Antologi Puisi Yasinta Lastika Wanul November 2018

0
223
Ilustrasi/Sumber:pixabay.com

Songke

Rajutan tangan molas Manggarai
Warisan leluhur
Tak ternilai oleh apapun
Kekayaan akan budayaku

Kehangatan kurasakan
Saat berbalut dirinya
Kedamaian kutemukan
Saat menatapnya
Terlihat begitu molas dan reba
Saat mengenakannya

Tenunan molas Manggarai
Yang begitu indah
Mengandung seribu makna

Untuk STIBA 47
Kawan Seperjuanganku

Tentang tiga tahun kebersamaan itu
Mengusik kembali memori
Ketika tak sengaja
Aku membuka galeri itu
Tak kusadari
Aku tersenyum sendiri
Memandang satu per satu
Wajah mungil nan polos itu
Ingin rasanya menitikkan air mata

Di sana ada cerita
Kisah kami semua
Ada canda tawa, tangisan, suka, duka
Kami melewatinya bersama
Ketika dihukum
Kami masih tetap bersatu
Tertawa pula tak peduli cibiran guru

Kami merajut persaudaraan
Merasakan manisnya rotan
Rotan ajaib dari si Mimin
Menikmati ceramah dengan santai
Yang sebenarnya teguran
Tapi kami sering mengabaikannya
Bahkan tak menghiraukannya

Aku berharap dapat mengulangnya
Meski hanya sekali
Laksana sebuah kalender
Mampu mengembalikan
Bulan yang sama
Setelah setahun menjelajah

Sayang………
Pasti tak mungkin jawabannya
Perpisahan sudah merenggutnya
Kini hanya bisa mengenang
Mereka yang pernah berjuang bersamaku

Tak Ingin Hari Berakhir

Ada hendak di balik malam
Saat menatap cakrawala
Tentang hati yang bergelora
Suara gemuruh nadiku
Memberontak dalam hati
Tak bisa kulerai

Andaikan malam hanya sedetik
Dan mentari kembali menyapa
Agar diriku segera menyeka embun pagi
Biar rerumputan kembali berseri
Menyambut datangnya cahaya mentari
Sebagai simbol untuk memulai
Mengukir sejarah di hari itu

Berat rasanya hati
Saat mentari hendak pulang
Karena petang menjemputnya
Untuk beristirahat sejenak
Malam seakan menculiknya
Hari itupun berakhir

Mentari

Kemilau cahayamu
membangkitkan semangat
setiap jiwa insan
kehangatanmu mampu mencairkan setiap hati yang beku

Engkau memancarkan
sinar yang penuh harapan
harapan ‘tuk mendapat kemudahan
dalam mengais rezeki

Engkau seakan memberi
sebuah kekuatan dahsyat
‘tuk berjuang di hari itu
mencari serta mendapatkan

Hingga senja
membawa setiap hati
‘tuk kiranya bersyukur
atas apa yang diperolehnya

Tanyaku pada Sang Waktu

Hei…
Bisakah kamu mengembalikan hari-hariku yang telah hilang?
Kamu telah melenyapkannya
Kamu membuatnya meninggalkanku
Kau menyediakannya untukku
Lalu merampasnya lagi
Aku ingin kembali pada saat yang telah kau curi itu

Apakah kau mendengarkanku?
Sekejam inikah dirimu?
Merenggut kisah demi kisah
Yang sudah berlalu
Berakhir karena dirimu
Hasratku pun tak bisa menahannya
Mengapa?
Bicaralah kuingin mendengar jawabanmu!

Tak Sebening Air

Tak kuat mataku menatap
Menatap diri yang keruh
Tak sanggup hatiku bergumam
Sebab mata hatiku kabur

Berkaca?
Ah, akupun malu.
Diriku begitu dekil
Hingga air pun segan
Menunjukan bayanganku

Seketika kejernihannya menghilang
Berubah menjadi hitam pekat
Seolah menjadikanku musuh
seakan aku merampas kesuciannya
Saat aku hendak berkaca padanya

Mungkin ini isyarat
Diriku tak layak
Untuk bersanding dengannya.

 

Yasinta Lastika Wanul

*Penulis bernama Yasinta Lastika Wanul dan biasa dipanggil Lasti. Perempuan asal Kota Ruteng ini sedang menjalankan pendidikan di STKIP Santu Paulus Ruteng. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here