Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Mata sayu di persimpangan jalan itu, tatapanmu begitu memikat. Jauh hasrat membayang, teruntuk angan yang terus menyapa. Tentang hadirmu yang kini membuat hujan di kota ini tak lagi membuatku cemas. Sayu matamu membuatku candu.

Januariku tak lagi sekabut kemarin, awan hitam pekat tak lagi menggumpal dalam isi kepala. Kau hadir mengusik resahku. Kita beda tapi tak jadi penghalang, untuk hati yang kian merindu kau sempurnakan hariku.

Mata sayu di persimpangan jalan itu, senyummu memamerkan ayu keanggunan. Aku gelisah, tapi tidak untuk nyali yang menciut. Jika kopimu selalu nikmat, maka aku harap hadirmu selalu memberi arti. Tak perlu banyak adonan untuk menghasilkan sajian kopi yang begitu nikmat, itu hanya butuh ketulusan, keterbukaan, dan tentunya kepandaian untuk menghargai keberadaannya. Jelas kopimu akan selalu aku seruputi. Kamu tau, ini hal sederhana yang aku suka darimu.

Tak perlu banyak omong kosong, sebab hati tak butuh hal bodoh seperti itu. Sederhanakan maksud hadirmu, karena canduku terus menggema dalam setiap lamunan.

Mata sayu di persimpangan jalan itu, jika di awal Januari ada kabar baik menghampiri kita, maka aku harap untuk awal bulan berikutnya selalu menyiratkan hal yang sama. Aku membutuhkanmu. Tak perlu banyak omong kosong, karena itu akan memperumit keadaan. Percayalah, Purnamasari, aku membutuhkanmu! (*)

 

Kevin Marden

*Penulis bernama Kevin Marden. Seorang mahasiswa jurusan Akuntansi di UNDANA Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia sangat suka menulis dan mencintai dunia sastra.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here