(Cerpen) Rapuh

0
113
Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Noda hitam yang kau tumpahkan, bintiknya masih di sini. Di penghujung nafasku. Di sini, gelisah jadi teman hati dan sepi alur siang hingga malam. Kenapa kau mesti hadir jika menjumpamu hanya membuat aku terpasung dalam penyesalan abadi?

Sudah tiga hari Tania kelihatan murung. Dari raut wajahnya terbaca kalau ia sedang dilanda getir yang dalam. Ia sedang bersedih bersama waktu dan kesedihan itu sangat berat sehingga ia tidak dapat melepaskan diri darinya. Beberapa kali ia tertunduk lesu di pojok kapela sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi lesungnya. Menangis mungkin cara terbaik untuk hatinya bisa berbicara, di kala bibirnya tidak bisa lagi menjelaskan rasa sakit yang ia rasakan. Benar bahwa menangis memang bukan solusi tapi terkadang menjadi obat solusi yang cukup ampuh.

Mungkin semua derai air matanya itu datang dari hati yang tersakiti dan bukan dari matanya. Sudah berulangkali Anne teman Tania berusaha mengajak dia bercerita ataukah bertukar pendapat tentang apa yang sedang ia rasakan, tetapi ia tetap memilih diam dan menyendiri bersama sunyi. Usaha Anne itu ibarat menjaring angin atau lebih tepatnya sia-sia. Baru kali ini dia berubah seperti itu.

Beberapa waktu lalu Anne sempat mendengar kalau Tania sedang membenci seseorang. Tidak tau siapa orangnya dan apa alasannya. Tania adalah cewe yang sangat cair dan ramah. Ia suka membahas persoalan politik dan bicara politik walau sering tidak masuk akal. Tak heran kalau sewaktu-waktu ia berlagak seperti pejabat teras yang bawaannya banyak bicara walau kadang nihil realisasinya. Hari-hari kini terlihat memang sesuatu sedang membuncah jiwanya sehingga ia tampak seperti tak merasa sedang bernafas dan hidup di bumi ini.

Jam yang bertengger di dinding sudah berdiri tegak di angka duabelas. Malam sudah larut. Jam tidur sudah lewat. Suasana asrama semakin hening. Aroma malam pun begitu terasa. Di luar rumah hanya beberapa jangkrik yang masih bernyanyi menghibur beberapa sahabatnya yang sudah terlelap bersama malam. Di kamar paling ujung cahaya lampu masih menyala. Kamar itu milik Tania si cewe humoris berlesung pipi. Sejak beberapa hari ini Anne turut resah dengan keadaan Tania. Anne ikut resah karena sahabatnya Tania belum mengungkapkan misteri di balik diamnya itu. Malam itu pun Anne ikut bergulat dengan perasaan temannya.

Anne cewe hitam manis ini memang cukup dikagumi oleh sebagian penghuni rumah karena kebaikan yang ia tunjukkan kepada mereka. Ia memiliki hati yang besar dan selalu punya waktu untuk mendengar keluhan dari sesama sahabatnya. Beda dengan Tania yang selalu banyak bicara, Anne memang seorang cewe pendiam namun memiliki keistimewaan yang luar biasa. Ia adalah sahabat sejati untuk semua penghuni asrama. Keberadaan Anne membuat sahabat-sahabatnya mengerti dan belajar bagaimana berempati terhadap aku yang lain.

Kehadiran Jordan memberikan definisi apa artinya menjadi sabahat sejati dalam hidup bersama. Mereka menjadi sadar bahwa sejati adalah dia yang selalu sanggup berada di sisimu ketika kamu memerlukan sandaran, walaupun saat itu mereka lebih bisa berada di tempat lain yang lebih menyenangkan. Itulah sahabat. Sederhana sekali.

