Ilustrasi (Foto: FloresMuda).

Oleh: Patrisius Epin Du, SMM, Mahasiswa STFT Widya Sasana-Malang

Matahari kembali menjemput dunia, ia hendak menyapa reremputan, dedaunan dan berbagai macam tumbuh-tumbuhan dengan sinarnya. Kegiatan demikian seolah menjadi rutinitas harian dari sang surya. Ia tidak enggan menghapus jejak embun pada dedaunan. Cerita tentang matahari di pagi hari juga memiliki kesamaan cerita dengan seorang bernama Berto. Berto menjemput pagi dengan rutinitas hariannya yang ia geluti setiap pagi. Dari sebelum matahari menunjukan batang hidungnya Berto telah bangun. Ia ingin menghapus guratan kata miskin pada nasibnya. Hanya dengan begitu ia mampu menafkahi keluarganya.

Ayam berkokok untuk pertama kali, Berto melirik jam di dinding yang kusam. “Sekarang sudah jam 04.30 sudah saatnya saya bangun dan memulai aktifitas saya.” Gumam Berto. Mengawali harinya Berto memanjatkan satu ungkapan syukur yang sering ia dengungkan setiap pagi. Berto yakin bahwa kebahagian nampak apabila ada rasa syukur dalam hidup. Sementara itu isteri dan anaknya masih terlelap dalam pelukan malam. Berto bangun tanpa meninggal jejak berisik pada telinga isteri dan anaknya. Ia berjalan pelan menelusuri lorong gelap dalam rumahnya. Kedua sepatu bingkap miliknya masih menanti untuk dinikmati. Berto mengenakannya dan berjalan menelusuri gang-gang sempit di kampungnya.

Situasi pagi itu amat berbeda baginya. Asap-asap tipis membumbung di atas atap rumah warga kampung. Sebuah parang terselib rapi didalam sabuknya pun membentuk rangkaian alunan melodi ditambah dengan bunyi sepatu bingkap miliknya. Semua itu merangkai harmonisasi yang begitu indah. Berto terus berjalan menelusuri hutan. Sedari tadi ternaknya berupa sapi dan kambing menunggu untuk diberikan makan. Jarak yang ditempuh Berto amatlah jauh. Kira-kira 5 km dari rumahnya. Apalagi jalan di waktu pagi hari yang begitu dingin. Mau bilang apa nasib sudah berkata demikian. Dalam kepalanya Berto hanya memikirkan keluarganya.

Berto sudah mencari rumput kemudian mengarahkan ternaknya ke padang rumput. Mereka menikmati rumput sedangkan Berto menikmati sebatang rokok, sekadar untuk mengusir kelelahan dalam tubuhnya. Ketika semua urusan pagi itu selesai, Berto kembali menuju rumahnya.

Sesampai di rumah Berto amat senang ketika ia mendapati anak bungsunya sudah bangun dari tidur sedang bermain-main di luar rumah. Di meja pun telah tersedia makanan. Di situ pula secangkir kopi dihidangkan. Bagi Berto yang adalah pencinta kopi, ia akan merasa puas dan segar ketika meneguk secangkir kopi. Maka ia tidak menunggu waktu lama untuk menghabiskan secangkir kopi. Tapi apa yang terjadi, ketika hendak menghabiskan secangkir kopi Berto menemukan ada rasa pahit terselib di sana. Bahkan rasa yang paling dominan dalam secangkir kopi itu adalah rasa pahit. Berto menyemburkan sebagian kopi itu.

“Ma… kenapa kopi ini rasanya pahit. Apakah kita tidak mempunyai gula.” Teriak Berto kepada isterinya. “Maaf pa, aku lupa memberitahukan kepadamu, bahwa persedian gula telah habis, bahkan selama beberapa hari terakhir aku sering meminjam kepada tentangga, aku malu pa meminta terus.” Jawab isterinya dengan raut wajah sedih.

“Mengapa kamu tidak memberitahukannya kepada saya. Sudah merupakan kewajiban saya untuk menafkahi keluarga kita.”

“Tapi pa, aku tidak mau melihat kamu sedih karena hal ini. Aku hanya mau kalau kita bersyukur dengan apa yang telah ada.” Jawab isteri Berto sekali lagi dengan berlinang air mata.

