(Cerpen) Aku Hanya Ingin Mencintai-Nya!

0
243
Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Gerimis yang menemani malam sudah tersapu oleh rangkulan mentari. Angin dingin pun telah berubah menjadi hangat dan mulai menghembus di sekelilingku. Daerah dingin bukan lagi hal yang menakutkan bagiku. Nyatanya aku pun nyaman merangkai dimensi kehidupan di sana.

Hampir satu jam lebih aku nongol bersama keempat temanku di sebuah warung makan khas Padang. Saat itu tiga tahun yang lalu, kami duduk sambil bercerita merencanakan masa depan kami masing-masing. Tesa sudah pasti akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi di pulau Jawa. Tesa memang punya niat sejak kecil menjadi  perawat yang akan melayani pasien di pedalaman dan pelosok negeri ini. Tujuannya sederhana agar semua masyarakat kecil dapat mendapat pelayanan kesehatan yang maksimal. Dia tidak mau menjadi perawat yang hanya mau cari gampang ditugaskan di rumah sakit mewah lalu mendapat gaji seenaknya tanpa sebuah dedikasi dan pengorbanan yang lebih. Untuk menjadi seorang perawat memang tak begitu sulit bagi Tesa sebab orang tuanya boleh dibilang sangat mampu secara ekonomi.

Hal ini berbeda dengan Yanto yang sejak kecil juga memiliki komitmen menjadi polisi tetapi orangtuanya tak punya banyak duit untuk bisa mengisi amplop di balik meja. Ayah dan ibunya hidup dalam keterbatasan yang cukup rumit. Dia terlahir dari keluarga petani miskin yang menggantungkan seluruh hidup dari hasil jualan arak. Namun pohon lontar yang sempat berjejer di kebunnya itu sudah dibabat habis oleh aparat keamanan karena beberapa orang mengeluh dan menuduh kalau air dari pohon itulah yang menimbulkan keresahan dan bahkan kekerasan di masyarakat. Impiannya pun terkubur oleh kenyataan hidup yang sedikit tidak menguntungkan, apalagi ayahnya sudah sakit-sakitan. Dia tak tahu ke mana arah kakinya harus mengayun.

Kalau Romy lain lagi. Cowo bertubuh mungil yang satu ini selalu adu mulut dengan Yanto karena dia selalu mati-matian ingin menjadi guru PNS. Walaupun otaknya keropos tapi kepercayaan dirinya bukan main. Dia sepertinya tidak takut dengan kisah banyak guru honorer yang sering dibiarkan terlantar dan tidak digaji oleh pemerintah.

“Sudah banyak cerita sedih yang menunjukkan bahwa jadi PNS itu susah di zaman ini, Rom. Kamu harus ada orang dalam,” kata Yanto.

“Ya saya tau, Yan, tapi mau bagaimana itulah sistem yang ada dalam birokrasi kita, dan kita semua, termasuk kamu juga tidak akan pernah menang melawan sistem itu, ya kan? Biar sampai mati tidak jadi PNS juga tidak apa-apa, yang penting saya mengajar dengan hati untuk murid-murid saya nanti,” kata Romy tegas.

Jika Tesa mau jadi perawat dan Yanto ingin jadi polisi, dan Romy mau jadi PNS, Samuel sendiri justru menjadi bingung dengan pilihan hidupnya. Dia memang pernah bercita-cita menjadi seorang politisi yang bekerja bagi kepentingan rakyat kecil. Namun seiring lajunya waktu ia pun menjadi muak dengan dunia politik. Sebab beberapa bulan sesudahnya, hampir setiap detik, menit, jam, di semua media baik elektronik maupun cetak selalu diberitakan beberapa pejabat yang terkena operasi tangkap tangan karena mencuri uang rakyat. Ia sepertinya tidak mau jika satu waktu dirinya pun dicap sebagai pencuri kelas kakap yang pernah ada dalam sejarah politik di negeri ini. Namun bagiku, Samuel temanku itu punya pontensi menjadi politisi yang baik jika ia tetap teguh dengan dirinya. Saya tahu kalau dia itu tipe orang yang berani melawan sistem dan kemapanan, termasuk pula KKN.

Barangkali itulah remah-remah cerita kami, aku dan bersama beberapa sahabatku lima tahun yang lalu, sebelum kami akhirnya berpisah satu dengan yang lain.

********

Aku sendiri adalah Jasmin. Seorang gadis yang disukai banyak pria karena berparas cukup cantik. Aku dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga sederhana namun diselimuti oleh cinta dan kebahagiaan. Keluarga bagiku adalah harta yang dihadiahkan Tuhan yang tak pernah tergantikan oleh apapun.