Di malam yang hampir tak ada bintang itu, Anne tahu kalau Tania masih melotot di kamarnya. Tak tanggung-tanggung Anne mengayunkan langkahnya menuju kamar yang ditempati Tania. Tak lama berselang Tania membuka pintu kamarnya dan mempersilakan Anne masuk. Belum sempat duduk Tania lebih awal membuka percakapan.

“Ann, kamu belum tidur?”

“Ya belum, Tan dan memang aku takkan bisa tidur kalau kamu belum tidur,” jawab Anne. “Bagaimana mungkin aku bisa tidur sedangkan sahabatku sendiri sedang bergulat dengan kepedihan di jiwanya,” lanjut Anne dengan tegas.

“Ann, terima kasih banyak atas perhatianmu. Aku sangka, aku sendirian saat ini,” cetus Tania.

Dua menit berselang Anne berkata. “Tan, dukamu adalah dukaku, deritamu adalah deritaku dan derita kita bersama di asrama ini. Ya kan?”

“Ya, benar sih Ann, tapi….”

“Tapi apa?”

“Ann, ini persoalanku bukan persoalan kita!”

“Ah, sudahlah!” Anne menyambar. Sambil menepuk bahunya, ia berkata, “Tan, satu hal yang harus kamu tahu yakni, di sini, selalu ada hati yang siap membahagiakanmu. Aku siap menampung semua resah hatimu. Kita, aku, dan dirimu akan sama-sama berjuang membebaskan noda yang membelenggu jiwamu!” Tania terdiam dan menangis sejadi-jadinya sampai-sampai Betrix, penghuni kamar sebelah terbangun dari mimpiya.

Di kamar berukuran sedang itu Anne duduk agak menyamping sedangkan Tania masih menunduk sambil sesekali memandang sebuah salib Yesus yang terpampang di dinding kamarnya. Sejak saban hari, salib itu memang menjadi saksi bisu pergumulan Tania. Kali ini, dari sorotan matanya terbaca kalau Tania sudah cukup siap tuk menumpahkan semua membelenggu jiwanya ke Anne sabahatnya itu.

Dengan suara yang masih terbata-bata Tania berketus, “Anne, yang paling berbahaya di dunia ini adalah mereka yang mendatangi kita dalam wujud malaikat. Kita akan terlambat menyadari bahwa mereka sebenarnya setan yang sedang menyamar.”

Sejumput pernyataan itu membuat Anne kaget.

“Kenapa kamu bilang begitu Tan?”

“Ya benar Ann, hal itulah yang membuat saya bersedih dan terpuruk dalam kesendirian hingga saat ini, Ann.”

“Tapi apa yang membuat kamu sedih, Tan?” Tanya Anne.

“Saya malu, Ann. Saya menyesal pada dunia, tapi… ah sudahlah, Tan!” sekali Anne menyambar.

Anne berusaha untuk menyenangkan batin Tania. Setelah menarik nafas yang dalam Anne mulai meyakinkan Tania dengan kata-kata bijaknya.

“Tan, bukankah kesedihan itu hanyalah lembaran-lembaran buram yang sempat dan memang harus ada dalam buku kehidupan kita? Semua orang pasti pernah bersedih, Tan. Namun yang harus kamu lakukan adalah berdamai dengan semuanya dan kalau boleh membuangnya jauh-jauh lalu menggantinya dengan lembaran baru. Aku mengerti kamu lagi bersedih, namun itu bukan alasan bagimu untuk menyendiri dan apalagi menyerah begini, Tan.”

“Ya benar, Ann. Tapi… tapi kesedihanku ini takkan bisa diganti oleh apapun, Anne. Ini tentang hal yang paling berharga dariku,” demikian protes Tania, tegas.

Hembusan angin mulai masuk melewati sela-sela kamar. Dinginnya terasa menggingit di kedua pori-pori tubuh mereka. Anne belum mau menyerah dan dia terus menguatkan hati Tania, sahabatnya. Kali ini Tania pelan-pelan membuka misteri di balik kebisuannya. Sambil menggenggam tangan Anne, kata-katanya pun mulai mengalir.

