(Cermin) Malam Minggu Kita di Mana?

0
243
Ilustrasi/Sumber:pixabay.com

Sejak sore, pria dan wanita itu sama-sama gelisah. Keduanya hanya diam sambil menyeruput kopi yang hampir menyisakan ampas. Entah apa yang membuat keduanya menjadi saling merasa asing.

Malam semakin menjemput. Wanita itu beberapa kali keluar kamar menuju kamar mandi untuk pipis. Pria itu mungkin tau bahwa wanita itu juga gelisah seperti dirinya. Namun, ia kembali menyedot batang rokoknya dengan kuat.

Sementara di luar sana, terdengar keributan para pengguna jalan. Ada yang ngobrol, tertawa, ataupun cekikikan. Mereka keluar menikmati akhir pekan dengan berbagai aktivitas.

Wanita itu merasa tidak bisa mengelak lagi. Ia harus berterus-terang tentang apa yang membuatnya gelisah. Meskipun ia tahu ini akan terdengar konyol dan memalukan.

“Malam ini kita di mana?” Bisiknya pelan di sisi pria yang masih duduk tenang di bangku kayu tua itu.

Pria itu menunduk. Apa yang juga digelisahkannya sama dengan apa yang ditanyakan wanita itu.

“Dia memang wanita istimewa, tapi apa yang mesti kulakukan?” gumam pria itu dalam hati.

“Setiap akhir pekan kita tak pernah mengistimewakannya. Kita selalu diam, tanpa mau mengutarakan apa yang dikehendaki. Kau sibuk dengan rokokmu, mengisapnya hingga abunya habis pula diterbangkan angin malam. Apa aku harus berbicara lebih dulu bahwa aku juga ingin dimanjakan? Aku sakit. Lebih sakit dari wanita manapun di seluruh dunia ini,” isak wanita itu.

“Kamu sakit. Kenapa tidak bilang?”

“Kita sudah hidup bertahun-tahun lamanya. Aku mengenalmu, keluargamu, dan semua kenalanmu. Namun, sedikitpun kau tak paham akan kehendakku. Apa kau tak merasa bahwa hubungan ini ingin lebih dari sekedar pertemanan gila yang kita ciptakan? Sementara kita menyimpan rasa yang bergeloraria yang kau sebut cinta itu. Kapan kau memulai? Aku pun tak bisa lagi duduk berdua denganmu. Sementara hatimu, otakmu selalu dibayangi oleh ketakutan,” tegas wanita itu lagi.

Pria itu semakin menunduk lebih dalam. Ia tak pernah membayangkan akan terlihat seperti pengecut di depan wanita ini. Ternyata, apa yang ditakutinya malah menjadi sebuah pukulan yang membuat wanita itu merasa tersakiti.

Yeah, ia mengakui bahwa pertemanan ini tak lagi murni sejak awal mereka bertemu sebagai sepasang sahabat. Tahun-tahun yang mereka lalui dengan baik, membuat perasaan lain ikut tumbuh subur. Ia tak bisa lagi mengelak dengan menyedot batang rokok atau menyeruput kopi yang sudah menyisakan ampas.

Pria itu seketika berdiri tegak. Ia melangkah dan langsung mendekap wanita itu. Mereka hendak kembali mengulangi lagi tahun pertama pertemuan mereka.

“Aku tak akan lagi menunggu kau berbicara lebih dulu. Aku akan peka jika kau merasa kesepian. Aku akan tau bahwa kau ingin kudekap atau kau pun ingin kumanja. Aku tak akan lagi takut,” bisik pria itu yang kesadarannya bagai diguncang.

Keduanya pun membelai diri. Sesekali kecupan mendarat begitu saja. Malam pun tak lagi asing, angin juga seperti lantunan melodi panjang. Menghanyutkan. Kekuatan ini begitu dahsyat, hingga cinta bisa menyembuhkan yang sedang terluka ataupun sedang dikuasai amarah.

“Malam minggu kita di mana?” bisik keduanya mesra. (Ilda wahyu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here