Khaerul Jamil Qhadafi atau yang dikenal dengan Dhiva Nadya saat ditemui di salonnya yang berlokasi di Labuan Bajo baru-baru ini./Foto:AIB

Mengubah orang lain menjadi lebih cantik lewat riasan kosmetik, kemudian menata dekorasi pernikahan yang menarik adalah keahlian Khaerul Jamil Qhadafi atau yang dikenal dengan Dhiva Nadya ini. Ia menyadari ketertarikan ini sejak masih kecil dan konsisten menjalankannya hingga kini.

Salon Dhiva yang bertempat di Jalan Gabriel Gampur, Kota Labuan Bajo, menjadi tempat kerja utama, Khaerul Jamil Qhadafi atau Dhiva. Saat disambangi Flores Muda pada Rabu malam, 31 Oktober 2018, ia sedang merias wajah seorang warga negara asing bernama Andirana. Salonnya sedang dalam penataan kembali, namun ia masih menerima pelanggan yang ingin memakai jasanya.

Dengan peralatan rias yang cukup, wajah Andriana mulai digambar dengan kuas make up, Dhiva merias wajah perempuan berambut pirang itu dengan gaya karakter hantu untuk acara haloween. Ini sesuai permintaan Andriana. Dhiva pun dibantu seorang asisten yang juga adik kandungnya sendiri bernama Hilda.

Riasan hampir rampung ketika mereka menempelkan manik-manik pada bibir dan lingkaran mata Andriana. Sebagai akhir, Dhiva memperbaiki beberapa riasan hingga penampilan pelanggannya menjadi sempurna.  Pekerjaannya pun selesai.

Dhiva saat ini menekuni dunia fashion dan make up. Ia melayani jasa rias pengantin, sewa baju pengantin, dan dekorasi pernikahan. Selain itu, ia juga melayani permintaan riasan berbagai gaya. Di salonnya, Dhiva melayani pelanggan yang ingin menggunting rambut atau meluruskan rambut. Bidang pekerjaan ini belum banyak digeluti  orang muda di Manggarai. Namun, kebutuhannya tidak pernah surut. Ia mengatakan, peluang untuk make up artist sangat besar dan untuk memulainya tidak harus dengan modal yang besar pula.

“Modal yang dari kecil pun akan langsung kembali dengan secepatnya. Contohnya untuk gunting. Gunting kita beli dengan harga 100 sampai 200 ribu Rupiah, kembalinya akan berlipat-lipat ganda,” terangnya.

Sejauh ini, Dhiva banyak menerima jasa make up artist untuk pengantin di wilayah Labuan Bajo dan sekitarnya. Bahkan, ada juga beberapa pelanggan dari Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai. Biasanya, permintaan untuk jasanya tersebut meningkat di bulan Juni hingga akhir November. Ia menyediakan paket pernikahan yang  terdiri dari dekorasi, baju pengantin, dan make up. Sebagai tambahan, Dhiva juga menyediakan jasa gambar hena yang akan dilakukan oleh Hilda.

Ia selalu berupaya maksimal memenuhi keinginan pelanggan dengan model make up yang beranekaragam. Meski begitu, ia tidak pernah merasa menghadapi tantangan besar yang membuatnya jatuh, selama berkarir.  Menurutnya tantangan adalah motivasi bagi dirinya dan ia bukan tipe orang yang mudah larut dalam masalah. Dhiva sangat mencintai pekerjaan yang ia geluti tersebut dan merasa bahagia dan ringan saat menjalaninya.

“Usaha ini sangat menjanjikan. Saya cintai pekerjaan ini karena saya suka dan saya dapat uang dari ini. Saya bekerja dengan ikhlas, happy,  dan santai. Apalagi saya dari kecil sudah di sini, di ‘dunia’ saya ini,” tuturnya.

Dhiva menyukai fashion dan make up sejak kecil./Foto:AIB

Dengan minat dan kecintaan yang besar, Dhiva pun konsisten menjalankan usaha tersebut. Ia meyakini bahwa usaha yang sedang dijalaninya mampu menopang kehidupannya dan bisa membawanya ke kesuksesan. Ia berpegang teguh pada prinsipnya yakni lebih bangga membangun usaha sendiri meski kecil, dibandingkan bekerja pada orang lain.

“Saya orangnya konsisten. Teman ajak kerja di tempat lain, saya tolak! Saya tegaskan bahwa itu bukan saya! Menurut saya, kerja dengan orang tetap saja status saya pembantu, jadi walaupun kecil usaha saya, saya tetap jadi bosnya, saya bangga! Dari dulu saya tanamkan prinsip tersebut,” ucap dia dengan tegas.

Dari usahanya tersebut pun, Dhiva telah mandiri mengembangkan usahanya menjadi lebih besar. Saat ini ia sedang membenahi salonnya dengan tampilan yang lebih menarik. Selain itu, ia juga berencana akan membuka rumah pengantin pada tahun 2019 mendatang.

“Konsepnya nanti seperti kebanyakan rumah pengantin di kota besar. Pelayanan yang profesional dengan pakaian yang lebih lengkap dan bermerek. Akan tetapi tentu saja tetap disesuaikan dengan pasar di sini.”