“Ann, aku tahu bahwa kamu adalah sahabat terbaik yang pernah dan selalu kumiliki hingga hayat memisahkan kita, bahkan di surga pun kita sahabat. Boleh kan kuminta agar cukup aku dan kamu yang tahu tentang aibku ini? Jangan mereka Ann, apalagi orang asing di jalanan saja. Kumohon jangan,” pinta Tania.

“Ya, pasti Tan, akan kurapikan semua tentangmu di lemari hatiku, Tan,” sambung Anne.

“Terima kasih, Ann,” lanjut Tania.

“Ann, di sini hanya kita bertiga yakni: aku, kamu, dan malam ini.”

“Ya benar, Tan.”

Setelah menghela nafas yang dalam, Tania membuka hatinya.

“Ann, lima tahun yang lalu saya pernah bertemu seorang pria cukup tampan dan hari ini tepat lima tahun perjumpaan kami. Dulu, di tikungan jalan itu aku dan dirinya berpapasan, aku dan beberapa sahabatku dari arah timur sedangkan dia sedirian dari barat. Barangkali tiga menit kami basa-basi sebelum akhirnya kami berpamitan. Kami sempat saling senyum tapi sedikit malu-malu sebelum kami memperkenalkan identitas kami masing-masing.

‘Aku Sam,’ itulah yang nama dia bilang padaku sambil ia menyodorkan tangannya. Waktu itu aku seakan tak sanggup memandang wajahnya terlalu lama karena walaupun perkenalan kami belum seumur jagung tapi jujur, dia itu termasuk cowo yang kusukai.

Beberapa hari sebelumnya memang tetangga kami pernah bilang, kalau Sam itu baik dan sedikit ganteng, namun aku tak sepenuhnya percaya karena mataku belum menatap bola mataya. Namun bagai disambar petir, aku terkesima memandangnya sore itu. Seluruh aliran darah seakan berhenti sejenak sebab yang ada di hadapanku seorang yang cukup luar biasa. Bagiku, saat itu dia ibarat matahari yang menghapus mendungku. Begitu tepatnya.”

Sunyi semakin terasa. Ngantuk sepertinya tidak mau datang lagi. Tania sudah tak menangis namun masih terus berkisah. Anne agak sedikit bungkuk sambil mendengar dengan penuh konsentrasi kata demi kata ungkapan hati Tania yang mengalir bagaikan sungai.

“Ann, selama seminggu penuh wajah tampannya datang menumpuk di bola mataku. Sejak saat itu aku mulai menyadari bahwa aku selalu memikirkannya dan mulai mengira-ngira berapa lama dia berada di pikiranku. Kadang dia hadir bagai hantu, entah saat makan, saat jalan, saat les dan apalagi saat tidur itu sudah sangat pasti. Dia seenaknya merebut seluruh perhatianku tanpa beban. Pernah sekali di satu malam yang sunyi sekali, saat rembulan sudah terlelap dalam tidurnya aku memohon kepada pintu kamarku untuk tidak mengijinkan dia masuk menyusup di selimutku. Karena kehadirannya hanya akan membuat aku semakin tersiksa.

Malam berikutnya aku kembali membujuk bintang supaya bisa menghentikan langkahnya dan kalau boleh dia berdiri di depan halaman rumahku. Itu permintaanku, Ann. Tetapi semuanya tidak berarti karena bayangannya selalu lebih kuat dari apapun. Saat itu aku sungguh lelah meladeni hadirnya dalam seluruh deru nafasku. Aku tak tahu bagaimana perasaannya terhadapku saat itu. Aku kadang menyebut semuanya itu adalah cinta tapi bukan. Sebab cinta itu bukan sepaket perkenalan yang terbentuk tanpa proses. Semua harus butuh proses. Tapi, bukankah aku dan dirinya saat itu memang sedang dalam proses?

