Siswa SMA Seminari Pius XII Kisol bersana Ekopastoral Fransiskan Pagal. (Foto: Istimewa).

Kisol, FloresMuda.com – Cuaca bersahabat menaungi lembah Kisol pada Kamis 11 April 2019. Ketua implementasi tahun pelayanan, Frater Lolik Apung mencek kalender kerja panitia tahun pelayanan tingkat Lembaga Pendidikan Calon Imam Seminari Pius XII Kisol dan menemukan hari itu akan berlangsung kegiatan pelatihan pembuatan Pupuk Organik.

Kegiatan berlangsung di ruang rekreasi SMA dan dihadiri oleh 40 peserta dari kalangan seminaris, guru, dan pembina. Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 WITA.

Kekagetan terjadi di awal perjumpaan, sebab Tim Pamateri yang berjumlah tiga orang- dari Ekopastoral Fransiskan Pagal tampil dengan gaya yang amat nyentrik. Gaya rambut adalah hal yang paling menonjol yang dibiarkan terurai panjang dan diikat. Dan, makin unik dan lengkap tatkala dipadukan dengan baju pakayakan kerja yang juga nampak santai.

“Ah mereka memang seorang pekerja”, komentar Brury Mole, seorang peserta pelatihan dari kelas X. Penampilan ini langsung menimbulkan antusiasme tersendiri di antara para siswa.

Pater Andreas Bisa OFM tampil sebagai animator ekopastoral pertama dalam kesempatan ini. Ia menjelaskan tentang spirit dasar pembuatan pupuk organik yaitu untuk hidup berdamai dengan alam.

Menurutnya pupuk organik lahir dari keprihatinan penggunaan pupuk berbahan kimia yang membahayakan kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan petani.

“Pertanian berbasis pupuk organik menawarkan sistem pertanian yang berkelanjutan, murah, menjamin ketahanan pangan, dan melindungi alam.

Sistem pertanian organik ini bersumber dari kelima sila dalam adat istiadat orang Manggarai: Mbaru bate kaeng, Natas bate labar, Uma bate duat, Wae bate teku, Compang bate dari, katanya menerangkan.

Para peserta dibuat semakin tertarik dengan penjelasan pada sesi kedua yang ditawarkan oleh Saudara Hans Toyi. Dia adalah salah seorang pegawai ekopastoral yang sudah mengabdi sejak ekopastoral dibentuk, pada tahun 1999.

Ia mulai dengan pertanyaan yang mengisi ruang kosong dalam kepala kami: ada apa dengan pertanian kita? Ia kemudian mulai dengan keprihatinan terhadap sistem pendidikan Indonesia yang menganaktirikan pendidikan pertanian, padahal negara ini adalah negara agraris.

Keprihatinan lain datang dari gaya pertanian yang amat bergantung pada pupuk kimia. Lantas Hans Toyi menjelaskan unsur-usur pembentuk pupuk yang berada secara melimpah di alam. Pupuk dibentuk oleh tiga unsur yaitu Nitrogen, Phospor, dan Kalium.

“Semua unsur ini melimpah dalam alam, tinggal bagaimana kita mencari, merakit, dan mencampurnya jadi pupuk organik,” kata Hans Toyi

Dalam sesi ketiga, para peserta dibuat terpukau oleh Saudara Aris Garos. Aris Garos mengajak peserta untuk terjun langsung ke lapangan. Di sini para peserta diajarkan cara mengolah pupuk dari bahan-bahan organik.

Ada 7 bahan utama, diantaranya adalah kotoran ternak, sekam padi, abu sekam, batang pisang, daun hijau, serbuk kayu, dan jerami. Ketujuh bahan ini dicincang jadi halus lalu dicampur sambil disiram dengan air hasil cucian beras.

Menurut Aris campuran ketujuh bahan ini akan menciptkan kondisi yang kondusif bagi perkembangan mikroorganisme. Mikroorganisme itu akan mengurai bahan-bahan itu dalam kurun waktu 1-2 minggu hingga menjadi pupuk yang siap dipakai.

“Pupuk yang bagus akan berwarna hitam, lembab, dan tidak berbau,” katanya menutup penjelasan.

Pelatihan yang berlangsung setengah hari ini memberi wawasan baru bagi para siswa, pembina, dan guru. Selain itu, juga menciptakan banyak tanda tanya di dalam kepala mereka.

Seorang siswa atas nama Yon Wangge sempat bertanya tentang apakah ada perbedaan produksi pupuk jika cuaca udara menjadi berbeda? Aris Garos menjawab bahwa perbedaan suhu bisa berpengaruh terhadap pembentukan pupuk.

Bahan-bahan yang dicampur masing-masing disiapkan untuk pembentukan bagian tertentu dalam tubuh pohon.

“Jika suhunya berbeda, unsur yang disiapkan untuk pembentukan buah misalnya bisa saja lari untuk membentuk batang, akar, daun atau bagian pohon lainnya,” demikian Aris menjelaskan.

Matahari yang dirasa semakin panas pada siang ini kemudian menggamit para peserta untuk melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WITA. Sudah setengah hari Tim Ekopastoral Fransiskan berdinamika bersama komunitas Sanpio. Lantas para peserta kemudian kembali ke ruangan rekresasi SMA.

“Membuat pupuk organik rupanya tidak sulit. Ini bisa dikembangkan lebih banyak lagi dalam kelompok Sempala nanti ye,” kata Tarsi Harmin, ketua Kelompok Minat Seminaris Pencita Alam (Sempala).

“Yah memang sudah seharus begini ye, alam sudah memberi banyak untuk kita, kita pun paling tidak harus menjaganya dengan hal-hal seperti ini,” kata Roy Jehanus, salah seorang peserta yang berasal dari kelas VIII.

Pater Andre Bisa OFM kemudian menyampaikan closing statement-nya kepada peserta.

“Menjadi petani itu bukan nasib, melainkan panggilan bagi kita semua. Kita berkomitmen untuk mengajak semakin banyak orang menggunakan pupuk organik yang lebih ramah alam,” katanya.

Sementara, Romo Ferry Warman Pr yang juga hadir sebagai peserta menyampaikan ucapkan terima kasih dan permohonan maafnya mewakili komunitas Sanpio.

“Kami telah mendapatkan banyak wawasan dan masukan. Ini menjadi tantangan besar bagi kami untuk memproduksi pupuk organik dan memanfaatkannya untuk kebutuhan kami di sini,” katanya.

Di akhir perjumpaan, para peserta kemudian melakukan sesi foto bersama. Beberapa diantaranya meminta tanda tangan juga nomor kontak dan alamat facebook dari Tim Ekopastoral Fransiskan-Pagal. Senyum ekologis mekar dari setiap wajah para peserta. Tak lupa Fr. Lolik Apung mengabadikan momen itu dengan Canon EOS 700D.

Lolik Apung

FloresMuda

Setengah Hari Bersama Tim Ekopastoral Fransiskan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here