Seniman yang Buruk Meniru, Seniman yang Baik Mencuri

0
333
Musisi asal Manggarai Flores Nusa Tenggara Timur, Illo Djeer tertawa lepas di sela taklshow kelas berbagai edisi 'Musik Etnik Manggarai' di Rumah Kreasi Baku Peduli pada
Musisi Manggarai Illo Djeer tertawa lepas di sela diskusi seri kelas berbagi 'Musik Etnik Manggarai' bersama puluhan orang muda lintas sekolah dan komunitas di Rumah Kreasi Baku Peduli pada Kamis, 11 Oktober 2018./foto-design: kbs

Pelukis Le Picador, Pablo Picasso suatu ketika sampaikan pesan ‘Seniman yang buruk meniru. Seniman yang baik mencuri.’  Seperti Picasso, T.S. Elliot kemudian membaca ulang dan mengdaptasinya ke dalam dunia sastra. “Penyair amatir meniru; penyair dewasa mencuri.” Memaknai keduanya, baiklah mengutip Austin Kleon bahwa tidak ada lagi yang namanya orisinalitas hari ini, dan segala hal ialah gabungan dari apa yang telah dilakukan.

‘Mencuri’ mengandaikan adannya penciptaan ulang (recreate) atas sebuah karya baru yang lebih baik dari hasil karya sebelumnya. Jadi mengambil karya sebelumnya yang sudah ada sebagai inspirasi dan memolesnya dengan sentuhan baru berdasarkan karakter sang seniman sehingga menjadi sebuah karya utuh yang original. Proses dan hasil penggabungan itulah yang menjejak sebagai karya seniman yang baik.

Dan memang, sudah dapat dipastikan bahwa apa pun karya seni yang hari ini disajikan adalah sebuah hasil pembacaan yang berulang atas dan dalam persinggungan dengan varian karya sebelumnya. Baik itu karya sendiri sang seniman maupun karya seniman lain. ‘Mencuri’ kemudian menjadi sebuah tindakan epistemis sekaligus imajinatif, dimana sang seniman merangkai ide-ide besar yang ada pada seniman lain, selanjutnya berproses dalam ruang diamnya untuk kemudian melahirkan apa yang harus dia berikan kepada dunia sebagai karyanya.

***
Tindakan ‘mencuri’ dalam perspektif itu harus dipunyai oleh setiap seniman. Salah satunya adalah musisi. Illo Djeer musisi kelahiran Manggarai yang sementara ini menetap di Jakarta dalam kelas berbagi edisi musik etnik Manggarai di Rumah Kreasi Baku peduli pada Rabu, 11 Oktober 2018 menggarisbawahi itu sebagai salah satu elemen penting dalam berkarya.

Musisi jebolan sastra Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa musisi Manggarai hari ini tidak dapat menghindari pengaruh musik eropa, namun demikian bukan berarti musisi Manggarai kehilangan keetnisannya sebagai Manggarai.

“Saya sendiri bahkan tidak dapat meletakkan karya-karya saya sebagai musik etnik Manggarai, walau menggunakan bahasa Manggarai. Karena proses kreatif bermusik saya dipengaruhi dengan semua jenis dan aliran musik. Semua jenis dan aliran musik saya suka’’ akunya.

‘‘Misalnya, ketika saya masuk dan bergabung dalam komunitas musik keroncong Toegoe, saya harus dapat menyesuaikan diri dengan langgam musik keroncong Toegoe. Saya mau bergabung dengan komunitas musik ini selain karena musiknya, juga karena sejarahnya. Dalam hal-hal tertentu musik keroncong bersinggungan dengan pengalaman bermusik masa kecil saya ketika masih di Ruteng”

Namun demikian, sebagai musisi yang secara genetik lahir di Manggarai, pengetahuan dan perpesktif tentang musik etnik Manggarai adalah pedoman arkaik yang senantiasa dipegangnya.

Menurutnya, musik etnik Manggarai adalah musik dengan notasi dasar pentatonis Manggarai yang syair-syairnya berisikan tentang budaya dan tradisi Manggarai yang dalam penyajiannya dinyanyikan dengan menggunakan bahasa daerah Manggarai serta diiringi dengan alat musik tradisional Manggarai.

“Dasar mesti kita pegang, musik pentatonis adalah musik yang menggunakan 5 nada dalam satu oktafnya. Di Maggarai itu ada musik pentatonis di sebagian dere serani” jelasnya.

Dalam kelas berbagi yang dihadiri puluhan peserta lintas komunitas dan sekolah itu, pentolan Keroncong Toegoe ini memainkan musik benggong sebagai misal. Diiringi petikan gitar Djeer menyanyikan sekuplet “Benggong  mbere  lele   benggong  hos tiga benggong rangkang lada benggong”

“Ini salah satu lagu etnik Manggarai, karena menggunakan notasi pentatonis Manggarai” akunya. Namun, kesulitan dan sekaligus keterbatasan musisi Manggarai hari ini, menurut Djeer bahwa etnisitas musik Manggarai sudah hampir hilang. Perjumpaan yang berulang dengan musik-musik etnik daerah lain termasuk musik barat secara organik membuat musisi mau tidak mau harus beradaptasi.

“Kita sebenarnya masih punya peluang untuk mengembangkan itu, hanya persoalan kita hari ini adalah apakah kita mau berlatih secara tekun dan terus menerus atau tidak. Menghidupkan musk etnik memang tidak mudah, karena butuh ketekunan” katanya.

Pilihan yang paling ideal hari ini adalah mengawinkan musik etnik dengan musik barat dan jenis musik lainnya kemudian menjadikan itu sebagai kekhasan masing-masing musisi.  “Itu tidak buruk, bukan tidak baik. Itu bisa menjadi ciri khas tersendiri. Tidak mengapa kita menjadi berbeda. Sebab itulah yang menjadikan kita punya ciri khas tersendiri” lanjutnya.

Hari ini, Djeer menambahkan, belajar musik bukan menjadi tantangan yang sulit. Terdapat banyak kemudahan yang bisa diperoleh mulai dari proses sampai pada publikasi karya. Yotube misalnya dapat menjadi sarana belajar yang baik. Bahkan melalui media yang sama bisa publikasikan karya-karya kita.

“Pesan saya, kita harus berkarya. Sebagian mungkin tidak menyukai karya kita, namun sebagian yang lainnya menyukainya. Terlepas dari orang suka dan tidak suka, yang penting kita sudah berkarya. Dan dengan karya, kita memberi jejak kepada masa depan”

***
Akhirnya, kembali mengutip Picasso, semua anak adalah seniman. Masalahnya adalah bagaimana tetap menjadi seorang seniman setelah ia besar nanti. Sebab untuk tetap menjadi seniman, semisal menjadi seorang musisi, seorang seniman harus selalu tewas dalam perjumpaan yang berulang dengan ide dan karya seniman sebelumnya dan atau seniman di sekitarnya. Jadilah ‘pencuri’ sebab seniman yang baik itu mencuri. Seperti Picasso, yang sepanjang rentangan tahun 1907 sampai 1909, dengan berani ‘mencuri’ figur manusia dari patung-patung Afrika  kemudian dibaurkan dengan gaya lukisan-lukisan pascaimpresionisme. Lahirlah kemudian apa yang disebut sebagai kubisme a la Picasso. (fm-kbs) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here