“Aku merasa bahwa aku telah gagal menjadi seorang bapak, aku tidak mampu membeli sebungkus gula. Itu berarti keadaan kita saat ini sangatlah memprihatinkan. Coba dibayangkan ma, akhir-akhir ini kekeringan sering melanda daerah kita bahkan hasil kebun kita pun tidaklah memuaskan. Malahan segala jenis hama menyerang habis-habisan tanaman kita.”

“Begitulah pa, aku juga memikirkan hal yang sama, belum lagi persediaan beras kita tidak cukup, mungkin dalam minggu ini akan habis. Kemarin juga Lani menelpon meminta uang untuk biaya kulianya. Mau dapat uang dari mana pa?”

Percakapan pagi itu menyisakan luka dalam hati Berto. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ada beragam pilihan padanya, apakah merantau atau menjual sebagain ternaknya, atau ke kota mencari pekerjaan. Berto tidak tahu ia harus kemana lagi. Ia kembali mengambil barang-barang kepunyaanya yang ia kenakan tadi, berjalan menelusuri hutan. Sekadar mencari hiburan, mungkinkah ia menemukan senyuman kebahagian pada siulan burung-burung di hutan atau pada tingkah nakal dari ternaknya atau juga menikmati pisang bakar di kebunya sambil bernyanyi. Itu semua berada dalam kemungkinan, yang pasti ada beban yang sedang ia pikul.

Dalam situasi dilema, Berto mencari informasi adakah tempat kerja yang cocok baginya. Merupakan sebuah kebetulan ia bertemu dengan seorang bapak dengan pakaian sederhana, mengenakan masker di lehernya, dan membawa sebungkus nasi. Lantas ia penasaran dengan tingka bapak itu. Kelihatannya ia sangat terburu-buru. “Pa, mau kemana.” Tanya Berto. “Saya mau ke pelabuhan Kedindi untuk bekerja.” Jawab bapak itu tegesa-gesa. “Boleh aku ikut.” Sambar Berto dengan semangat. Akhirnya Berto dan bapak itu serta beberapa orang lain berangkat pagi itu ke pelabuhan Kedindi.

Situasi di pelabuhan sudah berbeda. Pelabuahan ini terletak di bagian utara Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur. Tempat ini menjadi pasokan utama sandang dan pangan bagi masyarakat Manggarai. Bisa dikatakan di pelabuan ini pusat distribusi barang untuk wilayah Manggarai. Tampak pula wajah kapal-kapal besar terlihat gagah. Di pelabuhan inilah kumpul laki-laki perkasa mencari sesuap nasi untuk isteri anak. Di sini pula bukan hanya tempat untuk berlabuhnya kapal-kapal raksasa tapi juga tempat berlabuhnya nasib yang tak menentu bagi sebagian orang. Ketika nasib berkata lain, apa boleh buat menjadi buruh pelabuhan adalah pilihan. “Menikmati pekerjaan demikian,” gumam Berto. Pekerjaan yang sedang ia jalani sekarang adalah anugerah. Ketika ada pintu kehidupan tertutup ingatlah masih ada jendala harapan yang tebuka.

Pada saat itu Berto bekerja dengan sangat giat dan rajin. Ia yakin dengan kerja demikian ia bisa menafkahi keluarganya. Pada hari itu Berto berhasil mengumpulkan uang seratus ribu sebagai hasil kerjanya. Walaupun tidak banyak, Berto yakin segala sesuatu harus dimulai dari yang kecil. Sebab yang besar ada karena yang kecil.

Berto kembali ke rumah dengan sukacita, ia menggunakan uang tadi untuk membeli sebungkus gula serta lauk pauk untuk makan malam ini. Rasa-rasanya ada sesuatu yang berbeda malam ini. Berto menceritakan pengalamannya dengan gembira kepada isterinya. Bagi Berto hal ini adalah awal dari perjalanannya yang baru. Di pelabuhan Kedindi Berto menemukan arti kehidupan. Karena disana bukan hanya tempat berlabuhnya kapal-kapal tetapi juga tempat berlabuhnya nasib.

***

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here