Penari siswi SMAK St. Ignatius Loyola dalam acara Expo Budaya Manggarai yang digelar di aula sekolah tersebut pada Selasa, 30 April 2019.

(Refleksi Pasca Pementasan Seni Pertunjukan Antroho’o #ManggaraiMomang)   

Oleh: Harris Meo Ligo, Pengajar di SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo

Pada tahun 1996, Andar Manik, seorang seniman ‘performance art’ mengadakan tur seni pertunjukan ke daratan Eropa. Dalam tur seni pertunjukan tersebut, Malik ‘berteriak’ “culture, culture lama sabakhtani”. Manik tentunya memplesetkan teriakan Yesus “Eli, Eli lama sabakhtani” yang artinya “Ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan daku” ketika Ia bergulat dengan penderitaannya di atas salib.

Pertanyaannya: mengapa Manik lebih memilih teriakan tersebut sebagai tema utama perfomance artnya? Hemat saya, seperti Yesus, pada titik tertentu, Manik memiliki pergulatan yang sama. Refleksinya berpusar pada ketercerabutan manusia pada budayanya sendiri. Manik hendak menempatkan dirinya sebagai ‘budaya’ dan ia berteriak kepada manusia yang telah “meninggalkannya”. Lalu apa hubungannya dengan kegiatan Antroho’o #manggarai momang yang diselenggarakan oleh OSIS SMAK St. Ignatius Loyola pada tanggal 30 April 2019 itu?

Antroho’o: Memahami lalu Mencintai Budaya Secara Kritis   

Pada mulanya adalah cinta. Dan akhirnya cinta itu menelurkan inspirasi serta ide-ide kreatif untuk menyelenggarakan kegiatan yang mengusung brandname Antroho’o #manggarai momang. Secara garis besar, Antroho’o merupakan suatu expo budaya Manggarai melalui medium seni pertunjukan. Apa dan mengapa (harus) Antroho’o? Nama tersebut diambil dari dua suku kata dan dua bahasa yang berbeda Antro dan Ho’o. Antro dari bahasa Yunani Antrophus yang artinya manusia tetapi kemudian dipakai dalam nomenklatur Antropologi sebagai ilmu yang mempelajari manusia dan kebudaayaannya. Maka, arti yang dipakai dalam konteks kegiatan ini adalah budaya. Sementara itu, ho’o adalah kata bahasa Manggarai yang artinya “ini”. Sehingga secara leksikal, Antroho’o berarti “Ini Budaya”. Sedangkan “Manggarai Momang” artinya, Manggarai yang tercinta.

Pemilihan brandname kegiatan ini tentu bukan asal copot saja. Kegalauan Manik dalam seruannya ‘Culture, Culture, lama sabakhtani’ tentu juga pada tataran tertentu menjadi kegalauan para siswa/i SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo. Berangkat dari penelitian-penelitian sederhana serta diskusi diskusi kecil tentang budaya, khususnya budaya Manggarai, para siswa/i menemukan ruang untuk menggali sendiri akar-akar persoalan. Setidaknya ada dua gagasan pokok yang mengemuka dalam diskursus tersebut.

Pertama, adanya fenomen yang meresahkan di kalangan generasi muda sekarang ini yang perlahan-lahan mulai tercerabut dari akar budayanya sendiri. Globalisasi telah menyedot intensi dan minat kaum muda untuk mencemplungkan dirinya ke dalam berbagai wahana kecanggihan teknologi. Selain itu, gaya hidup dan kultur modern juga tak pelak diadopsi menjadi gaya hidup yang kompatibel bagi generasi zaman now. Sebagai konsekuensi logisnya, budaya tradisional tersisihkan dari perjumpaan antar budaya tersebut.

Bukannya bersikap pesimis tetapi kita bisa mengukur dari pemahaman para siswa. Dari observasi sederhana saya, tidak semua siswa mengetahui secara mendalam kebudayaannya sendiri. Misalnya dari 10 siswa yang diwawancarai hanya 2 saja yang mengetahui secara mendalam apa itu tradisi Oke Dara Ta’a atau yang bisa menjelaskan budaya perkawinan Lili. Mungkin hanya siswa/i yang berasal dari pedesaan saja yang bisa menjelaskan secara baik selebihnya kurang memahami bahkan tidak tahu sama sekali. Memang alangkah naif jika saya membuat generalisasi atas penelitian tersebut, tetapi setidaknya hal tersebut memberikan sedikit gambaran tentang kondisi generasi muda kita saat ini.

