepercayaan kami masing-masing. Tak jarang saya menemani Lukita sholat ataupun Windi yang sembahyang di Pura. Hal itu sudah menjadi hal biasa bagi saya. Sebaliknya, mereka juga temani saya saat ke Gereja. Saya melihatnya, inilah wujud toleransi yang saya alami sendiri, tanpa ada diskusi dan perdebatan yang panjang layaknya yang terjadi di media hari-hari in.

Saya merasa ini, apa yang saya alami benar-benar sempurna. Agama boleh berbeda, tetapi saya yakin Tuhan tetap satu. Agama hanyalah jalan menuju Tuhan yang satu itu. Kira-kira itulah kata-kata yang menjadi fondasi dalam persahabatan kami hingga hari ini. Saya berharap, apa yang kami alami hari ini akan tetap seperti ini di hari-hari yang akan datang.

Di luar sana, mungkin ada teman-teman yang juga punya pengalaman serupa dengan saya. Dan, saya berharap, jangan pernah lupa untuk mensyukuri itu.

Sementara, kepada teman-teman yang mungkin belum bisa untuk membangun komunitasi dan persahabatan dengan teman-teman yang berbeda keyakinan, cobalah untuk memulai. Jangan pernah memilih kepada siapa kita berteman karena kesamaan suku, ras, agama dan golongan. Akhirnay saya berpikiran bahwa “Perbedaan adalah keniscayaan. Menolaknya atau memaksa semua sama adalah pekerjaan yang sia-sia”.

Salam!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here