Suatu pagi langit begitu ramah pada bumi. Tak ada sedikitpun gerombolan awan putih menutupi molek tubuhnya sehingga birunya pun terlihat jelas di atas sana. Sejuk udara pun terasa harum menembusi tulangku sehingga aku memutuskan untuk mampir ke pasar di jantung kota itu. Aku tidak terlalu ingat hari apa saat itu. Tetapi yang pasti bahwa secara tak sengaja kami bertemu lagi di sebuah minimarket. Kami bicang tidak begitu lama, kira-kira tiga puluh menit. Di akhir pertemuan itu, kami memutuskan untuk saling bertukar nomor handphone. Sejak saat itu kami selalu saling kontak walau sedikit segan. Seiring lajunya waktu semuanya menjadi intens dan bahkan sangat intens.

Ann, berkomunikasi dengannya selalu kutunggu hingga membuatku candu. Kami akhirnya dipersatukan dengan apa yang dinamakan cinta. Sejak saat itu dia semakin tak segan tuk menceritakan semua kisah hidupnya dari awal hingga akhir, begitupun sebaliknya dengan diriku. Maka tak heran bila semua tentangnya, rapi tersusun dalam memoriku.

Rasa-rasanya seisi alam semesta hanya ada untuk menyatukan kami berdua. Lama tak mendengar kabarnya seolah-olah atap langit jatuh menimpa bahuku. Ketiadaan kabar darinya menjadi setitik luka yang hadir setiap hariku tanpa jeda. Bagiku dia adalah masa kini dan seluruh masa depanku saat itu. Kadang aku merasa lebih menjadi diriku sendiri ketika aku membaca sapaannya di layar hp-ku.”

Kali ini Tania memegang kepalanya lalau menunduk. Dia seakan tak mau lagi melanjutkan ceritanya. Namun Tania sadar bahwa hanya keberanian yang mampu membebaskannya. Ia mulai lagi walau berat.

“Ann, saat itu, senja Agustus sedikit demi sedikit memerah menemani kebersamaan kami di bibir tasik itu. Walau sebentar lagi pangkuan malam mulai menjelang, kami memilih ‘tuk tak mau pamit dari deburan ombak. Hujan yang sebenarnya tak mau turun sejak pagi, perlahan-lahan mulai membasahi rerumputan di sekitar kami. Di jalan raya beberapa kendaraan mondar-mandir lalu hilang. Di bawa sebatang pohon aku dan dirinya duduk tanpa kata sambil sesekali memandang lautan di depan kami. Saat itu aku menyadari bahwa di sana hanya kami bertiga yakni diriku, dirinya, dan kesunyian. Pekat mulai merayap perlahan-lahan. Sang surya yang menerangi bumi sepanjang hari pun mulai kembali ke pangkuan malam.

Hal yang sempat kukhawatirkan pun terjadi. Di sana bersama malam pekat kami pun tenggelam dan tenggelam begitu dalam. Di bawah langit yang keindahannya tak nampak saat itu dia katakan, semuanya akan baik-baik saja. Aku juga seakan mengilhami hal itu. Ah, betapa sakitnya semesta akan kami saat itu. Kabut tebal yang menghiasi langit seakan menjadi malu untuk merintikkan lagi hujannya. Kami pulang, setelah aku rapuh berkeping-keping.”

Tania terdiam dan berteriak semaunya.

“Ann, seiring lajunya waktu aku menemukan diriku dalam ketidakberdayaan. Pada akhirnya kami benar-benar terasing, dia pergi dengan kekesalannya, aku berbalik dengan segala penyesalanku. Semuanya telah menjadi kenangan pedih yang begitu mudah melekat.

Kepedihan itu akan muncul sewaktu-waktu, seperti hari-hari belakangan hingga subuh ini, Ann. Aku memang terlampau rapuh sampai bisa menitipkan hati dan seluruh yang kumiliki dengan semudah itu pada malam pekat. Aku rapuh setelah mengenalnya. Ini betul-betul menyakitkan, Ann, sebab sebagian tubuh sudah tak utuh dan kini sakit jiwaku jadi abadi.

