Ilustrasi

Oleh: MARSEL KOKA, RCJ, frater asal Rio, Riung, Bajawa-Flores, berdomisili di Manila-Filipina  

Barangkali lebih pantas jika aku mati saja. Tidak ada guna aku jadi suami bagi istri dan anakku, jika pada akhirnya akupun tak sanggup membuat mereka bahagia. Aku malu dengan semua hutang yang terus melilit hidupku. Ya, aku mendingan mati saja agar semua urusanku selesai. Aman.

Kira-kira begitulah niat yang selalu saja ada dalam otakku akhir-akhir ini. Bagiku hidup seperti selalu tidak memihak. Tidak adil. Sudah sejak nenek moyangku dulu aku hidup miskin. Menjadi orang miskin memang sebuah perkara yang paling memiluhkan. Keinginanan hanya menjadi harapan kosong. Menahan lapar sebab tak ada hidangan. Sarapan selalu menjadi sesuatu yang mewah.

Sore ini hujan lebat. Aku hanya duduk melonggo di teras rumah. Sela, istriku memilih tuk duduk di dapur. Serly, anakku juga masih terus menangis. Dia menjerit minta makan. Sejak tadi. Di kasih ubi juga tidak mau. Dia matian-matian minta roti. Katanya dia lihat itu roti di TV saat nonton di rumah tentangga. Ya, mau bagaimana lagi. Anak ingusan yang tidak mengerti tentang hidup. Bagi mereka bermain, tertawa, dan makan adalah hal-hal penting yang harus ada. Tidak boleh tidak. Sela istriku memilih diam, seolah-olah tidak dengar teriakan Serly. Sesekali dia hanya bilang “nak itu roti itu makanan orang kaya, kita orang miskin, dari dulu kita makan ubi dan jagung.

Aku mulai jengkel dengan ulah Serly yang terus menangis, namun kusembunyikan itu dalam-dalam. Di luar rumah hujan mulai rendah. Saat aku mulai berdiri tiba-tiba handphoneku bordering kencang. Cepat-cepat kuangkat ternyata Tomas, teman kelasku memanggil dari Malaisya. Ya dia seorang TKI yang sudah sekian tahun mengadu nasib di negeri Jiran. Dari dulu dia selalu mengajakku ke tanah rantau, tapi aku belum bisa merelakan perpisahan dengan istri dan anakku. Aku masih memilih merasakan hidup susah bersama istri dan putriku di kampung ini.

“Mario, kapan kau ke sini?” Katanya tegas. Aku belum tahu, aku masih bingung teman. Mario, datang saja, tidak usah urus itu surat-surat yang tidak jelas disitu. Kawan, semuanya akan aman. Pokoknya beres. Ingat, kalau kau mau jadi kaya, kau ke sini, tapi kalau kau mau mati kau tinggal di situ. Itu kata-kata Joni sebelum signal hilang di handphneku. Maklum aku tinggal di kampung yang masih dibilang udik. Segala sesuatu serba sulit. Beberapa saat setelah percapakan itu, aku langsung ke dapur memberitahu istriku. Namun dia hanya diam, seolah tak hirau dengan omonganku.

Malam ini aku tidur dengan sejumlah perasaan menggerogoti isi otakku. Setelah sepuluh menit aku nyenyak, wajah Thomas tiba-tiba hadir dalam mimpiku. Percakapannya juga masih sama. Dia tetap mengajakku ke tanah rantau. Katanya semua urusan akan beres dan aku akan jadi kaya-raya di sana. Aku dipaksa bangun tengah malam dan kembali duduk di pendopo sambil coba mereka-reka arti mimpiku barusan.

Di malam yang tak ada bintang ini aku hanya ditemani oleh sunyi dan dingin yang terus mengigit kulitku. Dalam diam, aku berpikir keras untuk membuat keputuskan besar pada istriku. Saya yakin semuanya ini demi kebaikan keluargaku. Jika ditolak oleh istriku, tidak apa-apa. Aku akan tetap pergi. Titik.

Saat fajar belum muncul aku sudah ke dapur dan duduk persis dekat tunggu. Sela seperti biasa sibuk mengeres kayu agar api tetap menyala. Di atas tunggu ada sebuah periuk berisi air. Sedikit lagi akan mendidih. Raut wajahku semakin muram. Aku hanya ingin niatku yang sempat kutahan selama ini segerah kutumpahkan. Pagi ini adalah saat yang tepat menyampaikan semua ke hadapan Sela istriku. Tanpa berlama-lama aku membuka percakapan. Sela, kayanya aku harus pergi. Pergi kemana? Dia menyambar. Ya, aku harus Malaysia Sela. Apakah itu solusi yang tepat untuk semua persoalan kita, Mario? Tanya sela. Ya saya kira sela. Hanya merantau yang jadi jalan terakhir Sela. Kita akan mati jika aku terus tinggal di sini. Lalu bagaimana dengan Rano dan aku kalau kamu pergi. Kami akan sengsara dan mati kelaparan di sini. Lagipula kamu akan kesulitan mengurus semua dokumen nanti. Ingat, kita tidak punya uang juga tidak punya orang dalam di kantor imigrasi. Sela, tidak usah banyak pikir. Kau lihat tidak si Lukas itu, dia aman ko pergi tanpa dokumen. Benarkan? Lagian, banyak orang di kampung kita yang tenaga kerja illegal namun mereka sukses di rantau sana. Sela, pokoknya beres. Intinya kamu harus bisa jaga Serly. Kalau dia butuh uang di sekolah pinjam saja uang dari tetangga. Kalau kamu butuh makanan, ijon saja di orang-orang di kampung ini. Nanti saya kirim uang dari Malaysia. Sayang, semuanya akan aman. Percayalah padaku.