Beberapa sahabatku bilang aku ini termasuk tipe perempuan sedikit cerewet dan suka dengan hal-hal aneh. Kepribadian ini menyenangkan bagiku. Memang sedikit benar kalau dibilang cerewet, tetapi cerewet untuk hal-hal yang baik. Semua sahabatku mengharapkan agar suatu waktu aku harus menjadi seorang aktivis yang barangkali bisa menyuarakan ketimpangan yang tengah terjadi di masyarakat. Seperti kekerasan terhadap perempaun dan anak-anak. Tapi jujur, itu bukan yang kuinginkan. Bukan karena aku mau tutup mata dengan penderitaan kaum perempuan tetapi aku hanya mau bersuara lewat alunan doa-doa kecilku dari balik tembok biara.

Memakai jubah panjang memang impianku sejak kecil. Namun niatku ini sangat berseberangan dengan apa yang terbungkus dalam benak orang tuaku. Mereka tidak ingin jika aku harus memilih hidup di jalan sunyi. Apalagi aku termasuk anak perempaun tunggal dari dua bersaudara dalam keluargaku. Berulangkali ayahku bilang aku akan dicoret dari daftar anak-anaknya jika aku harus hidup membiara. Aku sendiri kadang tidak percaya kalau aku pantas tuk menerima rahmat itu. Tetapi itulah yang terjadi dengan diriku. Aku tidak sanggup menipu semua perasaan yang kumiliki hingga saat ini dan nyatanya aku menjadi seorang suster.

Sebenarnya jembatan cinta antara aku dengan pria yang tersalib itu sebenarnya mulai terbentuk di suatu sore yang senjanya tak tampak. Yang sedikit ada hanya gumpalan-gumpalan kabut yang sebentar lagi kuasa hujan akan segera menghapusnya. Sore itu, aku keluar dan menikmati buih hujan dalam kesendirian. Lama aku menikmati suasana itu.

Di tengah kemegahan itu aku berpapasan dengan seorang perempuan tua bertundung putih. Sambil menunjukkan sebingkis senyum, ia menyapaku lembut lalu meninggalkanku dan berjalan terus ke sebuah Gereja di ujung jalan itu. Tanpa banyak pertimbangan aku pun membuntutinya dari belakang. Setelah tiga menit berselang, suster tua itu mengajakku masuk ke bagian samping Gereja atau tepatnya di sakristi. Tempat itu indah dan teduh. Aku sempat diam sambil memperhatikan sejumlah gambar yang terpajang rapi di dinding tembok itu. Namun mataku pun mulai berkaca-kaca ketika sorot mataku tertuju pada gambar seorang pria yang digantung tak berdaya pada salib itu.

“Aku haus!” Itulah sepenggal kalimat yang siang malam menemani kesendirian-Nya. Sontak aku bertanya pada perempuan tua itu. Tak banyak penjelasan, suster tua itu hanya bilang kalau lelaki yang tersalib itu sedang haus akan cinta.

Kami berdua meninggalkan gereja itu saat hujan sudah mulai reda. Sebagian air mulai menggenangi badan jalan. Di beberapa titik kelihatan seperti danau. Timbunan sampah berserakan sepanjang jalan. Baunya pun menyengat hidung. Memang beginilah kualitas jalan di tempatku. Kondisinya yang rusak berat tanpa got membuat kecelakaan menjadi sangat mudah dan orang yang melintasinya selalu dalam ancaman maut. Hal seperti itu memang bukan barang baru lagi.

Banyak orang yang melihat kenyataan ini termasuk orang-orang penting yang duduk di dewan, akan tetapi tetap saja seperti ini dari tahun ke tahun. Aku dan suster tua itu berjalan dengan sangat hati-hati. Namun, “Aku haus!” Kalimat itu terus kuingat dengan sangat jelas hingga aku tiba di rumah.

Hari demi haripun rasa cintaku mulai tumbuh seiring tumbuhnya usiaku. Di usiaku yang ke delapan belas tahun rasa hausku pada-Nya seakan memuncak. Memang sejak pertama kali aku masuk ke sakristi wajahnya yang tersalib itu selalu membayangi wajahku. Sampai-sampai aku tidak bisa menghindariya. Jika memandangnya hatiku terasa damai dan lega. Dia selalu begitu baik padaku ketika aku bersua dengan situasi rumit. Jujur aku bahagia bersamanya.

Tiba satu saat dimana aku mengutarakan niatku pada kedua orang tua dan kedua saudara kecilku.

“Ayah aku ingin pergi. Aku ingin membagikan cinta bagi Yesus yang tersalib. Aku mohon bapa dan mama memberi restu!

