Antologi Puisi Maria Libertiani Junita November 2018

3
389
Ilustrasi/Sumber:pixabay.com

Gadis Desa

Gadis…
Dirimu polos bak lembaran putih yang tak pernah disentuh
Kau nikmati cantiknya jagat pada desa yang dihiasi deretan persawahan
Polesan senyummu mampu pecahkan gundah
Binar menyala dibiaskan jernihnya air pada sudut ruang
Tiap langkahmu selalu kau selipkan senyum dan canda
Paras cantik nan indah berpadukan senyuman ramah

Gadis…
Tahukah dirimu??
Ribuan mata tak lelah menatap bola matamu nan bulat dan polos
Cantiknya senyum yang kau lukis pada bibir yang suci
Begitu amat menawan

Hingga pada saat itu
Saat kau tak pernah sadar
Saat kau tak pernah tau
Ada dua bola mata unik memandangmu dari kejauhan
Bola mata itu terlihat terpesona memandangmu
Seakan melihat seorang ratu dari singgasana
Bola mata itu tidak berhenti menatap
terhipnotis oleh parasmu
Dia tersenyum
Namun dia membisu
Mungkin saja ada secuil rasa muncul dalam benak sang pemilik bola mata
Rasa kagum akan parasmu nan ayu
Mungkin saja kau terlihat seperti bidadari bersayap putih
Cantik nan anggun
Ya….
Mungkin saja

Perihal rasanya padamu
Biarlah dia menetap dalam bisunya
Biarlah dalam diamnya menyimpan rasa itu yang muncul sekali, dua kali, hingga memuncak dalam kalbu
Ya…
biarkanlah..
Kelak rasanya dan rasamu menyatu jika Sang Khalik berkenan

Gadis…
Tentang dirimu
Yang cantik nan ayu
Berpijak di desa sunyi
Berdiam dalam gubuk sederhana
Beralaskan tanah dan beratapkan alang-alang
Namun parasmu menghiasi seisi rumah
Senyum manis itu, menghadirkan warna dalam gubuk tua itu
Sempurna dan menawan

Gadis…
Ingatlah pinta yang pernah disuguhkan padamu
Di kala itu, mentari menyinari semesta dengan lahapnya
Segenggam harap tertuju padamu Suara lembut yang meneduhkan kalbu;
“Nak, tetaplah jadi gadis Tuhan!”

Bisu

Aku adalah bisu
Mengagumimu dari kejauhan
Memperhatikan setiap tindakmu
Dalam detakkan jarum jam
Adalah kau yang menjadi lakon
Dalam hayalku
Penggerak imajinasiku

Di kala wajahmu hadir dalam bayang
Penaku tak berhenti melukiskan tampannya wajahmu dalam sajakku
Aku merangkai setiap gejolakku tentangmu dalam kata
Membiarkannya abadi dalam lembaran putih
Kelak, kau sempatkan diri ‘tuk membaca sajakku
Biarlah di kala itu, kau menyadari akulah pengagum rahasiamu
Kau cukup wadahi rasaku dengan layak
Agar rasaku dan rasamu menyatu
Jangan lupa selipkan sujud
Jangan tanya tentang bisuku
Aku tidak pernah berubah
Akan tetap sama
Membisu dalam rasa yang sama
Pada orang sama

Rindu

Apa kabar dirimu
Penawar hati pada bulan desember
Menghadirkan rindu pada kala itu
Kala kisah bulan Desember

Rintikan hujan membasahi semesta
Bisikan angin lembut menyapa jagat
Seakan hujan mengerti rasaku
Angin pun begitu

Aku berdiam dalam gubuk tua
Menikmati keheningan
Menatap rintikan hujan dan merasakan angin lembut
Menambah dingin kulitku
Hatiku juga hampa
Kubiarkan rinduku meluap
bersama rintikan hujan

Rinduku selalu hadir
Mengusik hati pada sepertiga malam
Menghadirkan hasrat ‘tuk memainkan sajak
Menarikan pena di atas panggung lembaran putih
Menari…menari…
Merangkai kata demi kata
Melukiskan wajahmu

Saat kau hadir dalam benakku
Aku selalu tidak berdaya
Seakan wajahmu menghipnotis naluriku ‘tuk selalu mengingatmu
Bermain sajak adalah obat ‘tuk melampiaskan rinduku padamu

Senja masih menggubris
Ia hadir setelah hujan menyirami semesta
Ia berpijak pada angkasa
Menghibur diriku yang merana
Angin pun tetap setia menyapa dengan lembutnya
Pintaku pada angin
Bawalah rinduku pada hadiratnya
Rinduku kian memuncak
Sampaikan padanya
Masih kunantikan dia dalam gubukku

Teruntuk Gadis Pejuang

Gadis
Tersenyumlah pada semesta
Tempat kau berpijak
Tersenyumlah pada keadaan
Tempat kau temukan segala suka-duka
Tersenyumlah pada waktu
Yang selalu mendorong ‘tuk tetap melangkah
Artinya kau masih tau bersyukur

Gadis
Jadilah kuat
Peluklah tantangan dengan erat
Ia akan menjadikanmu kokoh
Di kala keluh membelenggu
Tetaplah pancarkan senyummu
Dengannya kau dapat menipu dunia
Kau akan nampak baik-baik saja di hadapan semesta

Gadis
Ayunkan kaki ‘tuk melangkah
Raihlah mimpi ke puncak bukit
selipkan waktu ‘tuk bersujud
Sebab, segala yang kau perjuangkan hari ini
Kelak, semesta akan menyediakan yang amat baik menurut Sang Khalik

Pencerah Benak

Kau
Adalah sajak permata
Yang menari-nari dalam hayalku
Berbaris rapih pada secarik kertas berhargaku

Kau
Adalah coretan bermakna
Yang kurangkai setiap hari
Kau bagai mentari
Meniadakan gelap pada hati
Pancarkan terang pada lembah naluriku

Kau
Adalah coretan sederhana
Hanya terbentuk dari kumpulan abjad
Namun kau adalah Sang Dewa
Memanusiakan aku
Menjadi insan berilmu

Maria Libertiani Junita

(*)Penulis adalah Maria Libertiani Junita dengan nama panggilan Betty. Mahasiswi kelahiran Ruteng, 12 April 1996 ini sekarang menetap di Ruteng dan sedang menempuh pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP Santu Paulus Ruteng. Selain menulis, Betty juga hobi membaca dan menyanyi. 

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here