Aldo Loga, jawara The Voice Indonesia 2018. (Foto: Tangkap Layar Youtube The Voice).

FloresMuda – Saat Aldo Longa, putera asal Bejawa-Flores menjuarai ajang The Voice semalam, terbersit beberapa nama yang menjuarai event lomba nyanyi serupa saat ajang pencarian bakat pertama kali muncul dalam acara Akademi Fantasi Indonesir (AFI) di Indonesia pada tahun 2003.

Bagaimana kabar Very dan Kia AFI sekarang? Apa yang mereka lakukan? Dimana mereka sekarang? Apakah mereka tetap menyanyi?

Euforia kemenangan Aldo semalam seperti mengingatkan euforia terhadap kemenangan Very-AFI dan Kia-AFI dalam ajang yang sangat bergengsi tersebut. Saat itu, saya sendiri masih duduk di bangku SMP dan mesti berjaga depan TV hingga acara selesai. Tidak hanya bersorak-sorai di depan TV tetapi juga membicarakan nama mereka dimana-mana selama beberapa waktu lamanya.

Saya juga teringat saat Kia-AFI datang di kota Ruteng setelah kemenangan itu. Dia dielu-elukan dan berjubel-jubel penggemarnya mendatangi dia hingga dibentuk tim pengamanan khusus untuknya.

Menjamurnya Acara Pencarian Bakat

Semenjak kemunculan AFI, bermunculan ajang pencarian bakat di TV Indonesia. Di antaranya, Indonesia Idol, Indonesia’s Got Talent, Kontes Dangdut Indonesia, Mamamia Show, Supermama Selebshow, superstarshow, The Voice Indonesia, Rising Star dan The X-Factor Indonesia.

Sepanjang itu pula, berbagai bakat tarik suara ditunjukan dan silih berganti bintang baru muncul ke panggung musik dan seni Indonesia. Seperti biasa, juri selalu memukau mereka dengan komentar, “kamu adalah emas yang terpendam selama ini,” “Suara kamu khas, kamu punya masa depan yang cerah, “kamu adalah bintang”.

Mereka juga digemari oleh ribuan penonton. Mereka dikirimkan SMS dukungan dari seluruh Indonesia.

Namun, kabar mereka lenyap seiring berjalannya waktu dan seiring menjamurnya ajang pencarian bakat tersebut.

Dimana bintang-bintang itu berada sekarang? Apakah mereka masih bersinar? Dan apakah mereka masih menyanyi? Apakah ada yang salah dengan ajang pencarian bakat yang pernah mempopulerkan mereka?

Menariknya, putra-puteri dari Provinsi NTT yang dikenal miskin dan terbelakang, selalu menghiasi berbagai ajang lomba nyanyi tersebut tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Sebut saja beberapa di antaranya, Kia, Azizah, Marion Zola dan Abdur, Mario Klau, Amnes Kamaleng, dan ditambah Aldo Longa, Phillip Lagabelo dan Rambu Piras.

Apakah mereka akan menjadi bintang dalam dunia musik di Indonesia? “Legacy” seperti apakah yang akan mereka tunjukkan dalam dunia musik? Ataukah sebaliknya mereka hanya menumpang popularitas dalam Ajang Pencarian Bakat di Indonesia?

Ironi Kompetisi Musik

Kendati ajang pencarian bakat mampu memberi warna dan dinamika dalam musik di Indonesia, namun ajang pencarian bakat lomba menyanyi tersebut mereduksi dan mengkerangkeng luasnya kreativitas dalam musik hanya dalam soal baik-buruknya suara.

Buruknya pula, ukuran yang “sempit” itu kemudian diglorifikasi semaksimal mungkin. Komentar dari para juri seperti, “kamu bahkan menyanyikan lagu ini lebih baik daripada penyanyi aslinya,” menyamarkan substansi penting lain bahkan mendasar dalam kreativitas musik seperti kemampuan menciptakan lagu.

Yang terjadi adalah over-credited terhadap sang juara, sementara perangkat bekal dasar mereka sebagai penyanyi belum tentu mumpuni. Ajang pencarian bakat hanya menciptakan kumpulan orang-orang yang jago menyanyikan lagu orang lain ketimbang mengasah dan menonjolkan kemampuan dasar seperti menciptakan lagu.

Karena itu, ajang pencarian bakat (berpotensi) menciptakan gelembung, namun substansinya masih layak diperrtanyakan. Kendati banyak yang muncul dengan suara bagus, dalam beberapa tahun mereka malah tenggelam dan hilang begitu saja bahkan tidak memiliki rekam jejak atau kontribusi yang mumpuni dalam bermusik.

Apalagi, ukuran baik-buruknya suara merupakan suatu kenyataan yang sangat paradoks di Indonesia dan tentu saja juga di dunia musik. Mengapa?