“Apa? Pergi? Tidak Jasmin! bapa dan ibumu tidak akan mengijinkanmu. Kenapa kamu harus mengecewakan ayah dan ibumu. Seorang Jurnalis atau guru adalah harapan kami, bukan di biara!” tegas ayahku.

“Ayah aku mohon, karena ini demi kebahagiaanku! Aku hanya ingin merasakan dan melayani-Nya. Aku hanya mau merasakan haus bersamanya. Hanya itu ayah.”

Ayahku mulai diam dan tak ada kata yang keluar lagi. Beberapa saat kemudian dia menggeleng kepalanya pertanda bahwa permintaanku ditolak. Aku terus meyakinkan ayahku sambil meneteskan air mata.

“Ayah, kamu masih punya dua saudara kecilku. Mereka tidak akan membuat kesepian dan mereka yang menjadi masa depan ayah. Ayah, aku memberikan diri pada-Nya dan Ia pasti memberikan yang terbaik buat keluarga kita. Ayah, Tuhan tidak pernah lupa bagi orang yang memberi dengan hati.” Mendengar ucapanku itu, air matanya tak terbendung jatuh membasahi pipinya sambil memeluk tubuhku erat.

Pagi itu cerah sekali. Tak ada awan yang menutupi lagit. Waktu yang kunantikan pun tiba. Pagi menjelang siang itu aku harus meninggalkan orang tuaku dan memulai hidup baru. Aku tahu ayah dan ibu serta adik-adikku sangat terpukul dengan kepergianku. Namun semuanya itu harus mereka alami sebab demi kebahagianku. Aku dijemput oleh seorang suster dari biara tempat tujuanku saat ini.

Saat itu ibuku memilih untuk tidak keluar kamar. Dia duduk menyendiri sambil menggenggam rosario di tangannya. Kedua adikku pun sama. Mereka seakan tidak peduli dengan lalu-lalang dan teriakan anak-anak seumuran mereka di luar rumah. Hanya ayahku sempat mengantarku sampai di bibir pintu rumahku sambil meneteskan air mata. Aku mengerti kalau itu semua adalah air mata ketakrelaan. Pilihan hidup kadang butuh sakit hati dan air mata.

********

Impianku telah menjadi kenyataan. Kalau dulu, tiga tahun yang lalu sahabatku memanggilku Jasmin, sekarang ada kata baru di depannya yakni suster Jasmin. Memang demikian!

Hidup membiara memang pilihan yang menantang tetapi membahagiakan jika menjalani dengan penuh sukacita. Kebahagiaan itu pula selalu ada bagi orang yang memberi diri pada itu. Hal tersebut yang paling kurasakan saat ini. Aku menyadari jika, kebahagiaanku ini bermula dari tetes-tetes air mata yang jatuh membasahi pipi kedua orangtua serta kedua adik kecilku lima tahun silam. Maka aku hanya mau titipkan kado ini tuk mereka yang telah meneteskan air mata demi kebahagianku.

Yang terkasih,

 Kado-kado yang kubawa

dan kujaga dalam sajak doaku

Aku mencitai kalian semua, Ayah, Ibu dan adikku berdua yang terganteng. Saat kalian membaca pesan ini, itu berarti aku sudah pergi dan bukan lagi milik kalian yang seutuhnya. Aku harap kalian bahagia dengan pilihanku. Tidak usah merasa kehilangan atas kepergianku, sebab kalian semua adalah rosario yang selalu kukalung di leherku, dan bahkan setengah dari kalbuku masih dan tetap dihuni kalian. Kisah yang dirangkum selama 18 tahun adalah kisah yang tak akan pernah kudapat lagi ‘tuk kedua kalinya. Kisah ini akan kusebut abadi, yang tak lapuk oleh waktu dan terkikis oleh badai. Kalian semua adalah permata jamrud di khatulistiwa yang tetap menjadi pawang-pawang pada tapak di mana aku menapak. Kalian semua adalah bagian dari jati diriku.  Berilah senyum untuk aku yang berharap kebahagiaan. Sayang kalian semua.

Yang menulis

Suster Jasmin

Malam pelan-pelan menghening sedikit lagi terlelap di selimutnya. Kantuk sudah padat menumpuk mataku. Pesan yang kutulis barusan sudah selesai.  Di hadapanku hanya ada selembar foto yang baru kubuka. Itulah foto keluarga kecilku. Memandang foto ini memang sudah menjadi kebiasaanku sebelum mataku tertutup hingga fajar membangunkanku pada hari esok. Malam ini pun sama. Foto itu sudah kulihat dan kini saatnya tuk berdamai dengan malam. (*)

Marsel Koka

*Penulis adalah Frater Marsel Koka, RCJ dari Rio-Riung Barat, Kabupaten Ngada. Saat ini penulis tinggal di Biara Rogasionis, Maumere-Flores.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here