Ilustrasi/Sumber: Pixabay.com

Yohanes M. V. B. Maing
Air Mata

Air mataku tak memiliki suara dan kini mengering di pelabuhan pipi, kapal-kapal tuapun tak berlayar hanya menjadi kapal-kapal tua hiasan pinggir pantai.

Aku dan bantalku masih digigit dinginnya ranjang, bibir masih melemah mengisahkan sajak-sajak puisi.

Darahku kehabisan nafsu dan air mataku tak memiliki suara mengering tinggalkan duka, pipi masih terlalu dini untuk disakiti.

Air mata yang mendirikan cinta diterpa angin badai menyisahkan puing-puing luka, air mata tak memiliki suara hanya menyisakan duka.

Gadis Desa

Pada wajahmu tersimpan sejuta harapan menggapai citamu, kau gadis desa berdiri dari sisi kiri menentang kemunafikan. Hanyutkan ragu tepiskan kata orang yang menjatuhkanmu, pandanglah wajahmu dan ulurkan tanganmu jadikan itu sebagai perisaimu.

Kau gadis desa dengan keringat kau menggali jagat raya membidik hingga akhir hayatmu di pembaringan suci. Katakan pada mereka; jika kau gadis desa yang bisa merangkai benang menjadi kain dari tanggamu.

Dari pagi hingga malam menjemput matamu masih saja duduk memungut kata menyusun kalimat untuk kisahmu, lalu kau baringkan bersama malammu. Jiwamu membara menyuling rembulan menjelma menjadi tetesan benih cinta pada hati yang gersang, kau gadis desa penuh makna.

 

Ilda Wahyu
Gadis Pasar Puni

Senyum cantik itu selalu menghiasi bibir merahmu
Sorot matamu berkilau bagaikan permata
Musim hujan tengah mengguyur kota ini
Namun kau masih berkarya dengan teriakan penuh harapan
Rembulan berlalu
Ribuan bintang terbenam di awan
Di tempat ini kau masih memangku dagu
Menunggu para pembawa Rupiah
Malam merangkak menjemput pagi
Kau kembali berbenah diri
Memikul keranjang pagi-pagi buta
Meski matamu berat menahan perih
Teriakanmu kembali terdengar
Memenuhi lorong gedung tua itu
Kembali mengawali hari dengan seribu angan

Kevhin Marden
Fatima, Gang Mawar

Malam ini aku ingin bercerita
Pada malam yang mulai berkabut

Tentang rasa tanpa seberkas asa
Yang ingin aku simpan tanpa perlu memperhatikan logika.

Ini memang rumit
Dan bahkan sangat rumit.
Menyukai tanpa harus memiliki
Mungkin sebuah kedewasaan
Yang tak perlu diutarakan

Fatima, gang Mawar
Aku menyukaimu
Menyukai yang lebih dari sekedar kata.

Aku bahkan ingin memilikimu
Walau hanya dalam angan.
Sebab mencintai dalam diam
Adalah caraku mencintai
Tanpa harus memiliki

*Ketiga penulis bertemu lewat hubungan sahabat pena.  Ilda Wahyu adalah pelajar di SMAK Setia Bakti Ruteng, Kevhin Marden berkuliah di Kupang, dan Yohanes Maing saat ini juga masih mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Selain suka menulis puisi, ketiganya juga sama-sama menyukai kopi seduh.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here