Pendapatan yang diperoleh Dhiva dari jasa merias pengantin dan dekorasi cukup lumayan. Biaya untuk satu paket yang terdiri dari make up artist, dekorasi, dan baju pengantin bisa mencapai Rp8 juta. Pada masa-masa ramai, ia bisa melayani sampai lima acara pernikahan dalam satu bulan. Dari sini, ia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan membantu keluarganya.

“Dari hasil ini, yang paling saya syukuri adalah saya bisa bantu orang tua untuk naik haji. Saya menabung dari tahun 2008 dan mudah-mudahan tahun depan mereka sudah bisa naik haji,” ucap Dhiva yang sontak menitikkan air mata.

Tinggalkan Sekolah dan Memilih Make Up

Dhiva melewati perjalanan yang panjang untuk sampai ke titik yang sekarang. Ia telah menyadari ketertarikannya pada fashion dan make up sejak kecil.

“Waktu kecil, saya jadikan teman-teman sebagai model. Saya dandan, saya jadikan mereka pengantin, saya buatkan dekorasi untuk mereka duduk dan saya panggil teman-teman lain yang jadi tamu undangan,” kenangnya dengan ekspresi wajah geli.

Dhivapun menyadari dirinya transgender sejak masih kecil. Ia lebih banyak bergaul dengan teman-teman perempuan. Hal ini sempat membuatnya merasa tak enak hati pada keluarganya, khususnya kedua orang tuanya. Kondisinya diterima oleh keluarganya dan lambat laun, ia merasa nyaman dengan dirinya sendiri.

Lihat Juga: Video Suara Entrepreneur Muda Khaerul Jamil Qhadafi (Dhiva Nadya)

Keputusan besar diambil Dhiva saat akhirnya lulus dari SMPN 1 Komodo. Ia memutuskan tidak melanjutkan pendidikan di tingkat selanjutnya. Setelah mengambil keputusan tersebut, ia merasa harus bertanggungjawab atas keputusannya sendiri. Dhiva giat belajar merias secara autodidak. Salah satu cara adalah dengan  membaca tips merias dari majalah fashion yang menyediakan konten kecantikan.

“Saya belajar dengan membaca di tabloid-tabloid kemudian mempraktekkannya ke diri sendiri,” kata dia.

Selain itu, ia juga pernah bekerja di salon seorang teman. Saat itu, ia hanya dipercaya untuk membantu mencuci rambut pelanggan dan membersihkan salon. Kesempatan tersebut dipakainya untuk belajar. Ia mengamati para pekerja salon yang merias pelanggan.

Dhiva juga pernah ikut kursus menjahit di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Saat itu, ia tinggal bersama bibinya yang juga membuka usaha salon kecantikan dan toko pakaian. Di situ Dhiva lalu mengembangkan keterampilan merias. Ia lebih banyak membantu di salon dari pada toko pakaian milik bibinya.

Memasuki tahun 2005, ibu kandung Dhiva memberinya modal untuk membuka salon kecantikan di Borong, Manggarai Timur. Ia bekerjasama dengan seorang teman yang lebih dewasa darinya.

“Waktu itu, kami yang membuka salon pertama di Borong. Kami pilih Borong karena ada teman yang tawari. Saya lalu pindah ke Borong dengan modal nekat.”

Awal dibuka, pelanggan pertama Dhiva rata-rata adalah teman-temannya. Seiring waktu, ia pun dikenal masyarakat dan banyak dipanggil untuk merias pengantin.

“Pada saat itu, setelah saya masuk banyak yang menilai dandanan saya bagus. Kalau dandan sama orang di kampung beda hasilnya,” aku dia.

Dhiva Nadya berencana membuka rumah pengantin./Foto:AIB

Merasa tak cocok dengan rekan kerjanya, Dhiva hanya bertahan satu tahun di Borong. Ia kemudian memutuskan meninggalkan salon di Borong dan berpindah ke Ruteng. Saat di Ruteng, ia bekerja di salon orang lain selama satu tahun untuk mengumpulkan modal. Setelah uangnya cukup, ia pun memberanikan diri membuka salon sendiri.

“Awal tahun 2008 saya punya modal untuk buka salon. Di Ruteng, oke! Saya mulai dikenal banyak orang di Ruteng, klien saya banyak, kemudian ibu menyuruh saya pindah ke Labuan Bajo,” lanjutnya.

Usaha salonnya kemudian dilanjutkan di Labuan Bajo. Ia memberi nama salonnya sesuai namanya yakni Salon Dhiva. Ia menjalankannya secara pelan-pelan. Awalnya, ia hanya menyiapkan tiga pasang pakaian pengantin dengan dekorasi kain yang lebih sederhana.

Hingga kini, Dhiva selalu mengikuti perkembangan jaman dan trend baik itu untuk  make up maupun gaun pengantin dan dekorasi. Ia tahu bahwa, selama menjalankan karir tersebut, ke depannya ia tidak akan pernah berhenti belajar dan harus selalu tetap kreatif.

“Pada tahapan pengerjaan ini, yang paling sukar adalah pada sesi rias karena saya tau bahwa membuat orang cantik tidak asal nyeploki bedak. Tidak gampang membuat pelanggan puas, apalagi trend juga akan berubah terus,” pungkas Dhiva dengan balutan senyum tipis. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here