Pementasan Teater (Foto (Istimewa).

Maumere, FloresMuda.comKelompok sastra “Salib Merah San Camilliio, menggelar pertunjukan teater di Seminari Tinggi St. Kamilius – Maumere pada Senin, 18 Maret 2019 lalu.

Teater bertajuk “Kami Belum Kalah” itu menyuguhkan dialog terkait dinamika demokrasi dan politik Indonesia hari-hari ini sekaligus untuk menyongsong hari puisi dan teater seduani yang jatuh setiap 27 Maret.

“Sebut saja, hilangnya semangat demokrasi dari masyarakat untuk memilih pemimpin lima tahun yang datang dan masyarakat memasang sikap pesimis terhadap pilihan politik,” kata Ketua Kelompok Sastra Salib Merah Agust Gunadin.

Menurutnya, munculnya sikap skeptis masyarakat untuk memilih, sesungguhnya adalah sebuah bentuk protes terhadap pemimpin yang tidak pro terhadap rakyat.

“Kekuasaan yang diberikan oleh rakyat terhadap pemerintah justru tidak memberikan bonum commune bagi masyarakat. Pemerintah berkuasa hanya untuk membahagiakan dirinya, keluarga dan partai politiknya sendiri,” ujarnya.

Agust menambahkan “Teater bukan hanya sebagai seni untuk menghibur melainkan sekaligus memberikan pencerahan inspriratif bagi penikmat atau penonton yang hadir.

 “Penonton dan masyarakat diajak agar tidak terlelap dalam situasi politik dan demokrasi yang meresahkan sebaliknya berusaha bangkit, optimis terhadap pemerintah yang bisa membangun masyarakat menuju perubahan signifika,” katanya.

Teater merupakan media yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan, mengubah dan mendidik masyarakat luas menuju emansipasi pikiran yang progresif,” tambahnya.

Menolog “Antara: Ular dan Manusia”

Sebelum pementasan teather, di atas panggung dengan Arfei Silfester menyuguhkan monolog “Antara: Ular dan Manusia”

Monolog ular terinspirasi dari kisah kejatuhan manusia di taman Eden di mana ular selalu menjadi mahkluk yang disalahkan karena berhasil membujuk Hawa. Lalu, selanjutnya Hawa membujuk Adam untuk makan buah terlarang.

Tetapi, menariknya pada akhir monolog tentang ular, Arfei justru mempersalahkan manusia karena tidak mampu menahan godaan ular.

Gambaran tentang sifat ular pun dilukiskan untuk  manusia kini yang tidak mampu menahan godaaan, seperti pemerintah yang tidak mampu menahan godaan untuk korupsi uang rakyat, suami-isteri untuk tidak berselingkuh.

Kedua contoh inilah yang menurut Arfei menjadikan sifat manusia yang tidak beda dengan ular.

“Manusia jangan mempersalahkan ular dalam kejatuhannya sebab ular sesungguhnya ada dalam diri kita masing-masing hanya kurang menyadari itu,” tegasnya di akhir monolog.

Penonton pun beramai-ramai bertepuk tangan gembira dalam menemani suasana teatrikal malam itu di Biara Kamilian.

 A Gunadin

FloresMuda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here