Korupsi dalam Demokrasi

0
152
Ilustrasi./Sumber:pixabay.com

Apa itu korupsi? Apa itu demokrasi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi merupakan penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan dan sebagainya untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Sementara demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut memerintah dengan perantaraan wakilnya.

Lalu bagaimana perilaku korupsi dalam proses demokrasi?
Demokrasi adalah bentuk menghargai setiap hak orang, bentuk menghargai adanya persamaan dalam kedudukan dalam suatu negara. Adanya demokrasi tentu adanya sejarah sebagai alasan mengapa negara kita menganut sistem demokrasi. Negara kita sebagai negara yang menerapkan sistem demokrasi yang artinya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Berarti kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat sendiri. Namun, ini tidak sebetulnya terjadi.

Perilaku korupsi yang selama ini telah kita lakukan sangat berdampak dalam proses demokratisasi di negara kita. Korupsi menjadikan demokrasi hanya sebagai lambang tanpa pencerminan tindakan nyata. Korupsi menyebabkan segala hal yang menjadi kepentingan bersama terabaikan. Hal itu berdampak pada kemajuan sebuah negara. Sementara kita selalu bertanya kapan negara ini maju?

Banyak tindakan korupsi yang tidak membenarkan proses demokrasi sebagaimana mestinya, salah satunya yaitu adanya politik uang. Sehingga arti demokrasi yang sesungguhnya terabaikan. Dampak yang terjadi pun semakin banyak terjadi dan masyarakat dijadikan objek dari para pelaku tindakan korupsi.

Salah satu contoh tindakan korupsi yang berdampak pada kesejahteraan rakyat yaitu pembangunan jalan yang bermutu rendah. Sementara kebutuhan jalan sangat diperlukan oleh masyarakat terlebih masyarakat pedesaan. Padahal masyarakat sudah menaruh harapan besar kepada para wakil rakyat dengan memilih mereka sebagai harapan agar adanya pelayanan fasilitas yang memadai demi kelangsungan hidup masyarakat.

Sistem demokrasi negara kita sudah tidak diindahkan lagi. Kepentingan pribadi dan golongan menjadikan yang kaya semakin kaya dan yang miskin tetap miskin. Tidak ada usaha untuk mengedepankan kepentingan bersama demi tercapainya persamaan hak setiap orang.

Sudah ada gaji, lalu korupsi lagi. Untuk apa menimbun uang sebanyak-banyaknya?
Kalau memang yang diutamakan dalam hidup ini bisa makan, toh beli makanan tiap hari tidak sampai milyaran banyaknya. Kita semua rakyat. Para koruptor, mungkin tidak pernah menjadi rakyat kecil. Belum merasakan yang namanya derita. Dari lahir mungkin langsung naik daun jadi lupa apa itu rupiah.

Semoga ke depannya negara kita lebih menyadari arti demokrasi. (Ilda Wahyu)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here