(Cerpen) Kisah yang Pupus

0
130
Ilustrasi/Sumber:pixabay.com

Di bulan ini banyak tanya yang menyerbu kepala, tentang luka lara yang tak pernah terselesaikan dengan tuntas. Tentang apa yang membuatku tak pernah bosan untuk menceritakannya. Menceritakan kisah ini sesungguhnya cukup sulit, karena ini tentang si enu dengan sajian kopi khas Manggarainya plus isung lempe-nya. Sosok gadis Manggarai yang menampilkan parasnya yang ayu. Ya, kuakui, dia memang istimewa, karena kopi sajiannya di kala senja pun sangat istimewa. Ada nilai tersendiri untuk keistimewaan yang dimilikinya. Enu molas Manggarai di perayaan Jumat Agung tadi yang dengan anggunnya dia mengenakan towe songke motif tenunan asli Manggarai. Sungguh, dia terlalu sempurna untuk diceritakan, apalagi towe songke yang melingkar di pinggangnya.

Berawal dari obrolan basa-basi, kami akhirnya bisa bertukaran nomor telepon. Pertanyaan demi pertanyaan kami utarakan untuk saling mengenal lebih dekat lagi. Cara dia berbicara pun terkenang abadi di memori kepalaku. Senyum dan parasnya juga habis kutelan bersama seruputan kopi.

Suatu pagi, dia datang dengan senyum yang paling istimewa yang pernah kulihat darinya. Senyum manis yang mampu menggantikan gula di cangkir kopiku pagi itu. Sapaan lembutnya pagi itu sempat membuatku sedikit canggung. Secepat mungkin aku mengontrol rasaku dan segera membalas sapanya. Rasa canggung seketika hilang dari pikiranku. Kupersilakan dia untuk masuk ke kamar kostku, lalu duduk sambil kusajikan dua gelas kopi yang akan menjadi kawan dalam jumpa kami kali ini. Duduk berbagi cerita dengannya, serasa kurang cukup waktu 12 jam yang Tuhan hadiahkan. Ada kenyamanan, ada keakraban ketika dekat dengannya. Tapi sayang, waktu tak pernah memahami perasaan. Dia terlalu cepat untuk mengucapkan selamat tinggal pada senja. Ada sesak yang kian meronta untuk berhentikan waktu.

Setelah pertemuan itu, kami tak lagi bersua. Waktu terlalu memenjarakan temu, hingga rindu menumpuk kurasa. Rindu dengan tawanya, rindu dengan cerita-cerita lucu dengan dialek khas Manggarainya. Ingin aku hadirkan kembali kenangan-kenangan saat bersamanya lagi, tetapi itu hanya menambah rindu yang ada. Aku hanya mampu berbicara pada bayang. Menceritakan betapa hatiku menginginkan pertemuan kembali.
Hingga suatu pagi, tak sengaja kami dijumpakan dalam tenangnya pagi.

Di antara keramaian jalan yang begitu sesak kurasa. Tak ingin melewati kesempatan, aku mulai bercengkrama-ria. Mulai kutanyakan kabarnya selama kami tak saling bertemu. Tanpa sadar aku mengungkapkan rasa kekosongan yang melandaku selama dia tak ada kabar. Entahlah, hanya saja mulutku tak bisa menipu soal isi hatiku. Ini sungguh jujur kuungkapkan, bahwa ada rasa lain pada cangkir kopiku selama dia pergi. Pipinya memerah kulihat, tanda bahwa dia sepertinya malu dengan apa yang kuungkapkan.

“Hahahhah, aku tidak hilang, hanya saja sedikit mengambil jeda untuk terus bersua,” jawabnya dengan senyum khasnya.

Andai dia tahu bahwa jedanya sungguh menyiksa rinduku yang tak berujung. Pertemuan itu kami habiskan dengan menceritakan banyak hal. Mulai dari cerita tentang kopi mane yang hambar tanpa senyumnya. Cerita tentang Kupang yang begitu nyaman dengan hawa panasnya, cerita tentang bukit cinta yang tak lagi hijau, hingga cerita tentang anak kos ku yang telat membayar tunggakan bulanannya. Hingga waktu berlalu begitu saja tanpa kami rasa.

***

Pagi yang sendu. Aku kembali duduk di kantin kampus tanpa gairah. Menyeruput kopi yang terasa hambar di bibirku. Barangkali ini hambar karena perasaanku yang lagi kacau,karena untuk satu minggu ke depan aku tak lagi bisa bersua dengannya di kampus. Kampusku tidak akan ada aktivitas selama satu minggu ke depan, jadi aku juga tak bisa lagi bertemu dengan si enu Manggarai. Aku hanya bisa menuturkan harapan agar waktu lebih cepat berjalan. Sepertinya senyum si enu sudah menjadi canduku.

Selama satu minggu ini aku sibuk dengan berbagai tugas, dan juga aktivitas rutinku di kos. Hingga satu pekan telah berlalu, dan aku harus kembali masuk kampus.

Memasuki pintu besar fakultas itu, serasa terlalu nyaman untuk terus melangkah. Yeah,walau kelas perkuliahanku hari itu cukup rumit karena harus dimulai dengan mata kuliah Manajemen Strategi. Mata kuliah yang aku ikuti bersama senior-seniorku. Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan. Yang mau aku ceritakan sekarang adalah tentang dia yang datang dengan senyum paling baik yang pernah kulihat dari bibirnya. Sepertinya ada balasan rasa rinduku terhadapnya.

