Siswa SMA Seminari Pius XII Kisol. (Foto: Istimewa).

Oleh: YON WANGGE, Siswa Kelas XI Sosial Seminari Pius XII Kisol

Daerah Colol menjadi tujuan kegiatan live in siswa-siswa kelas XI SMA Seminari Pius XII Kisol dari Kamis-Senin (4-8/4). Rombongan berangkat dari Seminari Kisol dengan dua mobil colt yang dikendarai oleh Om Karel Mite dan Om Berto Tiga, dua sopir pengalaman Sanpio pada Kamis (4/4). Dua colt itu menampung 45 orang siswa yang didampingi oleh seorang Frater TOP: Fr. Iwan Dadus. Kegiatan live in ini bertujuan untuk memperkenalkan situasi umat kepada seminaris.

Perjalanan memakan waktu 4 jam. Rombongan berangkat pukul 09.00 WITA dan tiba pukul 13.00 WITA. Ruas jalan yang rusak mulai nampak ketika memasuki Kampung Watucie, kabupaten Manggarai Timur hingga tiba di Desa Biting, Kec. Poco Ranaka Timur. Sepanjang perjalanan, kami dihantui rasa cemas kalau-kalau mobil yang kami tumpangi terjungkal sebab topografi jalannya rusak berat.

Sebagian besar ruas jalan sudah retak dan hilang serta ada banyak lubang yang menganga di sana-sini. Lubang itu menjadi danau ketika musim hujan. Namun kecemasan tersebut pudar dengan hamparan sawah yang hijau, rerimbunan pohon kopi dengan kanopi teduh, dan senyum manis Reak-reak Colol yang berpapasan dengan kami di pintu gerbang Paroki St. Petrus Colol.

Kampung pertama yang menyapa kami adalah Kampung Tangkul. Masuk semakin ke dalam ada Kampung Welu. Jika kita mengalihkan mata jauh ke utara, ke arah pegunungan terdapat 3 buah cunca (Red: Air terjun) yang memanggil siapaun untuk mendekat. Cunca-cunca itu mempunyai nama masing-masing yaitu: Cunca Wek, Cunca Rading Ntangis dan Cunca Ngganggo. Karena berada dekat dengan barisan pegunungan, maka tak heran jika wilayah Colol yang terletak di Kecamatan Poco Ranaka Timur ini memiliki hawa yang dingin. Para seminaris tak bisa menyembunyikan itu.

Hawa itu kemudian berubah menjadi hangat oleh penyambutuan yang dilakukan oleh Rm Vitalis Salung Pr sebagai Pastor Paroki, jajaran pengurus dewan paroki, dan umat Paroki St. Petrus Colol. Para seminaris kemudian dibagi ke dalam 16 KBG yang terletak di stasi Biting dan stasi Welu; 2 stasi yang paling dekat dengan Gereja Paroki. Perlu diketahui bahwa Gereja Paroki Colol terletak di dusun Biting, Desa Uluwae, sedangkan Colol adalah nama desa tetangga. Nama Colol dipakai sebagai nama paroki karena lebih dikenal luas dibandingkan dengan Biting, Welu, atau Uluwae.

Menikmati Kopi Pahit

Harum dan manisnya kopi pahit Colol senantiasa menemani keseharian kami. Kopi menjadi minuman wajib di rumah keluarga baru atau di rumah manapun yang kami kunjungi. Di Colol, kami ngopi tanpa batas. Kata orang tua di Colol, kopi bukan sekadar minuman penyemangat atau stimulan, tetapi juga menjadi bahasa khas orang Colol yang bermakna penyambutan dan sukacita.

Maka tak heran kemanapun kaki melangkah dan kemanapun mata melirik, pohon-pohon kopi menampakkan dirinya begitu rupa dan gagah. Bahkan ada pohon kopi yang batangnya hampir menyaingi batang beringin berumur 3 tahun. Pohon tua itu telah hidup sejak zaman nenek moyang. Kopi menjadi identitas bagi orang-orang Colol.

Pengetahuan kami tentang kopi pun bertambah. Kopi adalah kelompok tumbuhan berbunga dari genus coffea yang bijinya diolah menjadi minuman berkafein. Anggota Suku Rubiaceae ini tersebar di berbagai negara seperti Brazil, Kolombia, Ethiopia, Uganda, India, dan Indonesia.