Air matanya keluar menempel di pipinya. Aku tahu itu air mata yang paling menyakitkan. Sebuah kepedihan yang tak terbendung. Kali ini dengan berat hati Sela sepakat dengan rencanaku. Dia meniyakan niatku untuk kerja di Malaysia sebagai Tenaga Kerja Ilegal.

Aku memang lahir dan besar di kampung ini. Dulu, orangtuaku termasuk orang terpandang di kampung ini namun setelah mereka mati, aku jatuh miskin. Hidupku jadi berantakan. Aku tidak tahu kapan semua situasi ini akan berakhir. Karena kondisiku yang seperti ini, Kepala Desa terpilih pernah berjanji untuk kasih bantuan rumah. Aku sangat berharap sejak mendengar omongnya, namun setelah beberapa bulan kemudian aku menjadi kaget karena bantuan itu tidak muncul sama sekali. Tetanggaku billang Kepala Desa makan hati dengan saya gara-gara beda padangan politik dengannya. Jatah bantuan saya di alihkan ke orang lain. Yang lebih menyakitkan lagi bantuan itu diberikan kepada aparat desa yang nota bene dikategorikan sebagai orang yang mampu. Saya tahu persis kalau semua desa saat ini diberikan banyak bantaun. Namun aku binggun tidak tau lari kemana. Barangkali kepala desa makan. Atau tikus makan. Saya juga tidak terlalu tau.

Pagi ini saya mumutuskan untuk meninggalkan kampung halamanku. Aku pinjam uang tetangga untuk membiayai semua perjalananku. Aku berangkat masih subuh. Anakku masih enyenyak. Sela istriku bangun dan menyiapakan segelas kopi pahit andalanku. Saat kopiku belum habis tiba-tiba taxi muncul di depan rumah. Sayang aku berangkat. Jaga Serly dan jaga dirimu. I love Sela. Muach. Bibirku mendarat di bibirnya. Kami berdua berpelukan erat. Ini terakhir kali aku mencium bibir istriku. Aku tahu, hatinya berat melepaskan aku jauh darinya namun demi hidup kami rela berpisah jarak. Untuk bebereapa tahun kedepan aku dan istriku harus berjuang melawan kesepian masing-masing. Semoga kami berdua saling setia dalam diam. Ya hanya itu harapanku. Aku cepat ambil tas kumalku dan berlari menunuju taxi.

Perjalananku pagi ini cukup melelahkan. Aku baru tiba-tiba di kota setelah melewaati perjalanan selama empat jam. Sepanjang perjalanan aku bergulat dengan maut. Jalan dari kampungku ini memang sejak lama sudah jadi angker. Lubang dan genangan air terlihat di mana-mana. Badan jalan yang katanya pernah di aspal sudah tak muncul lagi. Yang ada hanya gundukan tanah dan kerikil tajam yang berserakan di segala tempat. Di kampungku ini ada beberapa pejabat yang sering pulang pergi kantor lewat jalan ini. Namun saya tidak paham kenapa mereka diam terus-menerus melihat kengerian ini. Barangkali mereka sengaja membiarkan semuanya, ataukah mereka bodoh sehiangga tidak berani bersuara saat sidang, ataukah mereka juga yang makan itu dana yang seharusnya untuk perbaikan jalan ini. Ya barangkali.

Hari sudah malam. Aku berangkat mengunakan kapal feri. Di sana aku nanti akan dijemput oleh Joni temanku nanti. Di luar kapal terlihat gulungan ombak meraung-raung pertanda ada hujan di tengah laut. Di langit cahanya bintang dan bulan tidak begitu Nampak, namun butiran gerimis pelan-pelan jatuh menyentuh tubuhku. Aku tahu sebentar lagi hujan deras akan segerah turun. Suasana hatiku makin kacau. Sedih bercampur gelisah. Sedih harus meninggalkan istri dan anaku. Gelisah dengan nasibku di tanah rantau nanti. Ya semua perasaan itu bergejolak dalam hatiku. Keramaian disekelilingku berubah menjadi sepi dan sunyi. Aku seperti berada di padang. Sendirian. Tak terasa air mataku pun jatuh membasahi pipiku. Aku semakin rindu sama Sela dan Serly anakku. Ini sebuah perjalanan yang paling memiluhkan. Sebab bagiku ini pertama kali aku keluar dari kampung halamanku. Aku benar-benar asing dengan semuanya.

