Gambar: Ilustrasi

Oleh: YANO ILHAM, Siswa XI Sosial, Seminari Pius XII Kisol 

Kisah kita dimulai siang itu. Ketika kau datang ke desaku bersama dengan teman-teman kuliahmu. Kau memilih tinggal di rumah kami, mengingat bahwa Ayahku adalah seorang kepala desa.

“Aku Hugo,” dengan ramah kau memperkenalkan diri.

“Saya Riani,” ucapku polos.

Sejak perkenalan kecil itu kita perlahan menjadi dekat. Satu rumah. Aku merasa kagum setiap kali memandangmu, bukan pasal kau dari kota, sekolah yang tinggi, apalagi karena kau anak orang kaya, tetapi karena pembawaanmu yang membuat setiap orang yang berada di dekatmu merasa nyaman.

Termasuk aku.

***

Suatu hari kau memintaku untuk berkeliling desa. Aku bersedia. Entah untuk sekadar basa-basi saat itu kau bilang bahwa desaku ini sangatlah bersih dan sejuk, berbeda dengan tempat tinggalmu di kota sana. Aku hanya bisa tersenyum.

“Di sini ada sekolah?” tanyamu di tengah perjalanan.

“Ya, hanya satu,” jawabku singkat.

“Hanya satu?” tanyamu lagi.

“Iya, letaknya di desa seberang,” jawabku sembari menunjuk ke arah yang dimaksud.

Aku sangat yakin kau merasa terbebani dengan situasi pendidikan di desaku ini. Bagaimana tidak, ini semua terjadi karena ulah pejabat-pejabat di kotamu yang menghabiskan seluruh dana pembangunan sarana dan prasarana pendidikan di desaku ini.

“Baiklah, mungkin sesekali kau bisa menghantarkanku ke sana,” katamu di ujung sore itu.

***

Semakin hari kita semakin akrab, bahkan kau tidak segan-segan mengenalkanku pada teman-temanmu itu. Mereka memuji-muji aku saat itu dan bilang kau sangatlah beruntung. Aku tidak mengerti maksud mereka.

“Tidak apa-apa, mereka hanya bergurau,” jawabmu setiap kali aku bertanya perihal hal itu.

Hanya diam yang bisa kuperbuat untuk mencerna maksudmu kala itu.

Pernah suatu kali kau tidak sengaja masuk ke dalam kamarku dan mendapati foto sarjanaku di sana. Kau sangat terkejut kala itu, tidak menyangka bahwa aku adalah salah satu lulusan Bahasa Indonesia terbaik pada salah satu universitas ternama di kotamu itu.

“Bagaimana mungkin dia seorang sarjana,” katamu pelan.

Aku yang saat itu mendengar dari balik bambu rumahku hanya bisa tersenyum dan lagi-lagi diam.

***

Anehnya semenjak kejadian itu kita semakin dekat. Kau menjadi sangat terbuka denganku. Sikapmu berubah kepada seluruh penghuni rumah. Kau yang sebelumnya hanya berkutat pada KKN-mu kini menjadi peduli terhadap pekerjaan-pekerjaan di rumah kami. Mencuci, membersihkan rumah, dan membantu Ibu di ladang menjadi pekerjaan rutinmu dalam waktu satu minggu yang tersisa sebelum kau kembali ke kota saat itu.

Sebagai balasan atas kebaikanmu kala itu aku berinisiatif mengajakmu ke sanggar bacaan milikku. Kau takjub melihat sanggar bacaan itu, tidak menyangka bahwa anak-anak di desaku sangat bersemangat membaca buku, dan yang paling utama kau tidak menyangka orang desa sepertiku bisa melakukan hal semacam itu.

“Aku akan selalu mengirimu buku,” katamu saat itu.

***

Minggu lalu buku bacaan yang kau janjikan memang benar-benar datang. Senang rasanya, terima kasih senantiasa kuucapkan. Namun, dari hati yang paling dalam aku merasa sangat rindu padamu, karena tepat dua bulan kau sudah kembali ke kota. Kau tak pernah menghubungiku lagi. Mungkin kau akan menganggapku angin lalu, tetapi asal kau tahu saja rindu ini sudah sangat menggebu-gebu, menendang-nendang di dalam perutku. Bukan hanya aku sebenarnya tetapi juga anak di dalam kandunganku ini.

 

***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here