Gagasan untuk menyelenggarakan Expo Budaya Antroho’o pada titik ini seyogyanya bukan bertendensi untuk hura-hura saja atau hanya sekadar menyukseskan program OSIS. Tetapi lebih daripada itu, kegiatan ini merupakan wujud kebangkitan kesadaran bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk melestarikan budayanya sendiri. Itu bisa terealisasi apabila mereka pertama-tama mengenal dan memahami budayanya secara mendalam. Tak kenal maka tak sayang, kan?

Kedua, mencintai budaya secara kritis. Budaya pada dasarnya merupakan warisan berharga dari para leluhur. Jika kita mendalami setiap kebudayaan maka kita akan menemukan nilai-nilai luhur kehidupan. Namun tidak bisa kita sangkal bahwa seiring dengan perkembangan zaman nilai-nilai tersebut tergerus oleh ketamakan manusia.

Budaya yang adalah subjek imaterial dikomodifikasi demi pemenuhan kebutuhan material manusia. Ada pergeseran makna yang masif dari budaya itu sendiri. Manusia-manusia moderen membuat rasionalisasi sedemikian rupa sehingga orang diyakinkan untuk menerima faktum bahwa budaya yang lahir sejak zaman nenek moyang masih tetap lestari nilai-nilai luhurnya hingga saat ini. Padahal itu semua hanyalah kesadaran palsu, meminjam istilah Georg Lucaks, seorang filsuf Neo-Marxis.

Pergulatan kultural di atas juga mengemuka dalam diskusi-diskusi kecil dan sederhana di kelas. Siswa/i SMAK Loyola terlebih khusus yang mendalami mata pelajaran Antropologi meneliti budaya tradisional lewat wawancara dan amatan sederhana. Dari penelitian sederhana tersebut, mereka menggali kazanah budaya Manggarai sembari dipantik untuk mengkritisi budayanya sendiri. Salah satu topik budaya yang ‘panas’ diperdebatkan di kelas adalah soal belis. Mereka berdiskursus sampai mencapai suatu pemahaman bersama bahwa belis pada dasarnya merupakan warisan budaya yang mesti dijaga.

Namun ada catatan kritis yang perlu diperhatikan yaitu bahwa terkadang belis menjadi ajang ‘transaksi bisnis’ atas nama budaya. Justru praktik semacam inilah yang kemudian melecehkan nilai-nilai luhur budaya. Dan itu yang perlu generasi muda kritisi.

Antroho’o: Transformasi Budaya Melalui Medium Seni Pertunjukan

Ada banyak jalan ke Roma. Demikian pun juga dengan usaha pelestarian budaya. Siswa/i SMAK Loyola meyakini bahwa ada banyak cara untuk mempelajari, mendalami serta mencintai budayanya sendiri. Salah satu wadah alternatif adalah melalui medium seni pertunjukan. Seni adalah ruang alternatif yang diyakini bisa memadukan multi-aspek pembelajaran mulai dari seni pertunjukan itu sendiri, pembelajaran kebudayaan sampai pada membangkitkan kesadaran transformasi budaya. Dengan kata lain, kami meyakini akan daya cipta dari seni atau meminjam pendapat Herbert Marcuse, seni memiliki ‘kekuatan magis’ untuk menunjukan cacat dalam pengalaman sehari-hari. (Frans Magnis-Suseno:2002)

Kegiatan Expo Budaya Manggarai Antroho’o #manggaraimomang seyogyanya meliputi pementasan drama, monolog, tarian tradisional dan musik. Drama dan monolog yang menjadi ‘muatan dasar’ acara ini sesungguhnya mengangkat realitas sosial-kultural masyarakat Manggarai. Maka tak heran jika kita menyaksikan bagaimana budaya belis dan persoalannya diangkat dalam drama atau budaya Pande Molas Kole dimonologkan dengan sisipan suara-suara kritis mereka sendiri. Selain itu, proses penciptaan drama dan monolog mengikuti teknik penciptaan bersama (collective creation) semua siswa/i mengambil peran aktifnya masing-masing mulai dari riset, penciptaan naskah sampai pada penyutradaraan. Dengan kata lain, kegiatan Antroho’o ini sesungguhnya merupakan suatu proses pembelajaran yang utuh dengan perpaduan berbagai dimensi pembelajaran. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Akhirnya, harapan besar berada di pundak generasi muda kita bahwa budaya lokal kita tetap lestari dengan nilai-nilai luhurnya yang masih terjaga filosofinya. Antroho’o adalah dari Loyola untuk Manggarai dan Indonesia. Manggarai Momang, Indonesia Momang.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here