Menjadi perantau memang sudah menjadi jalan terakhir bagi orang-orang di kampung kami. Hampir sebagian orang di daerahku memang merantau. Khususnya kaum laki-laki. Tidak heran kalau di kampungku banyak istri yang hidup sendirian. Kesepian seperti jadi teman setia.

Kapal yang kutumpangi sudah berada di tengah laut. Kulihat ada beberapa penumpang yang sedang tidur. Ada pula yang memilih tuk berdoa. Aku sendiri sudah mulai bosan duduk di dalam kapal. Kali ini aku memilih naik ke bagian paling atas kapal sambil menikmati suasana lautan lepas. Di ujung kapal terlihat sepasang kekasih duduk saling membelakang. Sepertinya mereka sedang bertengkar. Barangkali. Aku hanya memandang mereka dari jauh. Namun tiba-tiba pria disampingnya bilang “sayang, maafkan aku yang sudah berkali-kali melukaimu. Maafkan aku yang meremukkan hatimu, jika masih ada ruang di hatimu injikan aku masuk satu kali lagi. Namun jika memang aku harus berhenti memilikimu, aku pun rela tuk tenggelam bersama lautan ini, dan kamu menjadi saksi satu-satunya kepergianku. Aku paham apalah artinya mencintaimu jika kamu sendiri meragui semuanya. Apalah artinya memeluk dirimu jika kamu mengerti semua itu hanyalah kemunafikanku saja. Memang sekian tahun aku mencintai dengan gaya dan caraku sendiri. Cara paling sederhana, tapi jika semuanya itu tak cukup, aku rela pergi darimu.

Dengan raut sedikit kesal ia berdiri meninggalkan perempuan yang masih menunduk di sampingnya. Dan satu hal yang sangat menarik yakni walau pria itu marah-marah tapi tak ada kekerasan. Barangkali dia paham bahwa perempuan itu layak di hargai. Pria yang satu ini tidak berlagak seperti kebanyakan pasangan lain yang suka menampar, menendang dan memaki dengan bebas istri mereka. Dia memang menciantai pasangannya.

Wanita itu belum mau merespons. Dia memilih diam sambil sesekali mengusap air mata yang menetes di pipinya. Diamnya bukan karena tidak pandai menjawab tetapi ia tahu menempatkan diri dihadapan amarah sang pacar. Memang diam adalah cara yang terbaik ketika amarah sedang mengebu-gebu. Wanita ini paham jika kemarahan disambut dengan kemarahan akan berakhir pada kehancuran. Aku hanya beridiri di sudut kapal seolah-olah tidak hirau dengan pertengkaran mereka. Lalu beberapa saat kemudian aku kembali ke kamarku dan terlelap dalam tidurku. Aku mulai buka mata, setelah mendengar bunyi kapal pertanda kami sudah tiba di tempat tujuan. Aku begitu bahagian sebab Joni, sahabatku sudah menunggu kedatanganku.

        ***

Kini lima tahun sudah aku kerja di Malaysia. Aku mulai sadar bahwa kesetiaan kucobai dengan sangat kuat. Jujur aku menghianati sela. Dulu aku begitu mencintainya namun kini cintaku mulai memudar. Ya, di sini di tanah rantau aku lebih suka ke diskotek menghabiskan uang hasil keringatku. Aku sering menghabiskan malam dengan sejumlah perempuan. Kalau dulu aku selalu rajin memberi kabar untuk Sela dan Serly anakku kini sudah jarang. Kalau dulu aku selalu kasih uang untuk biaya hidup mereka sekarang aku sudah semakin pelit. Dan Jane, pacar baruku ini menjadi alasan di balik semuanya ini. Kehadiaran dirinya membuat aku harus mengkianati janjiku pada Sela istri shahku. Aku benar-benar merasa hidupku semakin tidak berarti. Selain itu di sini aku mulai tak nyaman dengan situasi hidupku. Setiap hari aku harus bertarung dengan nyawa. Menjadi tenaga kerja illegal memang penuh resiko. Sudah berkali-kali aku dikejar, ditangkap dan disiksa. Uang hasil keringatku dirampas habis oleh aparat di sini.

Hari ini aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku. Aku tahu Sela dan Serly anakku sangat menunggu kedatanganku. Aku paham bahwa kedatanganku kali ini amat berbeda ketika pertama kali aku pergi meninggalkan mereka. Kedatanganku kali ini bahkan membuat heboh semua orang. Kepulanganku diberitakan secara miris dalam sejumlah media. Baik cetak maupun online. Yang lebih menarik lagi orang yang paling depan menyambut kedatanganku adalah kepala wilayah di propinsi ini. Dan saat aku turun dari pesawat, aku mulai mendengar isak tangis istri dan anakku. Mereka seolah tak percaya dengan tubuhku yang sudah kaku dalam peti jenazah ini. Ya, aku mati disiksa majikanku. Dia menjul tubuhku ke rumah sakit dan sebagian organ tubuhku diambil pergi entah ke mana. Aku pulang dengan kondisi tubuhku yang sudah tak utuh.

***

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here