Antara: Tubuh, Aku, dan Ruang

0
62
Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Terry Eagleton, kritikus sastra Marxis dari Inggris pernah mengungkapkan bahwa adanya keindahan dalam diri manusia ketika melahirkan sebuah wacana tentang tubuh. Baginya, mengupas diskursus tentang tubuh sebegitu kompleks dan tak mungkin terselesaikan. Pandangan Terry, memicu adrenalin untuk kembali merefleksikan seberapa manfaat tubuh dalam keberadaan sebagai pencinta seni (puisi, teater dan pantomin) sebagai pemula maupun profesional.

Tubuh Membawa ke Ruang Imajiner

Sebagai pencinta dan penikmat seni tubuh telah menjadi bagian dari keberadaan konkret kemanusian. Melalui tubuh, seorang pencinta dan penikmat seni membuka ruang untuk didiskursus di tengah publik. Ketika tubuh mulai dipentaskan di depan umum maka yang ada ialah sebuah penilaian. Tentunya, apresiasi terhadap pementasan tubuh bersifat ambivalen sebab setiap orang memiliki mata dan hati untuk menilai. Tetapi, seorang pencinta seni selalu mendambakan apresiasi positif dari para penikmat seni. Maka apresiasi positif terhadap tubuh adalah sebuah bentuk legal standing yang dimiliki oleh pencinta seni, sebab tubuh memiliki keindahan. Sebagai pencinta seni baik awak-awakan maupun profesional harus mampu menemukan tubuh dalam ruang peragaan (berpuisi, teater dan pantomin). Keindahan tubuh sesungguhnya “aku” sedang membuka “ruang” untuk diimajinasi sebagai manusia yang merealisasikan diri. Lantas, mengapa tubuh membawa pencinta dan penikmat seni ke ruang imajiner?

Refleksi atas tubuh oleh penulis merupakan kamuflase dari fenomena gunung es kasus pemerkosaan di Sukoharjo, provinsi Lampung. Di mana ayah, kakak dan adik menyetubuhi anak dan saudari kandung sendiri, 25/02/2019 (Tribunnews.Com). Dalam kasus ini tubuh dilihat sebagai objek untuk memenuhi hasrat. Tubuh menjadi korban ketika seseorang tidak lagi membendung hasrat seksualnya dengan baik. Tentunya, kasus-kasus seperti ini sangat bertentangan dengan makna tubuh sebagai keindahan.

Dalam pandangan esensialis tentang tubuh adalah sebuah ciptaan Tuhan sebagai Primus interpares. Sehingga, tubuh dikategorikan dalam keindahan akan kesenian yang alami. Keindahan tubuh adalah sesuatu yang datang dari subjek tanpa terkondisikan oleh batasan normatif tertentu. Jika adigium Cartesian mendewakan ratio “cogito ergo Sum” maka persepsi keindahan tubuh menjadi domain murni tanpa distorsi oleh entitas eksternal.

Makna tubuh sebagai keindahan, sebab tubuh bukan hanya data yang terisolir yang sekali-kali orang menilai sebagai sebuah benda materil. Melainkan, tubuh melukiskan situasi manusiawi yang penuh dengan telos, vitalitas, serta mobilitas untuk berkembang dalam kreasi sebagai imajiner (puisi, teater dan pantomin). Dengan adanya kreasi imajiner maka ‘aku’ sebagai manusia yang bertubuh bisa mengagumkan diri dan menemukan makna dalam tubuh. Penemuan makna tubuh dalam kreasi imajiner juga menandakan bahwa ‘aku’ yang memiliki tubuh tidak memberikan pengandaian tubuh sebagai objek sebaliknya keberadaan tubuh menjadi pusat ruang lingkup sebagai manusia konkret yang menemukan makna diri dalam tubuh. Dengan kata lain, tubuhku bermakna ketika dilakonkan dalam kreasi imajiner itu sendiri. Di mana mampu memberikan keindahan kepada penikmat seni.

Keindahan yang terdapat dalam berpuisi, teater dan pantomin merupakan bentuk perealisasian dari keindahan makna tubuh. Tubuh adalah karya seni alami manusia. Di dalam tubuh ‘aku’ pun mampu berkreasi sehingga tubuh menjadi ‘ruang’ untuk menciptakan seni. Sebagai wujud kesenian tubuh tak bisa dilupakan dalam suatu pementasan sebab tubuh menjadi perantara kebenaran yang mampu berbicara kepada penonton atau penikmat seni. Dengan tubuh yang selalu menumbuhkan kreasi sesungguhnya ‘aku’ sedang merefleksikan hidup. Di sini, tubuh menjadi cermin dan kamar kehidupan. Dalam bahasa Thomas Aquinas, keindahan tubuh sebagai kecerlangan kebenaran. Untuk mendapatkan kecerlangan akan kebenaran maka perlu mencari, menetapkan, dan memelihara tubuh. Maka sejalan dengan bahasa Thomas, imajinasi yang selama ini telah dimulai dan sedang pelajari oleh pencinta seni kesusasteraan (berpuisi, teater, pantomin) sangat bermanfaat untuk pemeliharaan tubuhnya. Artinya, ketika daya kreativitas muncul dalam berpuisi, teater, dan pantomin maka ‘aku’ tidak lain merawat diri untuk tubuh sehingga tubuh menjadi ruang yang bermanfaat, baik individu maupun orang lain.

Boleh jadi, kehadiran tubuh bukan semata-mata dilihat sebagai anatomi biasa melainkan di balik tubuh menyimpan ruang keindahan untuk dieksplorasi dalam meningkatkan kreativitas yang menghidupkan minat seni, iman sekaligus pertumbuhan jati diri.

Dengan tubuh yang terus-menerus dilatih untuk menciptakan keindahan maka karya imajiner (puisi, teater dan pantomin) akan menjadi budaya yang membebaskan ‘aku’ untuk lebih manusiawi. Aku yang dibebaskan melalui tubuh adalah bentuk pembebasan jiwa sebagai langkah penemuan diri dan pengasahan kreativitas.

Oleh karena itu, daya kreativitas (berpuisi, teater dan pantomin) yang ditemukan dalam diri pencinta seni ‘peragaan’ merupakan sarana pengembangan diri dari tubuh. Dengan tubuh yang dimiliki mampu menghidupkan bakat yang bisa mendatangkan kebaikan sekaligus keindahan. Maka, tubuh tidak cukup didefinisikan hanya sebatas anatomi tetapi lebih dari pada itu menjadi ruang dialog antara diri dan daya imajinasi.

Dialog dalam tubuh dapat ditemukan ketika ‘aku’ diberi ruang untuk memperagakan tubuh melalui berpuisi, teater, dan ruang. Perlunya peragaan di dalam tubuh agar hidup seseorang tidak sebatas ‘kehadiran semata’ tetapi mampu memberikan makna profetis melalui keindahan dan kebenaran. Oleh karena itu, tubuh hadir untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan sesama. (*)

*Penulis adalah Agust Gunadin. Mahasiswa STFK Ledalero yang dipercaya sebagai Ketua kelompok sastra ‘Salib Merah’ Camilian- Maumere.

SHARE
Previous articleKesalahanku

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here