Di Indonesia penanaman kopi secara besar-besaran diprakarsai oleh pemerintah Hindia Belanda abad ke- 17. Kopi Colol adalah kopi asli orang Colol yang telah dibudidayakan sejak tahun 1960-an dan pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah Hindia Belanda. Daerah Colol memiliki 4 jenis kopi yakni Arabika, Robusta, Kolombia dan Unggul. Keragaman ini menjadi potensi besar bagi orang Colol.

Dalam wawancara singkat dengan Mama Emi Santi salah seorang petani kopi, mengatakan bahwa keharuman dan cita rasa Kopi Colol berbeda dengan kopi dari daerah lain. “Rasa tak pernah bohong,” katanya.

Kami juga bertanya tentang proses pembuatan Kopi Colol. Menurut Mama Emi proses pertama adalah memilih  kopi yang sudah matang. Biasanya berwarna merah. Biji kopi lalu dikumpulkan dan direndam dalam air. Biji kopi yang mengapung harus dibuang karena busuk. Biji kemudian dipisahkan dari kulitnya dengan menumbuk atau digiling dengan menggunakan mesin khusus. Biji kopi lalu dijemur di atas terpal, papan, atau wadah lain. Kopi tidak boleh langsung dijemur di tanah agar biji kopi tidak berbau dan berasa tanah. Jika kopi sudah kering sempurna, proses selanjutnya adalah memisahkan bijinya dari kulit ari, lagi-lagi dengan cara  menumbuk. Biji kopi lalu disangrai hingga berwarna hitam lalu digiling dengan mesin kopi hingga menjadi bubuk kopi.

Selama tinggal di Colol, mesin-mesin giling kopi amat mudah ditemukan. Mesin-mesin itu bekerja kapan saja, tergantung proses apa yang sedang terjadi di sana. Beberapa petani menuturkan jika mereka juga menjual kopi ke kota Ruteng atau Borong. Untuk saat ini, kopi dihargai dengan Rp35.000,- per kilo. Dengan harga seperti itu, asap dapur tetap mengepul, anak-anak bisa tamat perguruan tinggi, sida dari anak rona tidak tertunda. Meskipun dijual, rumah-rumah tidak pernah kehabisan stok kopi tepung. Tak ayal dalam setiap perjumpaan dengan teman-teman ada satu atau dua orang yang masih menyisakan repang kopi di bibirnya.

Namun di Colol, kopi-kopi biasanya diseduh tanpa memakai gula. Bertahun-tahun menikmati kopi tanpa gula, orang-orang Colol jadi bisa merasaskan manisnya kopi pahit. Kami turut dalam kebahagiaan dan kebiasaan itu. Untungnya lidah bisa beradaptasi dengan cepat.

“Kalau kami yang minum kopi pahit, tidak apa-apa, karena kami sudah kelebihan manis. Hahaha,” kata Vergi Darman, seorang seminaris asal Borong yang baru pertama kali menikmati kopi pahit.

“Ai pa’it ne mose ho o ga, com lanjut one kopi pait ho o kat gi, haha” kata Ando Gimantro seorang seminaris asal Tentang, Manggarai Barat yang juga sangat menikmati kopi pahit Colol.

Celotehan-celotehan seperti ini memberi warna pada Jumat sore (5/4), ketika para seminaris selesai kerja bakti dan minum kopi di pastoran paroki St. Petrus Colol.

Di Colol, selain minum kopi, kami juga membincangkan banyak hal tentang kopi, termasuk tentang promosi Kopi Colol ke level nasional dan internasional. Petani-petani kopi di Colol juga masih sering meraskan pahitnya bisnis kopi. Usaha dari menanam hingga memanen sering memakan biaya, tenaga, dan waktu yang besar, tetapi kopi masih diganjari dengan Rp35.000,- per kilo. Jumlah kopi amat melimpah di Colol, tetapi distribusinya seringkali terhambat oleh karena infrastruktur jalan yang buruk.

Selain soal infrastrukutr, hal lain yang juga harus dibenahi adalah tentang proses pengolahan, agar makin efektif dan efisien. Kita berharap, di kota-kota di Manggarai, Flores, atau Indonesia bermunculan gerai atau café Kopi Colol yang diolah secara mandiri oleh penduduk lokal.  Itu bukan hal yang mustahil.

Editor: Fr. Lolik Apung

FloresMuda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here