Upaya Mengembalikan Kepercayaan Warga NTT Melalui Pemimpin Baru

0
208
Gubernur dan Wakil Gubernur NTT terpilih Viktor B Laiskodat dan Josef Nae Soi saat kampanye di Labuan Bajo beberapa waktu lalu/Sumber: victorjosef.com

Saat ini, warga Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang bersukacita karena dipimpin gubernur dan wakil gubernur yang baru untuk lima tahun mendatang yakni Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi. Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi adalah pasangan yang baru dilantik oleh Presiden Jokowi di Jakarta pada tanggal 5 September 2018 lalu.

Pasangan Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi yang diusung  Partai Nasdem dan beberapa partai lain ini berhasil meraih suara terbanyak pada pemilu gubernur NTT bulan Juni 2018 lalu. Kepada pemimpin terpilih, tentunya tak sekedar menerima ucapan proficiat dari publik, melainkan harus dapat diimbangi dengan menepati janji-janji politik yang telah disampaikan di saat memaparkan program dan visi-misi di hadapan rakyat.

Sebagai pemimpin yang memiliki sikap rasional, harus mengandalkan kemampuan sendiri yang berarti berusaha menciptakan individu dan kelompok masyarakat yang produktif secara ekonomi dan efektif secara sosial agar menghindari suatu bentuk ketergantungan dalam proses pembangunan. Rakyat memiliki harapan besar, agar pemimpin mampu mengatasi berbagai jenis persoalan yang sering menjadi permasalahan pada kehidupan masyarakat. Terdapat berbagai masalah di NTT mulai dari tingkat pengangguran yang tinggi, tingginya angka kemiskinan, biaya pendidikan yang mahal, minimnya pembangunan infrastruktur, dan lain sebagainya yang telah terjerumus pada penderitaan rakyat.

Yang menjadi PR utama pemimpin baru adalah diawali dengan mengatasi tingkat pengangguran tinggi. Pengangguran tentunya tak lepas dari dua faktor, yaitu kemiskinan dan pendidikan yang belum mampu teratasi, hingga perlunya peranan pemerintah, agar mampu mengatasi persoalan tersebut di tengah kehidupan masyarakat. Karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah biaya pendidikan.

Dari segi paradigma pembangunan, manusia berfokus pada manusia itu sendiri sebagai inti dan sumber utama dalam pembangunan. Paradigma pembangunan manusia menekankan pembangunan manusia itu menjadi manusia yang utuh dan merdeka. Dalam artian secara ekonomi produktif dan secara sosial efektif.

Artinya, pembangunan infrastruktur harus diimbangi dengan pembangunan manusia, sebab kemajuan sebuah daerah bukan dinilai dari seberapa megahnya daerah itu secara fisik tetapi seberapa besar masyarakat dapat mencapai kehidupan yang sejahtera.

Salah satu bentuk pembangunan manusia adalah dengan meningkatkan peran dan substansi pada pendidikan sebagai wadah pembangunan di tengah spesifikasi tuntutan realitas. Sebagai pemimpin harus cermat membangun dunia pendidikan yang lebih baik dalam beberapa perspektif pembangunan, yaitu harus berorientasi pada kebutuhan masyarakat umum.

Pemimpin yang terpilih wajib berusaha untuk menjamin proses pemenuhan kebutuhan masyarakat akan inovasi dan keadilan sosial, serta pemahaman dan penentuan tujuan akan masa depan masyarakat berdasarkan kapasitasnya masing-masing.

Sebagai pemimpin baru harus memiliki komitmen teguh, yang berarti bertolak dari inti dan potensi masyarakat dalam merumuskan segala program pembangunannya berdasarkan kedaulatan, nilai-nilai, dan pandangan masyarakat atas masa depan mereka sendiri ketika mampu menjawab kebutuhan dan kespesifikan dari setiap keluhan masyarakat.

Hal ini sangatlah penting untuk dipenuhi, dimana faktor kepemimpinan, sangat menentukan dalam memberikan pelayanan yang adil, transparan, terbuka dan tidak berpihak kepada kepentingan individu atau golongan. Serta syarat intelektualitas dan wawasan kepemimpinan wajib mengharuskan pemimpin birokrasi yang memiliki visi yang jauh ke depan, demokratis, responsif, mendahulukan kepentingan umum, dan kemampuan untuk menggunakan sumber daya organisasi demi tercapainya tujuan bersama. (*)

Febriano Kabur

 

*Penulis akrab dipanggil Febriano Kabur.. Ia berstatus sebagai Mahasiswa Fisipol pada Ilmu Pemerintahan di Universitas Warmadewa Denpasar Bali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here