Dulu aku berfikir bahwa kami pantas tuk saling mencintai secara berlebihan, tapi perasaan itu sungguh menipuku dan sebenarnya aku sedang diuji. Sebenarnya rasa cinta yang kumiliki hanya sebuah perasaan yang tidak boleh disentuh. Ini adalah cinta dengan cara yang jahat sebab kami berada di dunia yang berbeda. Ann, aku sangka aku bisa bersembunyi dari kesalahanku, tapi tidak dari penyesalanku. Kupikir aku dapat bermain dengan dramaku tetapi tidak dengan karmaku. Sejak saat itu seluruh sesalku adalah sesuatu yang selalu aku perbincangkan dengan Tuhan sejak pagi, siang hingga larut malam.”

Anne memang benar-benar sahabat yang baik. Dengan hati terbuka Anne sekali lagi bertanya padanya, “Tan, saya mengerti kamu memang sedang terluka dan biasanya hati yang terluka itu ibarat besi bengkok, walau telah diketuk berkali-kali tapi akan tetap sulit kembali menjadi bentuk asalnya. Tan, jatuhkanlah semua air matamu pada pedih itu, kemudian biarkan dia dibasuh oleh waktu. Benar bahwa kamu tak akan bisa mengubah kesalahan kemarin, tapi kamu akan bisa memulai sesuatu yang baru dengan berkaca pada kisah yang telah berlalu itu.”

Sekali lagi Anne menepuk bahunya dengan sebuah kalimat pendek, “Ann, semua orang jatuh dan bahkan begitu dalam tapi kita selalu punya kesempatan kedua yakni hari esok. Hanya komitmen dan niat yang tulus serta keberanian untuk kembali pada-Nya yang akan menjadi pintu pegampunan bagi kita, Tan. Kamu tahu kan kalau Tuhan itu Maha Rahim dan sumber kasih. Coba kamu lihat pemilik salib yang tergantung di depanmu itu. Tan, sebelum kamu jatuh, pemilik salib itu sudah mengangkat kita, Dia telah menghapus segala kebobrokan kita hingga dirinya jadi korban. Kamu belum terlambat ‘tuk bangun, kamu masih ada waktu. Namun satu hal yang mesti ingat kamu tahu bahwa kamu adalah kunci dari semuanya, bukan siapa-siapa. Kamu harus berani berjanji pada dirimu bahwa kamu selalu hati-hati dan mawas diri pada dunia. Ingat Tan, bahwa kesalahan terbesar ketika kita tidak pernah membuat keputusan!”

Malam sudah hampir hilang dan perlahan akan berganti menjadi subuh. Suara ayam pun mulai mengghiasi pagi satu demi satu dari segala sudut. Sedikit lagi fajar segera menampakkan wajahnya di balik bukit. Tania yang sedari tadi hanya tunduk sambil menangis perlahan-lahan mulai mengangkat wajahnya. Dia sudah sedikit lega menghadapi hari esok dengan penuh komitmen walau sesal hatinya masih akan memupuk di sana. Apa yang paling pedih dalam hidupnya sudah dia tumpahkan semua pada Anne dan malam menjadi saksi bisu di balik semuanya itu.

Deburan pedih yang sempat mengurung jiwanya pun pecah bersama malam pekat. Setelah beberapa menit terdiam, Anne menggengam tangan Tania sambil mengucap sebaris doa singkat mohon perlindungan Tuhan bagi sahabatnya itu. Malam sudah terjaga dan pagi telah tiba. Anne kembali ke kamarnya dan Tania terlelap dalam mimpinya hingga terik surya menyentuh kakinya. (*)

Marsel Koka

*Penulis adalah Frater Marsel Koka, RCJ dari Rio-Riung Barat, Kabupaten Ngada. Saat ini penulis tinggal di Biara Rogasionis, Maumere-Flores.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here