Karena sebenarnya jumlah yang suara bagus di Indonesia sangat banyak dan tidak bisa “distandarisasi” melalui acara pencarian bakat musik manapun. Bayangkan kemungkinan suara yang bagus itu muncul dari populasi penduduk Indonesia yang sudah mencapai 265 juta jiwa.

“Kalau ada 100 besar, bisa 70 orang dari NTT yang masuk,” komentar seorang teman dengan nada hiperbola karena munculnya tiga nama sekaligus dari NTT dalam acara grand final the Voice, seperti Philip, Rambu, dan Aldo.

Tidak hanya tidak cukup, ajang pencarian bakat menyanyi yang menciptakan model kompetitif untuk mengorbitkan penyanyi dengan suara “terbaik” merupakan suatu ilusi.

Seberapa penting kompetisi dalam dunia musik yang semakin beragam dari segi genre dan sebenarnya mengutamakan keragaman? Mungkinkah keragaman genre musik dapat dikompetisikan menjadi “yang terbaik”? Bukankah itu ilusi? Bukankah banyak hal yang hilang dan lenyap dari substansi bermusik?

Sayangnya, kaca mata TV begitu menghegemonik di Indonesia. Kaca mata TV dengan mudah menular menjadi cara masyarakat berpikir dan melihat tanpa disertai pandangan kritis. Kenyataan itu tidak terlepas dari sentralisasi TV di Indonesia menjadi instrumen agitasi dari industri kreasi di Indonesia.

Dalam ironi yang lebih besar, bisa kita saksikan dalam soal prestasi musik Indonesia yang melempem di ajang internasional, kendati di tanah air sangat riuh luar biasa.

Yang perlu DiIngat!

Lantas, apakah Aldo akan bersinar dalam kancah musik Indonesia apalagi usianya masih 17 tahun? Ataukah dia akan tenggelam seperti nama-nama sang juara lain yang pernah menghiasi ajang pencarian bakat menyanyi di Indonesia? Apakah yang mesti dilakukan di tengah ilusi dan hegemoni lomba pencarian bakat di TV Indonesia?

Pertama, Aldo dan para pemenang lain atau yang mengikuti ajang kompetisi tersebut mesti sadar bahwa dia/mereka bukan satu-satunya suara terbaik di Indonesia. Dia/mereka mesti melepaskan diri dari “ilusi” ciptaan panggung TV. Dia/mereka hanya lebih beruntung untuk sementara waktu dari penyanyi dengan suara terbaik lain di Indonesia yang begitu melimpah.

Kedua, monopoli TV yang berbasis di Jakarta mesti dikendalikan dan diakhiri dengan menampilkan aneka ruang alternatif dalam mendorong kreativitas orang muda untuk tampil lebih produktif. Karena itu, pemerintah daerah diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga menciptakan ruang alternatif dan ruang-ruang kreasi untuk orang muda sedemikian sehingga tidak menglorifikasikan ajang pencarian bakat sebagai jalan untuk berkreasi apalagi mengubah “nasib”.

Ketiga, jika TV Indonesia ingin berkontribusi terhadap dunia musik Indonesia, sudah saatnya lebih mendorong dan mengakomodasi dan merangsang “ruang dan kompetisi menciptakan lagu” atau mempromosikan lagu ciptaan sendiri ketimbang ajang pencarian bakat yang berbasis pada standar baik-buruknya suara saja.

Hal ini juga mengingat sangat beragam dan kayanya jenis musik di Indonesia apalagi jika merujuk pada kekayaan musik di tiap daerah.

Keempat, kita mesti menyadari ironi dari ajang pencarian bakat tersebut. Seberapa bertahan para sang juara dalam industri musik Indonesia sejak munculnya pada tahun 2003? Tidak banyak. Di antaranya yang terkenal dan masih popular adalah Judika Sihotang, juara dua Indonesian Idol jilid dua tahun 2005. Selain memiliki suara khas, ia juga mampu tampil dengan lagu-lagunya sendiri.

Pentingnya daya kreasi atau produksi lagu dapat dilihat dari dewan juri dalam acara pencarian bakat. Mereka tidak semata-mata tergantung kepada suara mereka yang bagus, tetapi juga memiliki daya kreatif dalam menciptakan lagu. Bahkan ketenaran mereka bukan karena mengikuti ajang pencarian bakat, tetapi kemampuan menciptakan lagu.

Kelima, kita mesti sadar lebih awal dan berhati-hati dalam euforia yang ilusif. Karena dunia musik kita terlumpuhkan dan sedang tidak kemana-mana.

Keenam, senjakala dominasi mindset TV sudah di depan mata. Platform media teknologi sudah semakin mengakomodatif berbagai kalangan,berbagai ruang, dan semakin terdesentralisasi.

Penulis: Pengagum Band Superman Is Dead

FloresMuda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here