Malam ini adalah malam Minggu, malam yang asyik bagi kaum muda. Seperti halnya kami. Malam ini akan menjadi malam Minggu paling berkesan setelah dua bulan lebih aku mengenalnya. Yah, malam ini kami akan duduk bercerita dalam nuansa yang berbeda. Topik cerita kami malam ini bukan lagi tentang rindu, tapi tentang kopi yang tetap nikmat untuk diseruput dalam dingin. Tidak tau kenapa harus topiknya kopi. Entah karena apa yang membuat kami merasa nyaman untuk bercerita dalam dingin dan gelap. Tak ada kecanggungan, yang ada malah kedekatan yang semakin menempel. Ibarat cicak yang tetap setia merayap di tembok yang basah. Cerita-cerita indah mulai kami rajut bersama hingga kelam itu kembali hadir di waktu yang tak diinginkan.

Gadis ini memang beda, dia tak sama seperti gadis-gadis lain yang pernah kukenal. Bagiku dia istimewa. Tak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan bagaimana keistimewaannya. Tetapi, di balik keistimewaannya ada sesak yang terus menggema dalam kalbuku. Dia seakan tak lagi ingin peduli, seakan jarak yang pernah kami gulung bersama kini harus dibentangkan kembali olehnya. Entah apa yang membuatnya seperti itu.

Sayup-sayup rindu tentang dia terus menjadi coretan penting dalam diary-ku. Kerisauan, keresahan, dan bahkan kekecewaan terus berkecamuk dalam sepi. Tak lagi ada keseruan, tak lagi ada canda hingga lupa waktu, tak lagi ada gelas kopi, semua kembali ke titik nol. Ingin untuk melepas, namun rasanya tak sanggup, ingin untuk mendekat tapi nyaliku menciut di depannya. “Ah, Kristina! Rumus apa yang kau gunakan? Mengapa terus menghilang?”

Akhir Oktober, semuanya kembali menemukan titik terang. Dia tak lagi menyimpan kekesalannya sendiri. Kali ini aku yang memulai percakapan dengannya. Membuka kembali luka lama, rasanya seperti berjalan dalam panas yang begitu menyengat. Dia menceritakan semua hal tentang mengapa dia harus menghilang. Sakit memang ketika mendapat kenyataan seperti itu. Dia menemukan lelaki baru yang katanya lebih baik dariku, selalu ada di saat dia membutuhkannya. Ini hal terburuk yang pernah aku dapati.

Percayalah! Apakah kedekatan kita beberapa bulan lalu tak sedikit pun memberi pengaruh untuknya? Atau apa memang dianya yang sedang mati rasa ketika itu? Sepertinya dia sedang mati rasa ketika itu. Banyak hal yang dia jelaskan, tetapi semuanya sangat menyakitkan untuk kukenang.

November ini kotaku sudah dilanda hujan, tak lagi ada rasa panas yang begitu menyengat. Yang ada hanya becek yang luar biasa karena genangan air hujan. Bulan yang sungguh membuatku risau. Gadis yang telah mencampakkanku kembali hadir dengan senyum moleknya. Perasaanku tak bisa sekalipun untuk menolak kehadirannya. Mungkin aku dianggap pria bodoh. Tetapi rasa ini membunuh kesadaranku. Aku hanya merasakan kenyamanan dengan kehadirannya.

DIORAMA TANPA IRAMA
Cuitan harapan di beranda
Kau datang lalu memberi asa
Sepenggal, sekilas dan jangan membual!
Sekelam mendung dan sepahit hujan
Kau datang lalu memberi harapan
Kristina Gang Koneta
Hadirmu kembali menyita perhatianku
Dengan jejak kasih kau mengusik resahku
Lalu nantinya kau pasti menghilang
Jangan datang jika hanya ingin membohong!
Bualan rinduku sudah terlalu panjang
Bagai pena tanpa kertas bergaris
Tak lagi memberi arti
Kuremas lalu membuangnya
Dengan harap, rinduku tak lagi singgah.

Kristina Gang Koneta, gadis manis dengan senyum paling manis aku menginginkanmu, aku menyukaimu, tetapi untuk memilikimu mungkin hanya menjadi harapan yang tak akan pernah menjadi nyata. Aku bukan laki-laki baik yang selalu ada ketika engkau membutuhkanku. Tapi percayalah, aku mungkin laki-laki yang paling beruntung karena pernah mengenal dan mendekatimu. Setiap manusia punya cara sendiri untuk mengekspresikan rasa sayang nya. Aku dan kekasihmu tak sama, dia mungkin akan selalu ada untuk menemanimu. Katamu dia adalah orang yang paling baik, baik bila memang dia benar-benar baik padamu, bagiku itu tak apa.Dia akan selalu ada ketika duka lara menghampirimu. Jadi wajarlah jika kamu lebih memilih dia.

Aku dengan 1001 kekurangannku dijadikan oleh mu alasan untuk menjauh. Tak apa. Aku tak menyalahkanmu. Aku tak menyalahkan perpisahan ini. Tapi justru aku menyesali karena sudah berharap banyak darimu. Terima kasih karena sudah memberi warna di setiap hariku. Terima kasih karena sudah membuat aku sadar bahwa tidak semua hal yang diawali dengan baik akan berakhir dengan baik pula. Terima kasih untuk kisah singkat yang penuh makna. Terima kasih untuk kisah yang telah pupus. Kelak ini akan menjadi cerita yang nantinya akan tetap menggema dalam pikiranku. Akan selalu teringat di mana sebuah pasir kali yang justru menginginkan emas. Terima kasih, Kristina! (*)

Kevin Marden

 

*Penulis bernama Kevin Marden. Seorang mahasiswa jurusan Akuntansi di UNDANA Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia sangat suka menulis dan mencintai dunia sastra.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here