Ilustrasi/Sumber:pixabay.com

Memburuh Nama Suka Dipajangkan

Di balik banyaknya wajah terpampang
Penuh dan mendesak tepian jalan dan terminal kota
Ada hamparan padang, kerontang, kekerdilan ide
Sebagai kandidat terkuat atau hanya mencoba
Muncul pancaran darah kekesalan, dan terusik dalam penggelengan
Wajah yang hanya menampang nama
Lantas, menghilangkan rasa keingintahuan
Pemilih yang ingin tahu visi dan misi
Sebab, ada kemungkinan?
Banyak nama suka dipajangkan, tapi
lupa memajangkan ”apa yang ingin dikonkretkan menuju kesejahteraan”

 

Tanah yang Dikalahkan

Aku tergerak menulis pamflet ini
Sebab nyawaku dan nyawamu sering dijodohkan
Antara kegembiraan dan kesedihan
Namun, ada warna dan kegetaran hidup yang menakjubkan
Ingin mempertahankan kehidupan

Terlepas menyaksikan suguhan televisi dan koran lokal
Ada manusia mematahkan sayap antar sesama
Sebab sekian tahun hati mengeram dalam duri kebencian
Lalu menetes pada aksi kekejian
Merebut kesucian tanah sebagai kepunyaanku
Lebih memilih malam dari pada menyambut pagi

Sebab manusia ingin memperlakukan hamba dan dihambakan
menghantam sesama, menghilangkan martabat dan riwayat
Sebab manusia memuja
‘Homo Homoni Lupus’
daripada ‘Omnes Vos Frates Estis’

Adik dan kakak tidak lagi bersaudara
Anak dan Ayah lebih suka bermain parang daripada melihat ‘Enigma Wajah’
Sebab kedua-duanya tidak ingin mengalah untuk dikalahkan
Tanah yang suci seolah menjadi saksi kekejian rupa manusia
San Camillo, 18112018

 

Kebahagian: Perlu Dikasihani

Kutemukan sosok Ondel yang tak mengena
Bukan saja pakaian yang tak punya, tapi
Adanya seringkali meriuh lalu lepas begitu saja
Pada emperan toko lingsir waktu, jalin-menjalin
seperti lintingan tembakau, senantiasa menghela nafas lega
namun, ada kisah yang senantiasa menghafal
syair untuk diingat
bully-bully untuk ditiadakan
pada keberadaan orang dalam gangguan jiwa
ditutur dengan cara yang santun
ditulis dengan feature agar menarik hati
kita sebagai demos menanak dalam jiwa
“Aku ada dalam diri yang lain.”
hati pun perlu diisi oleh kratein
sebab nada kebahagian dan kesejahteraan
perlu sebagai telos
agar tidak ada lagi kisah “anak emas” dan “ditirikan”
                                                          Gnd: San Camillo, Februari 2019

 

Antara Jenaka dan Politik

Hidup adalah pemburuan
Yang sedang mengantar cerita-cerita dari nama
Dan membaca zaman yang sedang gelisah
Sedang tangisan penyesalan
Hanya mengikis butir-butir kelaliman
Kini, ketakutan mulai bergeming
Saat kita hanya sebagai penonton dalam bioskop
Lagi kita datang dengan pakaian necis dan pikiran melangit
Lalu, mencari tentang konsep
Politik yang validitas lagi sahih
Namun,,,
Pernahkah kita membawa sekujur harapan,
Membawa keyakinan mulai merakyat, tidak melemahkan dan memperbodoh masyarakat
Tentang
Politik jangan lagi berteori banyak tapi praksis dalam kebijakan
Rakyat telah lama terlelap dalam teori
Menjadi bosan pada teori abstrak
Mungkinkah?
Demokrasi tidak hanya mengadu dan melangitkan teori
Ini bukan barter, tapi soal nasib rakyat
Yang memonopolikan kekuasaan dengan sepeser uang
Tak pernah ada penyadaran diri
Bahwa kita sudah terlambat bertransaksi
“Tentang pembangunan belum merata lagi nasib rakyat tertata”
                                                                             Gnd: Maumere, Des 2018

 

Pemimpi Atau Pemimpin
I
Meski genang telah menghilir ke seberang
Tapi mata ini masih saja tergelincir pada jemari tenang
Meski suara menggunakan pengeras, berkomentar lewat saran
Rasanya kritikan dan usulan untuk lembaga, justru meninahbobokan nafas panjang
Telah kami lalui pada jalan panjang
Lewat hentakan tertulis pun lalu menuang dalam lembaran kanfas
Terlihat tergesit, namun malah mendiamkan
Ataukah watak Apatis, memang sebagai karakter pemimpin
II
Sekian lama detak jantung hanya mengela nafas
Saat corong kami masih terninabobo
Katanya,“Sibuk kerja, lantas berlibur ke Negeri seberang.”
Kami percaya bahwa Bapa itu pemimpin bukan pemimpi
Yang hanya bertajuk mimpi
Melepas ide pemimpi demi kebijakan terpimpin
                                                                   San Camillo, 20 April 2018

*Penulis adalah Agust Gunadin. Seorang penghuni Rumah Filsafat San Camillo-Maumere. Beberapa puisi pernah dimuat dalam Harian Pos Kupang, Warta Flobamora dan Media Online.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here