Vilda, Siswi SMAN 2 Komodo yang Ketagihan Menenun

0
564
Kasilda Ndiki atau Vilda memamerkan salah satu kain tenun Songke karyanya di Rumah Tenun Baku Peduli, Dusun Watu Langkas, Senin, 24 September 2018/Foto:AIB

Kasilda Ndiki mulai menyentuh alat tenun sejak masih cilik. Karena hidup dalam lingkungan penenun di kampung halamannya, ia pun ikut tertarik untuk melakukan dan melestarikannya.

Kasilda Ndiki akrab disapa Vilda adalah puteri bungsu dari lima bersaudara untuk pasangan Lorensius Weto dan Maria Suju. Siswi SMAN 2 Komodo ini berasal dari Desa Munting, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat. Usianya baru menginjak 18 tahun pada 9 April 2018.

Vilda mengenal tenun tradisional sejak balita. Ibunya dan beberapa tetangga di kampung halamannya mengisi sebagian waktu dalam kehidupan mereka untuk menenun kain Songke Manggarai.

Ia meninggalkan kampung halamannya dan menetap sementara di Dusun Nggorang, Kecamatan Komodo untuk bisa melanjutkan pendidikan di jenjang sekolah menengah atas. Meski begitu, ia tidak meninggalkan tenun.

Pada Jumat, 20 September 2018, Vilda menyambangi Rumah Tenun Baku Peduli yang berlokasi di Dusun Watu Langkas, Kabupaten Manggarai Barat. Remaja berambut panjang ini mencoba peralatan tenun di museum mini dengan didampingi dua penenun, Erni dan Herli.
Kain tenun yang sedang dikerjakan Erni masih separuh jadi. Ia duduk di dalamnya, memangku untaian benang yang telah disusun di dalam perlengkapan alat menenun, kemudian kedua tangannya mulai menyusun benang motif. Setelah itu, tanpa komando, Vilda memegang dua ujung mbira lalu mengayunkannya dengan keras ke arah untaian benang yang telah disusun di benang dasar. Sesi ini bertujuan agar ikatan benang motif ke benang dasar semakin kuat.

Ia mengaku sudah mulai belajar menenun saat masih duduk di sekolah dasar. Lingkungan sekitarnya lah yang membuat ia tertarik untuk melakukan itu. Ibu kandung Vilda, Maria Suju juga seorang penenun kain Songke. Namun, ia belajar menenun justru dari tetangganya, Benedita Damun yang juga punya hubungan kekerabatan dengannya.

“Mama dulu tidak bisa ajar saya karena sudah tua. Jadi saya diajar oleh tanta,” aku Vilda kepada Flores Muda.

Awalnya, ia hanya melihat-lihat saat Benedita Damun menenun. Karena melihat ketertarikannya itu, Benedita kemudian melatihnya. Setelah menyentuh alat tenun dan berlatih, Vilda mengaku ketagihan.

“Setiap hari saya ke situ terus. Dia lalu melatih saya mulai dari cara dasar menenun sampai ke membuat motif.”

Vilda terus mengasah kemampuan menenunnya sampai tamat sekolah dasar. Saat dianggap cukup bisa, sang ibu kemudian menyuruhnya menenun kain tenun jenis Surak yang asal-muasalnya dari Kampung Todo, Kabupaten Manggarai. Teknik dasar menenun Surak lebih sederhana dibandingkan tenun Songke pada umumnya. Jika fokus, ia mampu menyelesaikan satu sarung tenun Surak hanya dalam satu minggu.

“Hasil tenun pertama saya selesai, mama bilang jangan dijual tapi untuk saya pakai sendiri,” ucapnya.

Vilda mempraktekkan cara menenun di Rumah Tenun Baku Peduli, Dusun Watu Langkas, Senin, 24 September 2018/Foto: AIB

Memasuki kelas 3 sekolah menengah pertama (SMP), ia telah lancar menenun untuk motif Surak, ia kemudian mulai belajar membuat motif kain Songke. Vilda memulai dari yang paling mudah yakni motif Nggolong dan Teku. Hasil tenunannya tersebut kemudian disimpannya di rumah.

“Selesai yang itu juga, mama bilang jangan dijual dulu. Jadi hasil kain itu satunya saya bawa ke Labuan Bajo, dua disimpan di rumah, dan satu untuk nenek. Saya kasih nenek supaya dia ingat saya,” bebernya bersambung tawa.

Ia menuturkan, ia telah jatuh cinta untuk menenun dan ingin mengetahui lebih banyak tentang tenunan Songke Manggarai. Vilda sangat ingin mempelajari cara menenun semua motif Manggarai.

Saat inipun, ia telah mencoba menjual hasil tenunannya. Setiap kali berlibur ke kampung halaman, Vilda mengisi waktu liburannya dengan menenun. Hasil penjualan kain tenunnya tersebut membuatnya senang karena bisa mendapat uang tambahan dari hasil jerih payahnya sendiri. Hal tersebut pun yang membuatnya berpikir untuk tidak berhenti menenun.

“Saya bisa tenun kain Songke motif nggolong dan teku. Satu bulan libur (semester) kemarin, saya bisa hasilkan tiga kain Songke motif begitu. Dapatnya lumayan meskipun harganya lebih murah karena proses menenun motifnya lebih mudah. Saya jual semua kain itu. Waktu saya pas mau balik lagi ke Labuan Bajo, saya tidak minta uang di orang tua lagi,” kata dia berbalut senyum bangga.

Menurut dia, menjaga kelestarian kain tenun Manggarai sangat penting karena kain tenun Manggarai adalah salah satu nilai budaya daerah. Ia berharap, keberadaan tenun Manggarai tidak akan pernah mati.

“Menurut saya, kita harus bisa mempertahankan motif kita sendiri. Supaya tetap maju dan ke depannya tidak akan hilang,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here