Teruntuk Rindu

0
136
Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Dear rindu,

Apa kabarmu? Maafkan aku karena harus menulis surat ini atas nama risau, resah, dan kecewa. Jauh darimu sepertinya membuatku merasa gelisah. Entah karena apa, tapi itulah yang sesungguhnya terjadi. Engkau menghilang dan tak lagi meninggalkan jejak. Rindu ini kian menumpuk kurasa. Tanpa kabar darimu sepertinya makin membuatku mengerti bahwa, kepergianmu hanya akan menambah pemahamanku tentang betapa berartinya sosok gadis sepertimu untuk ukuran pria sepertiku.

Rindu,
Ada satu hal yang sering aku banggakan ketika denganmu. Yeah, kau selalu baik untuk ukuran sepasang hati yang saling menyukai. Tapi sejak hari ini kenyataan itu sudah tidak lagi sama. Kita bukan lagi sepasang hati yang saling menyukai, tapi sepasang hati yang saling menjauh. Kau pergi dengan meninggalkan tanya. Sepotong kalimat di akhir pertemuan kita, membuatku selalu berpikir bagaimana mengartikannya. Sementara kau bungkam dan akhirnya menghilang.

Rindu,
Hari ini, aku sedikit mengingat bahwa tidak semua hal yang baik perlu dingat. Tidak semua hal indah perlu untuk dikenang. Kadang hal-hal semacam itu hanya perlu kita lipat ataupun kita remas dan menyimpannya di tempat paling aman dan tersembunyi. Aku tidak mengatakan bahwa kenangan itu buruk untuk dikenang. Tapi aku hanya mengingatkan bahwa ada tempat yang lebih layak untuk kenangan semacam ini.

Rindu,
Aku menulis surat ini bukan karena aku tidak lagi menyukaimu. Aku hanya kecewa. Setiap langkah yang panjang pasti perlu waktu untuk mengambil jeda dan beristrahat. Bukan berhenti! Begitu pula dengan sebuah hubungan, kita perlu mengambil jeda. Ingat, ini hanya jeda, bukan berhenti.

Mungkin kabut di awal bulan ini, sudah menjadi tanda bahwa akan ada hujan yang panjang. Tapi tenanglah, kita masih punya payung untuk menghindari hujan.

Ini hanya jeda yang aku harap tidak perlu terlalu lama. Tolong camkan itu! Aku berharap semoga nanti kita bisa kembali menikmati secangkir kopi di beranda rumahmu. Aku rindu semua hal. Termasuk rindu dengan bola matamu yang selalu teduh. (*)

Kevhin Marden

*Kevhin Marden, mahasiswa Akuntasi semester lima di Universitas Nusa Cendana Kupang. Suka menulis puisi dan minum kopi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here